TERUSIR DARI SEJARAH

Yarmuk bagi umat Islam adalah sebuah kata penting yang begitu disebut akan segera diidentikkan dengan pertemuan besar sebuah civil society, negara baru Islam di Madinah yang menjawab tantangan kekuatan adidaya Romawi. Di bawah kepemimpinan Panglima Besar Khalid bin Walid di masa Abu Bakar yang mengirim ekspedisi ke negeri Syam untuk membuka jalan ke kota Al-Quds, umat Islam meraih kemenangan penting melawan pasukan besar yang berkekuatan nyaris tujuh kali lipat.

Sejarah megah itu ternyata terhapus dengan kejadian-kejadian memilukan akhir-akhir ini.

Tempat indah nan asri itu kini menjadi mencekam dan mengerikan.

Di sekitar tempat tersebut, pada tahun 1957 M dibangun sebuah kamp pengungsian untuk warga Palestina yang terusir dari negaranya. Terutama pasca pengusiran besar-besaran dan terjadinya Perang Arab Israel pada tahun 1948 M. Kamp Pengungsi Yarmuk memiliki luas wilayah sekitar 2.110.000 m2. Terletak di sebelah selatan wilayah Suriah, berdekatan dengan dataran tinggi Goland dan berbatasan dengan Yordania. Sekitar  delapan km dari kota Damaskus ke arah selatan.

Kamp pengungsian Yarmuk kini menjelma menjadi kamp pengungsian Palestina yang terbesar di Suriah. Di dalamnya terdapat empat buah rumah sakit cukup besar dan beberapa sekolah, di antaranya didirikan oleh UNRWA. Di samping beberapa fasilitas umum lainnya. Pada tahun 1996 sampai akhir sembilan puluhan berturut-turut negara-negara Eropa dan Amerika ikut bergabung dengan negara-negara Arab untuk berbagai proyek medis di sana. Pemerintah Canada mengupgrade beberapa fasilitas kesehatan, Pemerintah Australia membuat tempat-tempat penitipan anak. Kini tempat pengungsi Palestina terbesar tersebut pelahan diperbarui dan diremajakan beberapa gedungnya. Meski tetap sangat padat untuk dijadikan sebagai hunian yang nyaman. Baik hunian sementara, apalagi bersifat permanen.

Tempat ini relatif aman dan tenang. Bahkan saat terjadi gejolak politik dan konflik kekerasan di Suriah sejak 2011 lalu tempat ini jauh dari hiruk pikuk kekacauan. Bahkan Kamp Pengungsi Yarmuk tidak hanya menampung pengungsi Palestina, para korban perang di Suriah pun sebagian ada yang mengungsi ke tempat ini. Berangsur-angsur menjadi penampungan pengungsi perang di Suriah. Namun, sejak bulan Desember 2012 Pengungsian Yarmuk berubah menjadi tempat yang menegangkan, tak lagi seperti sedia kala. Beberapa kali operasi militer dilakukan oleh rezim Assad untuk menyisir oposisi dan gerakan perlawanan yang disinyalir menurut mereka bersembunyi di dalam pengungsian ini. Tentunya seiring dengan semakin terdesaknya pasukan penguasa oleh gerakan perlawanan. Lambat laun baku tembak yang tadinya terjadi di tepian pengungsian kemudian masuk ke tempat-tempat penting. Sebuah masjid besar, Masjid Abdul Qadir al-Husaini menjadi saksi gempuran udara pasukan Assad. Diikuti beberapa tank dan peralatan berat angkatan darat mengepung pengungsian tersebut. Puncaknya adalah serangan udara yang sangat sadis pada 24 Juli 2013. Beberapa rudal di jatuhkan di beberapa tempat di dalam kamp pengungsian. Beberapa di antaranya disertai gas kimia yang beracun. Korban jiwa meninggal dan luka-luka mencapai angka 1500 orang.

Bagi pengungsi Palestina di Yarmuk ini adalah kisah nyata yang mereka alami lebih dari enam puluh tahun yang silam. Sebagian kecil segera teringat peristiwa memilukan di tahun 1948. Saat tanak mereka di rampas oleh orang-orang yang bahkan mereka tak pernah mengenalnya. Sebagian mendapat cerita kakek moyangnya. Seolah kisah itu kini terulang padanya. Terusir dari rumahnya. Diburu dan dikejar-kejar seperti penjahat besar.

Konflik kekerasan yang terjadi di Suriah di atas meninggalkan berbagai kisah duka yang beragam serta bermacam-macam. Menyisakan pilu yang sangat dalam. Bukan hanya bagi warga Suriah tapi bagi seluruh penduduk bumi yang sebagian besar kebingungan harus dengan apalagi membantu. Sebagian memang cuek tak beraksi apalagi peduli dengan mereka. Sebagian sudah memberikan bantuan materi dan uang. Sebagian memberi dukungan moril dengan doa.

Bagi para penghuni kamp pengungsi Yarmuk ini adalah musibah besar. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain mulai mencari alternatif tempat berlindung. Tak lagi sekedar berpikir ke mana hendak berpindah tempat, tapi mereka harus segera memutuskan langkah penyelematan. Karena mereka diintai para “pencabut nyawa” yang sadis.

Tadinya negara Mesir merupakan salah satu negara yang siap menampung mereka. Tak heran jika gelombang imigrasi pengungsi Palestina dari Yarmuk mulai berdatangan dan kemudian membludak ke negeri seribu menara tersebut. Terutama sejak proses panjang pemilihan umum mengangkat Presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyatnya di negeri itu. Tapi itu tak berlangsung lama. Semenjak pemerintah sah di Mesir dikudeta oleh militer, gelombang pengungsi Yarmuk dari Suriah terhenti. Bahkan, orang-orang Suriah di Mesir mulai dipulangkan kembali ke negaranya, termasuk pengungsi Yarmuk yang semakin terkatung-katung. Tak sedikit yang dideportasi langsung di bandara atau pelabuhan saat mereka mencoba untuk memasuki Mesir. Dengan alasan, tidak ada konfirmasi resmi dari Pemerintah Suriah.

Jelas saja demikian. Karena sebagian besar pengungsi tersebut adalah orang-orang yang marah terhadap pemerintah Suriah, meskipun tentunya tak semuanya mendukung oposisi dan gerakan perlawanan. Lantas, bagaimana mungkin mereka akan mendapatkan konfirmasi dari pemerintah Suriah?

Sebagian ada mencari peruntungan melalui jalur laut menjadi imigran gelap. Nasibnya pun tak jauh beda. Dikejar dan diburu tentara penjaga pantai. Dideportase dan diusir. Atau meninggal di tengah keganasan ombak laut. Atau bahkan tenggelam di telan lautan karena arah berlayar yang salah, navigasi yang tak bagus.

Yarmuk yang tadinya indah dan dikenal sangat ikonik dengan kemegahan salah satu jejak sejarah Islam. Ditulis kisahnya dengan tinta emas. Kini berubah total menjadi mengerikan dan menyeramkan untuk disebut apalagi dikenang. Terlalu banyak pembantaian di sana. Terlalu banyak kisah pilu tersimpan. Terlalu sulit untuk divisualisasikan penderitaan para penghuni dan pengungsi yang ada di sana.

Yarmuk emas… berubah menjadi Yarmuk merah berdarah.

Pekikan takbir kemenangan yang didengungkan berabad-abad silam berganti dengan jeritan pertolongan dan tangisan anak-anak di antara bau-bau mesiu dan desingan peluru serta gemuruh bom-bom serta gas-gas beracun yang di bawa oleh pesawat-pesawat penghancur yang tak kenal kemanusiaan meski dioperasikan oleh manusia waras.

Secara fisik para pengungsi Palestina di Yarmuk terusir dan kemudian terlunta-lunta dalam ketidakpastian. Negara yang tadinya menjadi tempat naungan mereka di sana, Suriah kini tak bisa diharapkan. Kemudian Mesir, juga serupa tak menghendaki kehadiran mereka. Air lautlah yang membawa mereka ke salah satu di antara dua pilihan. Kematian yang misterius di tengah samudera yang maha luas atau daratan yang tak ramah yang bisa juga akan kembali mengusir mereka.

Secara non fisik sejarah Yarmuk juga akan bergeser. Kisah cemerlang umat Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid akan terusir oleh kisah kejam rezim Assad yang membantai orang-orang sipil tak berdaya. Bahkan mereka –hanya- para pengungsi yang sebelumnya juga terlunta-lunta dan diusir dari tempat tinggal sah mereka di Palestina.

Sejarah kegemilangan terusir oleh sejarah kelam episode kezhaliman.

Kisah-kisah tak manusiawi pun mudah ditemukan di sana. Di saat yang sama mereka yang terusir paksa tersebut tak lagi menemukan atap tempat berteduh dari panas dan berlindung dari dingin. Karena kezhaliman di berbagai tempat “sementara” bersatu menolak mereka.

Terusir dari tempat penampungan, terkatung-katung dalam ketidakpastian. Sebagian dilahirkan sebagai pengungsi, hidup dipengungsian. Besar dan berpindah-pindah dari tempat-tempat penampungan sementara. Kini, entah bumi mana lagi yang akan menerima mereka. Apa bumi emas seperti Yarmuk yang akan menerima? Atau sejengkal tanah yang sebelumnya tak disebut sejarah? Atau tempat lainnya yang hanya diketahui oleh pemilik sesungguhnya, Dzat yang serba maha.

AlLâhumma farrij karbahum wa kurûbal muslimîna jamî’an yâ arhamar-Râhimîn.

Catatan Keberkahan 019

Jakarta, 21.10.2013

Untuk para pengungsi Palestina di Yarmuk. Allah akan pilihkan bumi terbaiknya untuk kalian. Cepat atau lambat. Dan akan disediakan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *