500 Orang Palestina Ditahan sejak Deklarasi Trump

aspacpalestine.com – Palestine. Pasukan Penjajah Israel terus melakukan kekerasan dan penangkapan intensif sejak deklarasi Trump terkait Al-Quds, pada 6 Desember 2017. Sejak saat itu, sekitar 500 orang Palestina telah ditahan. Faktanya, sejak Senin dini hari (18/12/2017) hingga Kamis (21/12/2017), pasukan penjajah Israel telah menangkap sekitar 85 orang-orang Palestina dari beberapa lokasi yang berbeda di Tepi Barat dan Al-Quds. Beberapa dari mereka ditangkap saat berlangsung unjuk rasa terhadap pasukan penjajah Israel di beberapa tempat. Selain itu, penangkapan lain juga dilakukan di pos pemeriksaan dan pada malam hari saat serangan ke rumah-rumah orang Palestina. Penangkapan yang disertai serangan ke rumah-rumah orang Palestina terjadi beberapa bulan terakhir tahun ini.

Sejak deklarasi Trump mengenai Al-Quds pada 6 Desember 2017. Pasukan penjajah Israel menangkap sekitar 5000 orang Palestina, termasuk 170 anak-anak dan 10 wanita. Mayoritas dari mereka berasal dari Al-Quds dan menerima pembebasan bersyarat, seperti tahanan rumah, denda uang atau keduanya. Sedangkan orang-orang Palestina di Tepi Barat. Mereka diadili di Ofer atau mahkamah militer Salem, meskipun terdapat perberdaan di masing-masing umur mereka. Saat ini, 200 anak ditahan di Ofer, beberapa dari mereka ditahan pada bulan Desember 2017. Selain itu, dokumentasi menunjukkan bahwa 37 anak ditahan di Ofer, setelah deklarasi Trump terkait Al-Quds. Anak-anak tersebut mendapat pelecehan dan pemukulan brutal secara langsung dari pasukan penjajah Israel, saat melakukan penangkapan.

Penangkapan massal dan tindakan pelecehan merupakan bagian dari tindakan hukuman Israel secara kolektif, yang secara langsung melanggar pasal 33 konvensi keempat Jenewa dan pasal 50 peraturan Den Haag. Kedua pasal tersebut melarang secara khusus penghukuman kolektif. Faktanya, kampanye penangkapan ini menunjukkan target kebijakan Israel merupakan kelompok-kelompok penting, baik anak-anak dan wanita difabel. Pasukan penjajah Israel secara sistematis menahan anak-anak dan melanggar hukum manusia internasional dan hukum HAM internasional. Konvensi Jenewa mengenai hak anak menggaris bawahi di pasal 27 bahwa “tidak ada anak yang dirampas kebebasannya secara ilegal atau sewenang-wenang. Pasal ini lebih lanjut menggarisbawahi bahwa kasus penangkapan, penahanan atau pemenjaraan terhadap anak “harus sesuai hukum dan hanya digunakan sebagai langkah terakhir, serta untuk waktu yang sesingkat mungkin”.

 

Source: addameer.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *