5. 000 Rumah Warga Yerusalem Dihancurkan Sejak 1967 Data Palestina t

entang pelanggaran Penjajah Israel di Yerusalem sejak 1967 mengungkapkan pembongkaran lima ribu rumah dengan dalih tidak memiliki IMB, dan ini belum  termasuk penghancuran dua desa Al-Sharaf dan Al-Mugharibah saat Penjajah menyempurnakan bagian Timur kota itu.

Menurut sebuah laporan terperinci yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Pertanahan yang berkantor di Yerusalem, bahwa penjajah tidak hanya menghancurkan 39 desa yang ada di Yerusalem dan membuat sekitar 198.000 penduduk meninggalkan tanah air mereka pada tahun 1948. Dan penghancuran rumah-ruman penduduk masih terus dilakukan hingga tahun 1967 dengan berbagai dalih.

Menurut laporan  lembaga itu yang lebih luas lagi, penjajah telah menghancurkan 1.706 rumah antara tahun 2000 dan 2017, menggusur 9.422 warga Palestina, termasuk 5.443 orang anak-anak.

Laporan itu mengatakan bahwa sekitar 67.500 penduduk Yerusalem telah meninggalkan tanah air mereka  sebelum perang tahun 1948 dan sekitar 30.000 orang lainnya setelah perang. Sementara 16.000 orang Yahudi baru ditempatkan di rumah-rumah dan tempat tinggal orang-orang Arab yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya antara bulan September 1948 dan Agustus 1949.

Selama perang 1967, sekitar 70.000 penduduk Yerusalem terusir, termasuk mereka yang saat itu berada di luar Yerusalem dan tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya, dan ini masih ditambah 50.000 orang lainnya setelah perang, yang diusir karena berbagai alasan.

Tidak jauh dari lokasi didirikannya tembok pemisah, otoritas penjajah Israel di Yerusalem mencegah warga membangun ratusan rumah dan menghancurkan puluhan yang ada. Selain itu, tembok pemisah itu juga telah menimbulkan kerugian terhadap lingkungan dan secara khusus terhadap ratusan rumah di Yerusalem, yang oleh pendudukan Israel diharamkan menikmati sinar matahari, udara dan ruang milik mereka sendiri.

Laporan Pusat Penelitian Pertanahan mengacu pada kebijakan otoritas penjajah Israel yang membatasi pembangunan oleh warga Palestina di Yerusalem terkait IMB. Pemerintah kota menerapkan serangkaian prosedur yang menjadikan upaya pembangunan oleh warga Palestina di Yerusalem menjadi hal yang tidak mungkin. IMB tidak diterbitkan dengan beberapa alasan diantaranya: kepentingan umum, tidak masuk kategori putih, jauh dari kedua sisi jalan, lahan pemerintah, lokasi yang diperuntukan pembangunan jalan atau lokasi militer dan lain-lain.

Kebijakan penjajah ini telah menyebabkan penurunan (jumlah) lahan yang tersedia untuk dibangun warga Palestina, baik dengan IMB atau tanpa IMB, dan tingginya biaya IMB yang besarnya mencapai sekitar 30 ribu dolar per satu rumah.

Laporan tersebut menyebutkan beberapa alasan yang berada di belakang larangan bangunan tanpa izin diantaranya untuk mencegah penduduk Yerusalem menggunakan 88 % tanah-tanah mereka, dimana hanya tersisa 12 persen yang diperuntukkan bagi perkembangan kota, dan 7 % darinya saja yang diperuntukkan bagi tempat tinggal.

Pusat Penelitian Pertanahan ini menekankan kebutuhan warga Palestina terhadap rumah sekitar 2.000 unit per tahun. Dengan catatan sekitar separuh penduduk Yerusalem yang telah masuk usia dewasa berjumlah sekitar 380.000 orang, mereka tinggal di rumah yang tidak ber-IMB (Aljazeera/i7)

—————–

Keterangan Foto:

Penjajah telah menghancurkan sekitar 1.700 rumah dan menyebabkan 9.422 orang Palestina terusir dari Yerusalem antara tahun 2000 –  2017 (Aljazeera).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *