Bagaimana ‘Israel’ Dapat Merayakan Paskah Saat Menyangkal Hak Pemeluk Kristen Palestina untuk Bepergian?

Pasukan Israel dan-Pemukim Yahudi terlihat berada di Hebron saat perayaan Paskah [Wisam Hashlamoun / Apaimages]


Oleh: Yvonne Ridley

Salah satu kisah keagamaan teragung yang dimiliki bersama pemeluk Yahudi, Kristen, dan Muslim adalah Keluaran Musa dan Bani Israel dari perbudakan di Mesir lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Akhir pekan ini kisah ini akan diingatkan kembali dan direfleksikan di rumah-rumah pemeluk Yahudi di seluruh dunia dimana keluarga-keluarga berkumpul bersama untuk perjamuan tradisi Paskah.

Perayaan keagamaan tahunan ini sering bertepatan dengan perayaan Paskah penganut Kristen, dimana umat Kristen di dunia berkumpul di gereja-gereja mereka untuk mengingat apa yang mereka yakini sebagai penyaliban dan kebangkitan Yesus. Acara berbahagia  bagi Umat Kristen ini akan dirayakan di mana-mana.

Selama hampir 2.000 tahun terakhir, umat Kristen Palestina telah berbondong-bondong ke Yerusalem dan bahkan ke Betlehem pada perayaan Paskah. Tahun ini, bukan untuk pertama kalinya, umat Kristen Palestina yang tinggal di Jalur Gaza yang terkepung tidak akan dapat melakukan ziarah ini. Izin masuk bagi ziarah untuk tujuan khusus ini ditolak oleh otoritas penjajah ‘Israel’ yang  tidak berhati nurani.

Jadi, di saat pemeluk Yahudi ‘Israel’ akan memperingati seruan abadi Musa untuk “Biarkan umat-Ku pergi” dalam Paskah, jangan pikirkan tentang pemeluk Kristen Palestina di Gaza yang berdiri di antara sekian banyak pemeluk Kristen yang teraniya di Timur Tengah saat ini.

Namun, kelompok-kelompok seperti Christian United for Israel (CUFI) tampaknya menyangkal bahwa ziarah semacam ini bahkan ada. “Timur Tengah adalah salah satu tempat paling berbahaya bagi pemeluk Kristen untuk hidup,” katanya di situs webnya. “Komunitas Kristen kuno di wilayah ini telah dihancurkan oleh terorisme dan penganiayaan. ‘Israel’ adalah satu-satunya tempat yang aman bagi orang Kristen di Timur Tengah. “

Saya menghubungi CUFI – organisasi akar rumput pro-Israel terbesar di Amerika – untuk berkomentar tetapi pada saat tulisan ini disusun tidak ada yang merespon. Situs web CUFI, sementara itu, membanggakan bahwa ia “berusaha untuk bertindak sebagai perisai pertahanan terhadap kebohongan anti-‘Israel’, boikot, teologi buruk dan ancaman politik yang berusaha mendelegitimasi keberadaan ‘Israel’ dan melemahkan hubungan dekat antara ‘Israel’ dan Amerika Serikat.”

Kelompok lobi yang pro-‘Israel’, dan bukannya pro-Kristen ini, tidak sendirian dalam mengabaikan para pemeluk Kristen Palestina dan situasi buruk mereka dibawah penjajah ‘Israel’ terhadap tanah air mereka. Umat ​​Kristen yang teraniaya di Irak, Suriah, dan tempat lain di Timur Tengah menjadi fokus solidaritas internasional dari para pemimpin Kristen termasuk Paus Katolik Roma Francis dan Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, serta Kepala Gereja Anglikan, Ratu Elizabeth. II – “Sang Pembela Keimanan” – tetapi mereka semua tetap membisu perihal situasi buruk umat Kristen Palestina, yang merupakan pewaris komunitas Kristen yang asli di Tanah Suci.

Sementara itu ‘Israel’ telah mengizinkan 200 orang pemeluk Kristen Palestina yang berusia 55 tahun ke atas untuk melakukan perjalanan dari Gaza ke Yordania, namun mereka yang ingin mengunjungi Gereja Makam Suci di Yerusalem yang dijajah telah ditolak izin perjalanannya. Mereka bahkan tidak bisa pergi ke Gereja Kelahiran di kota Betlehem Tepi Barat yang dijajah.

LSM Gisha berbasis di ‘Israel’, yang namanya bisa berarti dua “akses” dan “pendekatan”, didirikan pada 2005 untuk melindungi kebebasan bergerak bagi semua warga Palestina, terutama yang berada di Gaza. Kebebasan seperti itu seharusnya dijamin oleh hukum internasional dan ‘Israel’. “Ini adalah pelanggaran mencolok terhadap kebebasan orang untuk bergerak, kebebasan beribadah dan kebebasan menikmati kehidupan keluarga bagi pemeluk Kristen di Gaza,” desak Gisha ketika ditanya tentang pembatasan tersebut, dia menggambarkan itu sebagai contoh dari “kebijakan rasis ‘Israel’ yang lebih luas.”

Apa yang terjadi terhadap pemeluk Kristen Palestina pada Paskah ini merupakan sebuah foto realitas kehidupan bagi semua warga Palestina sejak awal penjajahan ‘Israel’ di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967. IDF (militer Israel) telah melembagakan serangkaian kebijakan yang kompleks dan penuh dendam serta kebijakan dan praktik untuk mengendalikan pergerakan 4,5 juta warga Palestina yang tinggal di sana. Hak asasi manusia dilanggar, termasuk hak untuk hidup, hak untuk mengakses perawatan medis, hak untuk pendidikan, hak untuk mata pencaharian, hak keluarga untuk menyatu dan hak kebebasan beragama. Ini adalah hal yang pastinya diakui oleh Musa dan Bani Israel, karena pada esensinya penindasan tidak benar-benar berubah selama ribuan tahun.

Memang, seruan Musa untuk “Biarkan umatku pergi” telah bergema selama berabad-abad, dan digunakan oleh Pendeta Baptis Afro-Amerika yang kharismatik, Dr. Martin Luther King dalam pidatonya yang menggemparkan di Tennessee pada April 1968, hanya 24 jam sebelum dia dibunuh. Banyak pergerakan hak-hak sipil dan pembebasan lainnya juga ikut berseru. Menteri pemerintah Afrika Selatan Sibusiso Ndebele bahkan menyamakan mantan Presiden Nelson Mandela dengan Musa (yang berkata) saat mendengar kematiannya: “Tuhan telah memberi Afrika Selatan seorang … Musa untuk memimpin dan membebaskan rakyatnya dari apartheid dan penindasan.”

Kami telah mendengar dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa ‘Israel’ adalah negara bagi pemeluk Yahudi saja, dan bahwa hanya mereka sendiri saja yang memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, dan kami tahu bahwa klaimnya ini tidak hanya beterbangan di hadapan hukum internasional tetapi juga dalam Deklarasi Kemerdekaan ‘Israel’ sendiri.  Lalu, bagaimanakah, dia dengan jujur dapat menyangkal pemeluk Kristen Palestina yang hidup di bawah penjajahan ‘Israel’ – karena Israel masih merupakan kekuatan yang menjajah di Jalur Gaza – hak untuk berziarah ke Yerusalem pada saat ini, yang merupakan momen tersuci dalam setahun bagi mereka? Mungkin itu adalah hal lain yang harus dia renungkan saat dia dan rekan-rekan Yahudinya merayakan Paskah di akhir pekan ini. Untuk memperingati kebebasan bersejarah dari perbudakan dan penindasan sambil terus membuat orang-orang tertindas dan terpenjara di penjara (besar) yang terbuka adalah kemunafikan yang paling buruk.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan Middle East Monitor (i7).

——————–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 18/04/2018, pukul: 18:01.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *