Tahanan Difabel Palestina Lanjutkan Mogok Makan Sejak 24 hari berturut-turut”

Seorang tahanan difabel Amir Asaad dari Kufur Kana bagian dari wilayah Palestina jajahan melanjutkan aksi mogok makannya selama 24 hari berturut-turut.

Menurut Komite Urusan Tahanan, Asa’ad melakukan aksi mogok makan sebagai aksi protes atas perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya di penjara Zionis “Jalbu”

Dia mengkonfirmasi bahwa tahanan itu Asaad telah mengatakan kepada pengacara bahwa dia melakukan aksi mogok makan dikarenakan hidupnya yang selalu di atas kursi roda karena cacat. Ini membuatnya perlu tinggal di tempat khusus karena kondisi kesehatannya yang spesifik terkait penggunaan kamar mandi. Dia menunjukkan bahwa satu-satunya bagian  di penjara itu yang sesuai untuk kondisinya adalah “bag. No.1” karena pintu kamar mandinya yang besar dan cocok agar kursi rodanya bisa masuk bersamanya. Tapi pihak yang berwenang di penjara itu menolak dia masuk ke dalam “bag. No. 1” dan memilihkan untuknya ke bagian lain.

Menurut Asaad “Saya sekarang tinggal di bagian sel dimana kondisi hidup dan kesehatan saya susah dan terisolir.Karena sel tempatnya sekarang hanya terdiri dari tempat tidur di lantai dan kamar mandi gaya arab tradisional. di sini saya menjalani hidup saya yang terisolir sendirian, dan menghadapi banyak kesulitan sepanjang waktu. Karena itu saya tidak akan berhenti dari aksi mogok ini sampai tuntutan saya untuk diperlakukan secara manusiawi mendapat tanggapan.

Komite menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas kondisi yang dialami oleh tahanan difabel Amir Asaad karena jika dibiarkan dia tetap di selnya yang terisolir itu hidupnya benar-benar dalam ancaman yang nyata. Organisasi itu menuntut agar Amir segera dibebaskan karena penjajah Israel bertanggung jawab penuh atas nyawanya.

Komite itu menyebutkan bahwa tahanan yang bernama Amir Asaad ini berkebutuhan khusus di dalam penjara penjajah. Sebelumnya, dia pernah menjalani sesi terafi fisik yang kemudian terputus lantaran penangkapannya. Dia menghabiskan masa enam tahun terakhir dengan menjalani  terapi di rumah sakit penjara Ramallah. Dia benar-benar membutuhkan perawatan dan perlakuan khusus, dan masa hukumannya dijadwalkan berakhir pada bulan Juni tahun ini (palinfo/i7).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *