”Air, Garam, dan Kegigihan” : Bekal Tahanan Palestina dalam Pertempuran Karamah

Kelaparan mereka bukanlah karena kemiskinan atau kemelaratan, tapi kelaparan mereka adalah kebanggaan dan kehormatan. Dengan perut mereka yang kosong mereka melawan, berjuang demi martabat dengan tubuh mereka yang lemah melawan arogansi para sipir penjara ‘Israel’.

Mereka memasuki hari kedua dalam Pertempuran Karamah-2, semuanya bersikeras untuk meraih tuntutan mereka diantara taring-taring penjajah ‘Israel yang congkak dan penuh kesombongan.

Bekal mereka di dalam pertempuran ini adalah air, garam, dan tekad, dan di belakang mereka ada bangsa yang tabah di Gaza yang terkepung, dan Tepi (Barat) yang tertindas, dan tanah air 1948 yang dirampas, dan diaspora yang tidak jauh, dan di hadapan mereka  ada gerakan perlawanan yang tidak akan meninggalkan mereka sendiri di dalam pertempuran ini.

Faksi-paksi perlawanan telah menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap bahaya yang dihadapi oleh tahanan manapun yang berada di dalam penjara-penjara penjajah selama aksi mogok. Juru bicara Brigade Al-Qassam mengatakan bahwa: sesungguhnya pimpinan Al-Qassam telah menerbitkan instruksi yang diperlukan bagi unit bayangan untuk menekan tahanan musuh, dengan perlakuan  (balasan) yang sama, dan untuk menolong tahanan kami yang pemberani dalam menghadapi kecongkakan penjajah dan arogansinya.

Medan Palestina juga menyaksikan pergerakan kerakyatan di kota-kota dan kamp-kamp, sebagai bentuk solidaritas terhadap para tahanan dalam pertempurannya, di tengah-tengah seruan eskalasi melawan penjajah di sumbu-sumbu pencaharian.

Pada saat laporan ini ditulis, dilaporkan bahwa tahanan bernama Hassan Salama, “pahlawan operasi pembalasan yang suci atas syahid Insinyur Yahya Ayyash,” telah bergabung dalam pertempuran Karama-2, dia adalah orang yang telah menghabiskan 23 tahun di berbagai penjara ‘Israel’.

Para tahanan memilih untuk berperang dengan usus kosong sebagai senjata terakhir dan satu-satunya, untuk menghadapi arogansi penjajah dan menghabisi alterlatif penggantinya, meski amat sulit dan berbahaya langkah ini bagi kesehatan mereka di masa mendatang, dan efek yang merusak kesehatan mereka.

Di dalam pertempuran ini para tahanan mengajukan empat tuntutan dasar antara lain:

Tuntutan pertama: Mereka diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat mereka seperti halnya para tahanan di belahan dunia lainnya – dengan pengecualian tahanan ‘Israel’, diantara contohnya pembunuh nomor-1 di ‘Israel’, yaitu pembunuh PM ‘Israel’ Yitzhak Rabin yang dikenal bernama Yigal Amir – dan itu melalui pemasangan telepon umum yang tersebar di penjara-penjara ‘Israel’.

Tuntutan kedua: mencabut alat pengacau ponsel (selundupan) karena pengelola penjara menolak mengizinkan para tahanan menggunakan telepon umum. Karena alat pengacau itu mencegah berlangsungnya sambungan telepon, juga membahayakan kesehatan dan melenyapkan –atau hampir – kerja perangkat radio dan televisi yang ada di dalam kamar-kamar tahanan.

Tuntutan ketiga:  Memulihkan kunjungan keluarga seperti sediakala, yaitu membolehkan kunjungan keluarga tahanan Hamas dari Gaza untuk melakukan kunjungan sebagaimana halnya tahanan lainnya, dan membolehkan kunjungan keluarga Tepi Barat semuanya dua kali dalam sebulan.

Patut dicatat bahwa ketetapan pelarangan  bagi tahanan Gaza adalah keputusan pada tataran politik di “Israel”.

Tuntutan keempat: Pembatalan semua tindakan dan sanksi yang sebelumnya: ada dua jenis hukuman lama dan baru. Adapun sanksi yang relatif lama telah diambil di tingkat politis terhadap tahanan Hamas:

1- Kunjungan orang-orang yang baru saja disebutkan di atas.

2 – Membatalkan siaran 7 stasiun televisi dari 12 stasiun yang diizinkan bagi Fatah dan semua faksi-faksinya.

3 – Tidak diizinkan bagi tahanan Hamas memasukkan dana ke kantin seperti faksi-faksi lain, yaitu, mereka diperbolehkan memasukkan dana 800 shekel saja dan bukannya 1.200 shekel.

Untuk yang pertama kalinya sejak penjajahan ‘Israel’ 70 tahun yang lalu, Biro Informasi Tahanan mengumumkan langkah kedua pasca mogok makan terbuka, yaitu mogok minum terbuka yang akan dilakukan oleh sekelompok “para penebus” atau para pencari kesyahidan dan ini merupakan nama yang sesuai dari segi lafadz dan maknanya, yaitu kelompok yang siap mati dan mencari kesyahidan di dalam penjara, dimana gerakan tahanan sebelumnya belum pernah menyaksikan langkah semacam ini  yaitu aksi mogok minum secara terbuka . (i7)

—————-
Sumber: www.palinfo.com, terbit: 09/04/2019, jam: 18.13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *