Aat Surya Safaat: Anak-anak Palestina Butuh Perhatian Dunia

Mataram (ANTARA) – Wartawan Senior Aat Surya Safaat menyatakan, anak-anak Palestina saat ini membutuhkan perhatian dunia internasional karena mereka mengalami kekejaman yang terus-menerus dari penjajah Zionis Israel.

“Oleh karena itu, saya mengajak teman teman media untuk terus menggelorakan penyelamatan anak-anak Al-Quds ke dunia internasional,” katanya kepada pers di Jakarta, Senin (2/3).

Jumpa pers terkait penyelamatan Anak-anak Palestina itu diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds yang merupakan koalisi beberap LSM yang peduli masalah kemanusiaan di Palestina, termasuk Lembaga kemanusiaan kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG) dan Lembaga Perjuangan Perempuan untuk Al-Aqsa dan Palestina Maemuna Center (Mae_C).


Narasumber lain pada jumpa pers itu adalah Sekjen Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds, Maimon Herawati, M.Sos, M. Litt.; Kepala Bidang Edukasi dan Informasi Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Muhammad Syarief; Ketua Khadeejati Foundation Peggy Melati Sukma; dan anggota Adara Relief Internasional Sri Vira Chandra.

Mengutip Aliansi Indonesia Bela Anak Al Quds, Aat mengemukakan,  setidaknya dua ribu anak Palestina meninggal dalam dua dekade terakhir, dan sepanjang tahun 2019 penjajah Israel telah membunuh 33 anak dan menculik 745 anak Palestina ke penjara Israel.

Direktur Pemberitaan/Pemimpin Redaksi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA 2016-2017 itu lebih lanjut menyatakan, media di Indonesia dan di dunia internasional tidak boleh diam melihat persoalan kemanusiaan yang sangat mengkhawatirkan itu.

Ia secara khusus menyoriti pentingnya media massa dalam menyuarakan dan mengkampanyekan penyelamatan anak-anak Palestina yang sejatinya tidak tahu-menahu urusan politik di Tanah Airnya.

Keberadaan dan peran media massa dinilainya sangat penting dalam membentuk opini dunia bagi penyelematan generasi muda di Palestina, sebagai satu-satunya negara di dunia yang belum terbebas dari penjajahan  sejak pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

“Bayangkan, Vietnam dahulu bisa menang melawan Amerika karena kekuatan media. Ketika itu banyak anak-anak muda dari kalangan milter Amerika yang menjadi korban kekejaman perang, sehingga berkat opini media kemudian Amerika menghentikan perangnya melawan Vietnam,” katanya.

Penerima “Press Card Number One” pada Hari Pers Nasional di Banjarmasin Kalimantan Selatan 9 Februari 2020 itu menyatakan, seharusnya sekarang kalangan jurnalis juga bisa melakukan hal yang sama, yaitu menghentikan kekejaman Israel terhadap anak-anak Palestina.

Ia menilai, media massa bisa berperan melakukan “second track diplomacy” untuk mendorong negara-negara besar dan berpengaruh seperti Amerika, Russia, dan Cina untuk menghentikan kekejaman Israel terhadap anak-anak Palestina.

Salah satu pendiri Mi’raj Islamic News Agency (MINA), kantor berita yang menyiarkan berita dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab itu juga mengungkapkan telah terbentuknya Aliansi Media Muslim Internasional atau IMMA (International Muslim Media Alliance) pada 26 Mei 2016 di Jakarta.

“Salah satu tujuan pembentukan aliansi media internasional itu adalah melawan pemberitaan negatif tentang Palestina. Tetapi peran aliansi untuk  pertukaran dan pengutipan berita dunia islam itu nampaknya belum efektif,” kata Pembina Media Fakta Hukum Indonesia (FHI) dan Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI itu.

Ia juga menegaskan, isu Palestina merupakan isu kemanusiaan, bukan hanya semata-mata masalah agama. Karena jika bicara Palestina, di sana terdapat tiga agama, yaitu Islam, yahudi, dan Kristen.

“Bukan hanya wartawan, di era digital ini siapapun, di setiap pena, laptop, handphone atau di setiap ruang di mana kita bisa menulis, maka menulislah tentang penyelamatan anak-anak Palestina. Kekuatan tulisan di era medsos ini lebih berpengaruh dari senjata militer,” tambahnya.

Khusus tentang peran Indonesia dalam membela Palestina, teringat kata-kata Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza Ismail Haniya yang pernah menyatakan bahwa hadiah dari Indonesia terhadap Palestina saat ini ada dua, yakni Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza dan hadirnya Kantor Berita Islam MINA.

Acara tersebut juga dihadiri para jurnalis dari Aliansi Jurnalis Muslim Indonesia dan Sekjen Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Oke Setiadi.

————————

Sumber: Antara, terbit: Senin, 2 Maret 2020 19:33.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *