Afrika

Dalam Mu’jam al-Buldân disebutkan; kata Afrika diambil dari sebuah nama penguasa negeri Saba’ di Yaman, Ifriqis bin Shaifiy, yang dikalahkan oleh rakyat Ethiopia. Dikejar-kejar dan terlunta-lunta hingga ke Libya, melewati padang pasir dan bertemu dengan kabilah Barbar yang mendiami tanah-tanah subur dan hijau. Nama Afrika mula-mula populer di timur benua ini. Sebagian sejarawan dan penulis Arab, mengambil derivasi nama Afrika dari kata “fu-ri-qa” yang berarti terpisah atau terbagi. Karena secara geografis, tanah Afrika terpisah dari Eropa dan Asia. Afrika terpisah oleh Laut Mediterania yang memisahkannya dengan Eropa serta Laut Merah yang membatasinya dengan Asia. Sebagian kecil -di ujung Mesir- kemudian dibelah sepanjang 160 kilometer dan dinamakan dengan Terusan Suez.

Jika Mesir adalah gerbang Islam di Afrika, maka kabilah Barbar adalah gerbang Islam ke Eropa. Tak mengherankan, jika di sepanjang pesisir utara Afrika dan sebagian wilayah timur, Islam sangat dominan, padahal sebelumnya tak terlihat. Pelahan namun pasti, peradaban Mesir kuno yang identik dengan kemajuan peradaban batu, namun secara ideologis menjadi negeri penyembah banyak dewa dan banyak sebutan untuk Tuhan mereka. Mesir berubah warna. Demikian juga negeri-negeri pesisir utara, Libya, Maroko, Tunisia, Aljazair, Moritania; bahkan kemudian disebut sebagai negara Arab. Penyebutan ini tidaklah didasarkan secara etnologis maupun geografis. Penamaan ini lebih bernuansa ideologis. Islam melekat sebagai identitas, menyatu dengan istilah Arab yang menjadi ciri komunikasi masyarakat muslim saat itu. Warna Islam ini pun tak hanya terjadi di utara dan timur, tapi menyebar hingga ke barat, tengah, sampai ke selatan, meskipun populasi dan persentasi kuantitas yang tak sama.

Negeri yang subur itu, pernah menjadi sasaran penjajahan. Pasca revolusi industri Eropa, negara-negara maju Eropa melakukan aneksasi terhadap negeri-negeri Afrika dan Asia. Mereka menjajah untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan memperbudak orang-orangnya. Meski secara fisik penjajahan tersebut sesuai target, namun secara ideologis tak banyak berpengaruh. Pesisir utara Afrika, warna Islam tetap dominan dan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan komunikasi rakyatnya.

Jika penjajahan fisik pernah dilakukan di masa lalu, maka di era revolusi telekomunikasi dan pasca gelombang ketiga –meminjam istilah third wave-nya Alvin Tofler- penjajahan fisik dilakukan sebagai finishing penjajahan mental. Sebagian negara-negara Afrika kini lebih banyak menjadi proxy dari kepentingan negara-negara besar. Sebagaimana hal yang sama terjadi di Asia, termasuk di Indonesia.

Tak heran, jika Zionis Israel membidik Afrika. Mereka hendak menancapkan pengaruh. Dimulai dari tengah, karena merasa sudah menggenggam jalur masuk Afrika, Mesir sebagai salah satu pintunya. Dengan jargon normalisasi Israel-Afrika, mereka hendak melaksanakan KTT di Togo Oktober ini. Afrika, masih memiliki nurani dan solidaritas kepada Palestina. Arus normalisasi ini terblok dan batal dilaksanakan. Headline media masa dunia memberitakan pengunduran waktu yang belum definitif. Tentunya, warga Afrika tetap berharap normalisasi ini tak dideklarasikan. Rakyat Afrika tahu, bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina tidak bisa dibenarkan. Mereka tahu, sebagian pejabat atau pengusaha dan orang-orang kaya di benua ini bermain belakang dan mengambil keuntungan dari normalisasi ini. Mereka yang sudah menjalin hubungan tentu ingin pengesahan terhadap apa yang dilakukan. Alhamdulillah, nurani mayoritas rakyatnya menolaknya. Karena, memang penjajahan tidaklah bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Apalagi jika manusia tersebut adalah muslim, maka setidaknya ada dua simpul yang menjadikannya menolak penjajahan Israel, yaitu simpul kemanusiaan dan simpul ideologis. Semoga rakyat Afrika dan pemerintah negeri-negerinya konsisten menolak berhubungan dengan penjajah Israel. WalLâhu al-Musta’ân.
 

Catatan Keberkahan 69

Jakarta, 18.09.2017

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *