Dewan Nasional Palestina … Mengapa sekarang?

Oleh: Mueen Al-Taher

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh bicara di dalam sidang Dewan Nasional Palestina pada 30 April 2018 [Mohammed Asad/Middle East Monitor]

Dua puluh tujuh tahun setelah Dewan Nasional Palestina (PNC) dimasukkan ke dalam lemari es, setelah pertemuan sah terakhirnya di Aljazair tahun 1991, sebuah keputusan tiba-tiba dibuat untuk menghidupkannya kembali, jika dia memang masih memiliki nyawa di dalamnya.

Berdasarkan piagamnya (Pasal 8), pertemuan itu harus diadakan secara berkala setahun sekali, dan sejak yang pertama tahun 1964 di Yerusalem,  sampai pertemuannya di Aljazair pada tahun 1991, sudah diadakan 21 kali pertemuan dalam 27 tahun. Kemudian absen selama sekitar jumlah waktu yang sama. Sejauh itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk memanfaatkannya secara politis, tetapi tidak memperoleh dukungan yang cukup.

Pada tahun 1996, anggota PNC diundang ke sebuah pertemuan di Gaza, yang dihadiri oleh Presiden AS Bill Clinton. Tujuannya saat itu adalah untuk mengubah Piagam PLO, dan inilah yang diumumkan oleh PNC. Namun, satu pemberitahuan dalam literatur PNC yang dipublikasikan di situs webnya menunjukkan bahwa Ketua Dewan, Salim Zanoun, menganggap bahwa apa yang dibicarakan itu hanyalah rekomendasi yang harus mendapat persetujuan oleh Komite Palestina, yang itu tidak pernah terjadi. Ada konsensus bahwa itu bukanlah sesi dalam arti parlementer, tapi lebih seperti formalitas untuk menyambut presiden AS dan istrinya.

Jumlah anggota PNC meningkat pada hari pertemuan itu, dari asalnya 483 anggota pada sesi terakhirnya menjadi 730 anggota. Beberapa menit sebelum rapat, daftar hadir telah diisi dan orang-orang yang absen digantikan oleh mereka yang hadir, meskipun undangan sudah disebarkan. Saya adalah salah satu anggota yang absen sebagai bentuk protes, lalu saya digantikan. Pada tahun 2015, ada upaya untuk mengadakan sidang PNC luar biasa berdasarkan beberapa kondisi yang memaksa. Setelah perdebatan politik dan hukum yang besar, ketua PNC menyerah dan menentang kehendak kepemimpinan politik, dan menyelamatkan rakyat Palestina dari sebuah perpecahan besar yang akan mempengaruhi legitimasi PLO dan sistem internalnya.

Tidak diragukan bahwa ada kebutuhan untuk menjaga PLO sebagai rumah bagi semua orang Palestina di dalam dan luar negeri, serta perwakilan yang sah bagi mereka. Ada juga kebutuhan mendesak untuk mengadakan pertemuan PNC baru di mana semua faksi, kekuatan dan organisasi massa, serta tempat keberadaan mereka, terwakili. Ini disetujui ketika komite persiapan dibentuk, yang bertugas mempersiapkan sebuah pertemuan PNC baru. Pertemuan ini harus dimulai dengan mengevaluasi alam kepemimpinan politik dan membangun proyek nasional Palestina yang komprehensif. Ini tidak tercapai, karena PNC ditangguhkan dan keputusan untuk membangun kerangka kepemimpinan yang bersatu diabaikan.

Ada kabar bahwa alasan PNC diselenggarakan saat ini adalah untuk merestrukturisasi Komite Eksekutif PLO, dengan alasan untuk membawa masuk energi baru. Ini saja tidak perlu dengan mengadakan pertemuan PNC, karena persyaratan yang diperlukan untuk mengadakan pertemuan semacam itu tidak terpenuhi. Meskipun ini tidak menjadi solusi yang sangat baik, mereka dapat menggunakan solusi yang sama pada tahun 2009 ketika anggota PNC mengadakan pertemuan luar biasa tanpa mencapai kuorum, menurut Pasal 14 paragraf C piagamnya. Dalam hal ini, kami akan mempertahankan situasi yang tidak diinginkan sampai persiapan yang serius dibuat untuk sebuah Dewan Nasional yang sebenarnya, yang akan menandai awal fase baru dalam perjuangan Palestina.

Ada orang lain yang percaya bahwa tujuannya adalah untuk membubarkan PLC, yang masanya akan berakhir pada 18 Januari 2010, yang memungkinkan presiden, yang masa jabatannya berakhir pada 8 Januari 2009, untuk tetap di posisinya. Keputusan ini tidak penting karena PLC telah dibekukan sejak pemecahan Palestina, kecuali jika tujuannya adalah untuk melegitimasi pemilihan dewan baru yang bekerja di dalam bagian negara. Ada juga keyakinan yang lazim bahwa membubarkan PLC berdasarkan keputusan oleh PNC akan memberikan Otoritas Palestina menantang keputusan itu jika dilakukan oleh presiden yang masa jabatannya berakhir. Selain itu, jika posisi presiden kosong, karena alasan apa pun, itu akan membuka pintu yang memungkinkan ketua PNC untuk bertindak sebagai presiden sementara. Pada titik ini pihak-pihak yang berkepentingan akan memiliki waktu untuk memutuskan presiden alternatif dan menutup pintu sepenuhnya bagi setiap kemungkinan pembicara PLC yang keluar, yang berafiliasi dengan Hamas, untuk menjadi presiden Palestina.

Prosedur untuk mengadakan pertemuan PNC telah menjadi ambigu (tidak pasti).

Sidang mana yang akan diadakan? Apakah itu Sidang Aljazair (483 anggota) atau Sidang Festival Gaza (730 anggota)? Sejak pertemuan Aljazair, 88 anggota telah meninggal dan sisanya sudah melewati masa 27 tahun, dimana efek penuaan yang lazim mesti berpengaruh di antara mereka. Selain itu, apa yang terjadi pada anggota di organisasi massa yang anggotanya semestinya telah berubah berdasarkan pemilihan demokratis yang terjadi di jajaran mereka? Siapa yang akan menggantikan mereka dan menunjuk pengganti untuk almarhum? Apa yang akan terjadi pada kuota militer? Apakah mereka akan diganti di PNC oleh para pemimpin badan koordinasi keamanan?

Bagaimana dengan faksi-faksi yang telah lenyap dan para pemimpinnya, yang berada di bawah payung Otoritas Palestina, tidak lagi mampu menggalang 100 orang saja dalam satu aksi demonstrasi damai? Adapun perwakilan dari orang Palestina yang hidup di luar negeri, mereka telah didorong oleh Kesepakatan Oslo, dan masih absen dari pengaturan yang terkait dengan mereka. Di PLO, mereka disebut sebagai departemen ekspatriat, melupakan fakta bahwa orang-orang Palestina di pengasingan adalah karena dipaksa mengungsi dari negara mereka dan dilarang untuk pulang kembali.

Siapakah para anggota untuk dewan berikutnya? Apakah ada anggota lama yang dikecualikan? Ketidakjelasan ini telah mendorong seorang anggota Komite Eksekutif PLO, Taysir Khalid, untuk menanyakan apakah tiga anggota Komite Eksekutif telah dikeluarkan dari keanggotaan di dewan yang baru.

Mereka bertiga adalah Farouk Kaddoumi, Yasser Abed Rabbo dan Ali Ishaq. Dia menekankan bahwa anggota Komite Eksekutif memiliki keanggotaan tetap di Majelis Nasional. Oleh karena itu, jika bahkan anggota Komite Eksekutif, tidak tahu siapa anggotanya, hanya beberapa hari sebelum Dewan itu mengadakan sidang, juga tidak tahu nasib kolega mereka di Komite Eksekutif, lalu siapa yang akan tahu? Saya harus menunjukkan bahwa ada pembicaraan tentang tawar-menawar dengan anggota baru (siapakah yang memilih mereka?) Sebelum mereka ditunjuk untuk memastikan mereka setuju untuk hadir. Selanjutnya, ketentuan-ketentuan telah diberlakukan pada faksi-faksi yang turut serta yang menetapkan bahwa mereka memilih anggotanya dari dalam wilayah penjajahan atau memilih individu yang dapat memperoleh persetujuan dari musuh untuk memasuki wilayah-wilayah ini. Ini adalah upaya untuk mencapai kuorum.

Kampanye yang paling berbahaya adalah melawan oposisi, yang, paling tidak, mencegah rakyat Palestina mempertahankan persatuan internal. Kata-kata yang dikatakan oleh syahid Yasser Arafat dalam menghadapi musuh Palestina, “apakah mereka suka atau tidak” sekarang sedang dikatakan kepada orang-orang kita sendiri. Adapun bagi Hamas, mereka yang berkoordinasi dengan musuh pada sebuah tingkat keamanan mengklaim bahwa Yitzhak Rabin mendirikan gerakan itu. Sementara itu, warga Gaza dan anggota PNC yang berada di sana, termasuk mereka yang independen dan mereka yang berafiliasi dengan Fatah dan pihak lain, mereka dipaksa untuk minum dari laut Gaza yang telah terkontaminasi oleh limbah. Lautnya telah semakin tercemar mengingat sanksi Otorita Palestina yang termasuk memotong aliran listrik untuk penyulingan. Selain itu, mereka telah menderita karena provokasi ketegangan sektarian dan upaya untuk mengaduk-aduk situasi untuk membenarkan pengecualian orang lain.

Rakyat Palestina sangat membutuhkan sebuah Dewan Nasional Palestina yang bersatu yang mempertahankan PLO sebagai perwakilan yang satu-satunya dan sah bagi rakyat Palestina. Mereka membutuhkan sebuah dewan yang memulihkan dan merumuskan kembali proyek nasional mereka untuk melawan dan mengalahkan penjajahan, serta mengambil tindakan yang serius dan efektif untuk menggagalkan “Kesepakatan Seabad” serta upaya normalisasi Negara Arab dengan penjajah. Dewan yang bersatu adalah jalan menuju pembebasan dan alat untuk pembangunan. Kami tidak membutuhkan dewan yang akan menambah tingkatan baru ke dalam divisi struktur dan melemahkan PLO yang telah ditelan oleh Otorias Palestina dan telah dilumpuhkan oleh negosiasi dan Kesepakatan Oslo. Sementara itu, Otoriatas Palestina menyebabkan kapasitas representatif PLO menjadi diragukan setelah monopi yang dilakukannya (i7).

Artikel ini pertama kali muncul dalam bahasa Arab di Al-Araby Al-Jadeed pada 29 April 2018.

Pendapat dalam artikel ini adalah milik penulisnya dan tidak harus mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor

Sumber: www.middleestmonitor.com, terbit: 30 April 2018 pukul 3:46 siang.

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *