Al-Quds; Sekilas Sejarah dan Proyek Yahudisasi

Al-Quds; Sekilas Sejarah dan Proyek Yahudisasi

Berbagai siasat dan cara digencarkan Yahudi dan Zionisme untuk melanggengkan obsesi di Al-Quds dengan mengenyampingkan fakta perjalanan sejarah Arab di sana sejak masa Kan’an pertama 3150 SM atau yang dikenal dengan masa Pronzi dan dilanjutkan kemudian dengan peradaban Arab Islam yang semua itu menguatkan karakter dan identitas asli sejarah peradaban Al-Quds. Sejarah kuno Al-Quds menunjukkan Al-Quds adalah Islam dan Arab.

 

William Olbreit ahli arkeologi (1971-1889) menyatakan bahwa bentuk susunan tulang dan tengkorak manusia orang-orang Semit sudah ada pada masa batu pertengahan di Palestina sejak sekitar tahun 10000 SM, dari penelitiannya beliau menyimpulkan bahwa Semenanjung Arab menjadi pusat bertolaknya kedatangan penduduk Arab ke Suria, Palestina dan Irak sejak ribuan tahun, dan Amouriya, keturunan orang Semit, membangun kota Al-Quds sekitar 4000 SM. Kan’an sebagai penduduk asli Al-Quds juga merupakan keturunan Amouriya. Mereka tinggal di Palestina, bagian dari perbatasan wilayah Kan’an ketika itu.

 

Nama pertama bagi kota Al-Quds adalah kota Yabous dinisbatkan kepada kaum Yabousian yaitu satu kabilah atau kelompok kaum Kan’an yang tinggal di kota tersebut sejak tahun 3000 SM. Selanjutnya pada masa raja Malki Sadiq, Yabous dinamakan dengan Ursalem. Sedikit catatan, bahwa nama Jerusalem yang diberikan Kaum Ibrani atas Al-Quds pada dasarnya bukanlah nama Ibrani dan Yahudi. Perubahan menjadi Jerusalem yang dianggap sebagai bentuk dual (dua) dalam bahasa Ibrani adalah salah satu strategi yahudisasi Al-Quds yang selanjutnya kata tersebut dikaitkan dengan akidah Yahudi bahwa Jerusalem berarti dua tempat suci, suci bumi dan suci langit.

 

Rentang masa keberadaan Arab dan Islam di Al-Quds mewakili 67,8% sejak 3000 SM hingga 1917 M. Sementara lama pemerintahan Yahudi di sela-sela masa tersebut khususnya pada pemerintahan Daud dan Sulaiman kurang dari 1,5%, waktu yang sangat singkat, dan tinggal berdampingan dengan orang Arab.

 

Nabi Ibrahim mendatangi Palestina (1950 SM), selanjutnya anak beliau, Ishak tinggal di tanah Kan’an, dan anak-anaknya, Ya’kub juga tinggal di sana sebelum hjrah ke Mesir. Permulaan sejarah Yahudi kuno beriring dengan masuknya Kaum Ibrani yang keluar dari Mesir bersama Nabi Musa as (1260 SM) dan sebelum masuk ke Palestina, Musa dan Harun wafat. Yahudi masuk ke Palestina sekitar 1010 SM di bawah pimpinan Yusha bin Nun.

 

Kerajaan Yahudi berdiri di Palestina pada 1005 SM di bawah pimpinan Daud dan Sulaiman, namun sebagai kerajaan yang menebar kedamaian ke seantero penjuru bumi sesuai dengan ajaran agama Allah SWT yang mereka bawa, bukan kerajaan Yahudi yang melanggar ajaran-Nya. Kerajaan tersebut berlangsung tidak lebih dari tujuh puluh tahun, dan setelah Sulaiman as wafat, terpecah menjadi dua kerajaan kecil yang saling berselisih, di wilayah Utara bernama Israel yang selanjutnya dihancurkan Bangsa Asyuria dan di selatan bernama Yahuda yang dihancurkan oleh raja Nabucadnezar.

 

Al-Quds dalam masa yang panjang berada di bawah kekuasaan Persia, Romawi dan Islam yang berlangsung hingga abad ke duapuluh, dan setelah itu berada di bawah kekuasaan Inggris. Al-Quds tetap melestarikan peninggalan dan tradisi peradaban Islam dan Arab serta terbuka bebas untuk seluruh kaum dan agama, namun kebebasan itu hilang sejak pendudukan Yahudi, mereka mengepung Al-Quds dan membangun tembok rasial pemisah.

 

Penduduk Arab di Palestina sekarang terdiri dari orang Arab yang datang ke Palestina dan menetap di sana setelah pembukaan Islam pada abad ketujuh masehi. Sisanya adalah keturunan Arab beridentitas Palestina yang sejak awal menetap di sana, mereka tidak meninggalkan Palestina sejak 3000 SM. Bersamaan dengan pembukaan Islam, bahasa Arab menjadi lisan mereka dan nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan.

 

Kota Al-Quds dibuka Islam pada masa Umar bin Khatab ketika disepakatinya ‘Uhdah Umariyah (perjanjian Umar) antara Umar bin Khatab dengan Uskup Sophroniyus pada 15 H, yang mensyaratkan agar tidak seorangpun Yahudi tinggal di Elia (Al-Quds sekarang), hal itu karena track record Yahudi menyikapi perjanjian dan kesepakatan yang diberlakukan sejak peristiwa hijrah Rasul saw tidak menunjukkan fakta komitmen, justru pelanggaran dan pembangkangan (al ‘uhdah al ‘umariyah, Dr. Syauqi Abu Khalil, hal. 14). Perjanjian tersebut juga mengisyaratkan bahwa Yahudi hanya sekelompok kecil yang pernah ada di Al-Quds dan keberadaannya tidak diharapkan oleh penduduk yang pernah tinggal bersama-sama di sana.

 

Selanjutnya Al-Quds jatuh ke tangan pasukan Salib pada 1099 M, namun Salahuddin Al-Ayubi mampu memerdekakan kembali pada akhir abad ke dua belas (1187 M) setelah mengalahkan pasukan Salib di perang Hitthin, sebagai pembukaan Islam kedua setelah Umar bin Khattab.

 

Al-Quds terus berada di bawah kekuasaan Islam hingga runtuhnya Daulah Utsmaniyah dan pengambilalihan Inggris atas Palestina pada tahun 1916 M, setelah penandatanganan perjanjian Sykes Picot, untuk membagi Dunia Islam dibawah dua kekuasaan; Inggris dan Prancis dalam mensuport proyek Yahudi seperti pemukiman Yahudi terutama di wilayah Al-Quds. Proyek Zionis berkolaborasi dalam langkah pengambilalihan mandat dan pendudukan sebagian besar tanah Palestina dan wilayah barat Al-Quds pada 1948, kemudian pendudukan secara total pada 1967. Dalam perspektif yang lebih spesifik, penguasaan Yahudi terhadap Al-Quds adalah proyek besar yang dilakukan dengan beberapa strategi:

 

Pertama, yahudisasi wilayah dan tahapannya

Proyek pemukiman dan Yahudisasi di Palestina terutama Al-Quds berjalan begitu cepat bersamaan dengan permulaan mandat Inggris terhadap langkah penjajahan Yahudi. Pengumuman al-Quds sebagai ibukota Negara Yahudi adalah langkah awal untuk membungkam tuntutan Arab dan Islam akan hak mereka untuk memerintah Al-Quds.

 

Berbagai data statistik menjelaskan tentang kerja besar proyek yahudisasi untuk mengubah nuansa Al-Quds dan menguatkan legalitas serta klaim yahudi.

 

Tahun

1917

1994

Prosentase wilayah kekuasaan Arab di Al-Quds

+90%

10%

Prosentase wilayah kekuasaan yahudi di Al-Quds

4%

86%

Prosentase jumlah penduduk Arab

75%

26%

Prosentase jumlah penduduk Yahudi

25%

74%

Total jumlah penduduk

40000

587000

 

1.      Akhir abad sembilan belas

Langkah proses yahudisasi Al-Quds beragam bentuk sesuai yang dikordinasikan antara Yahudi Internasional dan Negara penjajah yang memanfaatkan kesempatan situasi lemahnya Daulah Utsmaniyah yang disibukkan dengan perang yang berkelanjutan dan perselisihan internal yang menguras perhatian hingga melupakan kondisi wilayah peninggalan penting Islam. 

 

Proyek yahudisasi pada abad ini dikenal dengan proyek Montefiore yang berhasil mempengaruhi Inggris dan Prancis agar menekan Daulah Utsmaniyah untuk mengeluarkan kebijakan izin pendirian organisasi-organisasi Yahudi di Palestina dan Al-Quds. Maka dilakukan enam kali kunjungan ke sana sebagai pendahuluan dalam proyek membangun organisasi dan perkampungan Yahudi di luar batas kota Al-Quds.

 

Tahun 1842-1897 M menjadi momentum dinamis bagi Zionis dalam yahudisasi kota Al-Quds melalui pendirian beberapa kampung dan sinagog Yahudi. Data statiskik yang disurvey pada 1842-1897 M menunjukkan bahwa jumlah penduduk Al-Quds mencapai 25 ribu jiwa dan di akhir abad 19 mencapai 45 ribu jiwa. Sementara jumlah yahudi sampai tahun 1880 tidak sampai tiga ribu orang, namun jumlah mereka melonjak pada tahun 1918 mencapai 10 ribu jiwa, disebabkan ikatan kewarganegaraan Negara penjajah dan Zionis setelah kongres pertama zionis pada 1897 M, yang memungkinkan bagi yahudi untuk beremigrasi tinggal di Al-Quds setelah jatuh di bawah kekuasaan Inggris. Bersamaan dengan masuknya tentara Inggris ke Al-Quds pada 11 desember 1917 M proyek zionis melalui fase penting dalam mengepung kota Al-Quds dan merealisasikan dominasi penduduk Yahudi.

 

2.      Awal abad duapuluh hingga tahun 1967

Dalam rangka pengokohkan eksistensi dan legalitas politik, sosial dan budaya Yahudi dan Zionisme, didirikan lembaga dan badan yang menangani media, disamping upaya politis dengan hadirnya Theodor Hertzl di Palestina dan Al-Quds untuk membangkitkan spirit zionisme dan penanaman doktrin pendirian tanah air bagi Yahudi di Palestina. Peristiwa ini terjadi sejak 26 oktober hingga 4 november 1903.

 

a.      Masa mandat Inggris

Pemerintahan mandat Inggris memberikan Yahudi 11700 hektar atau 7% dari total luas kota. Jenderal Inggris Alenbi menetapkan proyek pembangunan Al-Quds menjadi empat bagian; kota kuno dan pembatasnya, wilayah sekeliling kota kuno, Quds timur dan Quds barat. Sebagaimana perencanaan mencakup  wilayah-wilayah jajahan Yahudi di sekeliling Al-Quds hingga perbatasan kota.

 

Pada tahun 1921 proyek desain perbatasan kota direvisi dengan menambahkan perluasan empat ratus meter arah perbatasan timur kota. Selanjutnya pada 1946 Pemerintahan Inggris menetapkan kerangka rancangan baru (new master plan) dengan memperluas bagian barat dengan tujuan masuknya perkampungan Yahudi baru dalam perbatasan kota yang luasnya mencapai 1933,1 hektar. Sejak tahun 1922 hingga masa ini adalah waktu intensif kedatangan Yahudi Al-Quds.

 

Al-Quds di bawah mandat Inggris mendapat support dana dalam jumlah besar sehingga menjadi pusat politik, administrasi dan pendidikan, selanjutnya menjadi kantor ekskutif zionisme Internasional dan kantor berita.

 

 

Pada 1925 Universitas Arab di Al-Quds dihancurkan, dan pada 1939 rumah sakit Yahudi Hadasa dibuka, Yahudi juga mendirikan beberapa lembaga mereka di dataran tinggi scopus di timur laut kota kuno. Al-Quds semi terkepung, karena perkampungan Yahudi menempati kekosongan di sela-sela perkampungan kuno yang menopang pengepungan kota Al-Quds.

 

Pada 1947 PBB menetapkan keputusan pembagian Palestina untuk menjamin internasionalisasi kota Al-Quds, namun perang 1948 antara Zionis dan Arab menghentikan proyek PBB tersebut. Tetapi Yahudi mampu menguasai proyek barat kota Al-Quds, yang menyebabkan pembagian wilayah Al-Quds secara riil.

 

b.      Masa penjajahan Israel pasca perang 1948

Langkah pembangunan pemukiman Yahudi pada masa ini juga cukup dinamis. Mulai tahun 1922 emigrasi Yahudi ke Al-Quds meningkat tajam. Yahudi membangun wilayah pemukiman baru untuk menampung puluhan ribu Yahudi yang berhijrah, hingga jumlah mereka mencapai 123000 jiwa pada tahun 1950.

 

Lokasi dan wilayah bersejarah sebagai objek Yahudisasi Al-Quds pasca perang 49

Nama Arab

Nama Israel setelah yahudisasi

Tahun yahudisasi

Syekh Badr

Jafat Ram

1948

Al-Qathmuun

Gaunin

1948

Al-Buq’ah

Gaoulim

1948

Abou Thur

Jafat Hanina

1949

Al-Mashrarah

Moursha

1949

Ain Karam

Ain Hakram

1949

Al-Maliha

Manhat

1949

Dir Yasin

Kafar Shaoul

1949

Tel Goul

Jafat Shaoul

1949

Lafta

Hay Naftouh

1949

 

 

3.      Pasca penyerangan tahun 1967

Pada 7 Juli 1967 pasukan Israel menyelesaikan serangan menjajah Al-Quds timur, menguasai kota serta tempat-tempat suci Islam dan Nasrani. Selanjutnya pada 28 Juni 1967 Hayem Moshi menteri dalam negeri Israel ketika itu menyatukan perkampungan barat dan timur Al-Quds untuk peroyek penyatuan kota.

 

Pintu Al-Quds yang dijadikan objek Yahudisasi

Nama Arab

Nama Israel pasca yahudisasi

Bab Khalil

Shair Yafou

Bab Hadid

Shair Hahdash

Bab Amud

Shair Shekim

Bab Zahirah

Shair Horous

Bab Sitna Maryam

Shair Haarweit

Bab Mugharabah

Shair Hashafa

Bab Rahmah

Shair Harhamem

Bab Nabi Dawud

Shair Taseiun

 

 

 

Kedua, Penyitaan tanah.

Strategi penyitaan tanah adalah langkah yang diambil penguasa mandat Inggris dan selanjutnya diterapkan penjajah Israel untuk merubah tata kota, identitas dan kondisi demografis al-quds.

 

Pasukan perang Yahudi menjajah dan menghancurkan 32 kampung Arab secara total, untuk selanjutnya mereka mendirikan bangunan Yahudi di sekeliling Al-Quds. Penyitaan seluas 2400 hektar dan pembangunan 38500 unit tempat tinggal Yahudi di wilayah timur Al-Quds sepanjang 28 tahun.

 

Tahun

Wilayah milik Arab

Wilayah milik Yahudi

Wilayah lain

1954

84 %

13 %

3 %

1995

4 %

86 %

10 % (disiapkan untuk proyek Yahudi)

 

Langkah penyitaan tanah ini dilakukan dengan beragam cara seperti merevisi peta agar menyetop pertumbuhan infrastruktur dan demografi penduduk Arab dan membuka peluang perluasan bagi yahudi. Peta tersebut selanjutnya berdampak kepada pembekuan lebih dari 40 % wilayah penduduk Arab di Al-Quds, membuka kesempatan bagi Yahudi untuk menguasainya tanpa reaksi keras dari pihak lain.

 

Isu fasilitas umum dan tempat peninggalan bersejarah dilakukan sebagai langkah memperoleh wilayah Al-Quds dan wilayah-wilayah yang ditinggal penduduk Arab pasca serangan 1967 .

 

 

Ketiga, pemukiman dan pengepungan.

Proyek pemukiman Yahudi di Al-Quds menargetkan kampung penduduk Arab untuk mengganti eksistensi Arab dengan dominasi Yahudi, juga bertujuan menghubungkan Al-Quds dengan perbatasan kampung penduduk Arab yang berdekatan dan terhubung kuat dengan pusat-pusat pemukiman Yahudi yang mengepung kampung tersebut, sesuai rencana pendirian kota besar Yahudi Al-Quds.

 

 

Keempat, Yahudisasi demografis.

Strategi ini didasarkan dengan agenda pengurangan jumlah penduduk Palestina di Al-Quds, dengan perbandingan 3:7 jumlah penduduk Arab dan Yahudi. Namun berkumpulnya penduduk Arab yang menguasai bagian timur al-Quds menjadi kendala, maka Pemerintah Yahudi mengambil langkah penyitaan tanah milik penduduk Palestina dan menetapkan syarat-syarat ketat penggunaan tanah Palestina.

 

Ada sederet cara lain yang dilakukan untuk memindahkan orang Palestina ke luar Al-Quds seperti menghapus fasilitas umum, larangan merenovasi bangunan dan tempat tinggal tua, larangan membangun infrastruktur baru, pembebanan pajak mahal dan seterusnya. Langkah-langkah tersebut menyebabkan timbulnya krisis yang diistilahkan dengan “gubuk Al-Quds”. Krisis itu menghalangi orang Arab untuk bertempat di sana.

 

 

Tahun

Total Jumlah Penduduk

Palestina (%)

Yahudi (%)

1967

267800

26,7

73,3

1972

313800

26,7

73,3

1980

407100

28,2

71,8

1984

446500

28,4

71,6

1994

587000

26

74

 

 

Kelima, Yahudisasi simbol agama dan infrastruktur

Alasan yang diblow up untuk melancarkan agenda penggalian di sekitar lokasi bangunan Islam bersejarah terutama masjid Al-Aqsha adalah menguak peninggalan suci bersejarah; Haikal Sulaiman.

 

Mereka beralasan bahwa penggalian yang sekarang dilakukan merupakan perpanjangan dari yang dilakukan para arkeolog sejak pertengahan abad ke delapan belas, namun cara dan langkah penggalian lebih mengisyaratkan penistaan Al-Aqsha yang semua itu begitu kentara sebagai bagian dari desain penjajahan, tanpa ditemukan sedikitpun tanda adanya peninggalan sejarah di bawah atau sekitar masjid Al-Aqsha.

 

 Ahmad Yani, Lc, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *