Ada Apa Dengan Yahudi "Diaspora"?


Antoine Shalhat

Media-media Israel saat ini dipenuhi dengan pemberitaan dan analisis terkait hal yang bisa dianggap keretakan yang parah di dalam tubuh orang-orang Yahudi “diaspora”, terutama Yahudi Amerika Serikat, yang dilatarbelakangi penarikan diri institusi politik dari kesepakatan untuk mengakui aliran-aliran non-Ortodoks Yudaisme.

Hal ini berujung dari dalam cermin keretakan pada proses pemilihan ketua baru Badan Yahudi, dimana terpilih sebagai pimpinan oposisi anggota Knesset, Isaac Herzog, untuk jabatan itu, bertentangan dengan PM Benjamin Netanyahu, yang menginginkan orang dekatnya untuk mengambil posisi penting ini.

 

Perlu dicatat, Badan Yahudi didirikan pada tahun 1929 sebagai perpanjangan tangan eksekutif Organisasi Zionis Dunia dan berfungsi sebagai otoritas Yahudi Yishuv di Palestina. Setelah Nakba, tugas wewenangnya berpindah kepada pemerintah Israel. Pekerjaanya menjadi terkonsentrasi kepada mendorong orang-orang Yahudi menjadi imigran ke “Israel”; memperdalam pendidikan Yahudi-Zionis ke tengah-tengah masyarakat Yahudi di seluruh dunia; dan mempromosikan eksistensi orang Yahudi di “Israel”.

Menurut beberapa analisis, sesungguhnya pengabaian Badan Yahudi terhadap keinginan Netanyahu, dalam apa yang terkait dengan pilihan ini, dianggap sebagai langkah yang sangat langka, di mana fakta menunjukan bahwa badan tersebut hanya pernah pernah sekali menantang keinginan PM “Israel” di masa lampau, dan memilih calon lain untuk menjadi pimpinannya.

Herzog mengisyaratkan, langsung setelah terpilihnya, ke arah keretakan dalam ucapannya: Orang Yahudi adalah seorang Yahudi, dia tidak peduli dengan aliran apapun yang dia ikutinya, atau apa yang dilakukan oleh pimpinannya. Namun, masalah yang banyak dikhawatirkan dalam hal ini, seperti dapat disimpulkan dari laporan serupa, melihat pada kemungkinan meluasnya apa yang disebut dalam literatur-literatur “Israel” belakangan ini bahwa ada “fenomena integrasi Yahudi” di dalam masyarakat di mana mereka tinggal.

Kampanye untuk menyerang fenomena ini semakin melebar belakangan ini, bersama dengan tuduhan terhadap gerakan reformis, yang mendorong integrasi ini. Melihat kepada dorongan yang dilakukannya, aliran ini menjadi salah satu musuh paling berbahaya dari dalam negara Penjajah. Bahkan salah satu peneliti senior di Institut strategi Zionis (sayap kanan) mengatakan bahwa bahaya musuh-musuh internal semacam mereka ini lebih berbahaya dan lebih buruk daripada musuh-musuh eksternal.

Tampaknya apa yang menjadikan peneliti ini, – dan analis-analis lainnya termasuk juga beberapa penulis – sebagai pilar opini di dalam media “Israel”, keluar dari jalur mereka, adalah seruan penulis Amerika berdarah Yahudi, Michael Chabon, untuk menyampaikan wacana sentral dalam pameran lukisan para Rabi dari aliran Yahudi reformis yang diadakan di Hiebero Union college, sebuah Institut Studi Pendidikan Tinggi milik aliran ini di Los Angeles. Itu dianggap sebagai “Seruan bagi fondasi”, yang dianggap sebagai penyebrangan (aliran) sungai Alrubikon, dan perpindahannya dari mengkritik negara penjajah kepada kritik terhadap agam Yahudi, seperti yang dinyatakan dalam salah satu komentar.

Selama sekitar setengah jam, Chabon berbicara tentang penentangannya terhadap tembok dan barikade yang agama Yahudi benamkan para pengikutnya ke dalam lingkungannya. Menurutnya, pernikahan antara seorang pria Yahudi dengan wanita Yahudi merupakan “ghetto bagi mereka berdua”, dengan menciptakan dinding dan lingkaran di sekeliling dua pasang manusia ini, dan mengepung keduanya bersama dengan anak turunannya di dalam tembok tradisi, sejarah dan warisan bersama bagi para pewaris genetika dan budaya.”

Dalam pandangannya, “tidak ada perbedaan antara tembok dan pagar yang kita bangun untuk membela kita dengan dinding penjara yang memenjarakan kita. Dinding adalah dinding itu sendiri. Keamanan adalah ciptaan dari sipir penjara manusia. Di setiap tempat anda memandangnya, tercermin tugas pembatasan yang diletakan untuk membuat rintangan dan hambatan sebagai pemisah,  mendorong propaganda kebencian dan ketakutan terhadap orang-orang yang berada luar tembok”. Dia menyatakan dukungannya bagi perbatasan yang terbuka, dihancurkannya tembok, dan agar bercampur baur dengan kebudayaan lain. Oleh karenanya dia mendukung pernikahan silang yang membangkitkan kejeniusan manusia.

Perlu dicatat bahwa ketakutan Zionis terhadap Chabon, pemenang hadiah Pulitzer, tidak dimulai dari seruannya itu. Tapi ini adalah kelanjutan dari ketakutan sebelumnya atas buku yang disusun bersama istri “Israel”nya  Ayelet Valdman, tahun lalu, yang berjudul “Kerajaan Zaitun dan Abu”, yang diterbitkan oleh  Harper Collins Amerika, dalam rangka memperingati 50 tahun penjajahan “Israel” terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967, dengan partisipasi dari penulis Peronis Mario Vargas Llosa (peraih hadiah Nobel bidang kesustraan 2010), dan 19 orang penulis dari seluruh dunia, ditambah lagi partisipasi tiga orang penulis Palestina, Raja Shehadeh, Alaa Hlehel dan Wafda Grace. (i7)

———-

Sumber: www.arab48.com, terbit: 11/07/2018 – 08:23.

 

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *