280 Ribu Rakyat Palestina Tunaikan Shalat Jumat Keempat Ramadhan di Masjid Al-Aqsha


Hari ini (08/06) dalam suasana spiritual yang khas dan meskipun dalam kondisi sangat ketat dan prosedur yang diberlakukan oleh Penjajah Zionis, 280 ribu warga Palestina berhasil menunaikan shalat Jumat yang ke-empat di bulan suci Ramadhan di Masjid Al-Aqsa dan Kubah Al-Sakhra di Yerusalem yang tejajah.

Khotib Masjid Al-Aqsa di dalam khutbah Jumat-nya menerangkan bahwa “Jumat terakhir di bulan Ramadhan ini adalah Jumat Masjid Al-Aqsa  telah memasuki tahun yang ke-51 dimana  kehormatannya dilanggar.”

Warga Palestina berbondong-bondong sejak pagi gelap di hari Jumat menuju ke kota Al-Quds atau Yerusalem yang dijajah untuk melaksanakan sholat Jumat yang terakhir di bulan Ramadhan di Masjid Al-Aqsha yang diberkahi, di tengah langkah-langkah keamanan ketat Israel.

Pos pemeriksaan militer yang memisahkan Tepi Barat dan Yerusalem telah diaktifkan sejak pagi hari.

Otoritas Penjajah Israel melarang pria di bawah usia 40 tahun memasuki Yerusalem, dan membolehkan wanita dari berbagai usia untuk memasuki kota itu.

Terjadi hiruk pikuk besar di pos pemeriksaan Qalandiya, yang memisahkan kota Ramallah dan Yerusalem, di bagian yang diperuntukkan khusus untuk kaum pria.

Di sepanjang dinding pemisah antara Al Ram dan Yerusalem juga terjadi aksi kejar-kejaran pasukan militer mengejar para pemuda yang mencoba menyeberangi dinding agar bisa mencapai kota Yerusalem.

Tentara Penjajah Zionis itu menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk mencegah para pemuda melompati tembok.

Baca juga: Video – Pemuda Palestina Lompati Pagar Untuk Sholat Jumat

Para pemuda itu saat berupaya melompati tembok berkata: “tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi kami untuk bisa sampai di kota Yerusalem. Ini adalah kota kami dan hari ini kami akan shalat di Masjidnya Masjid Al-Aqsha.”

Dia menambahkan bahwa “para tentara penjajah telah mengejar-ngejar para pemuda sejak pagi gelap, tapi sebagian dari pemuda sudah berhasil menyebrangi pagar dan kami juga mampu melakukannya.” Para pemuda memanjat pagar pemisah dengan menggunakan tangga kayu dan menggunakan tali khusus untuk bisa menyebranginya.

Pemuda lainnya yang berhasil menaiki tangga kayu “Kami pergi ke kota Yerusalem, sesungguhnya ini adalah jumat terakhir bulan suci Ramadhan. Tiada lagi yang dapat menghalangi kami, tidak dinding pemisah dan tidak pula pos pemeriksaan militer.”

Yang terjadi biasanya kepada para pemuda yang melompati dinding sering kali mengalami penganiayaan militer, juga terjatuh bengkak dan patah tulang.

Pada tanggal 6 Desember 2017, Donald Trump mengumumkan pengakuan negaranya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan negaranya ke kota tersebut.

Amerika Serikat membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada tanggal 14 Mei, dan dua hari kemudian Guatemala turut memindahkan kedutaan besarnya ke kota itu, lalu diikuti oleh Paraguay menjadi negara ketiga yang mengambil langkah seperti itu.

Rakyat Palestina, negara-negara Arab dan negara-negara Islam dan sebagian besar negara di seluruh dunia mengutuk pemindahan kedutaan ke Yerusalem, dimana komunitas internasional menggapnya sebagai kota yang dijajah. (i7)

—————–

Sumber: www.arab48.com, terbit: 08/06/2018 – 13:29.

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *