Suripto: Ada 2 Misi yang Kami Bawa ke Gaza

Aksi solidaritas terus mengalir untuk Palestina. Kepedulian dan simpati dari dunia Internasional yang tergabung dalam bentuk lembaga-lembaga kemanusiaan, terus berupaya meringankan beban saudara-saudara mereka yang kehilangan hak-hak mereka di tanah airnya sendiri. Tak terkecuali Indonesia. Berbagai lembaga kemanusian bermunculan dan saling bahu membahu memberikan dukungan moril dan materil untuk bangsa Palestina.

Baru-baru ini 14 orang relawan kemanusiaan yang tergabung dalam Asia Pasific Community for Palestine (ASPAC) melaksanakan kunjungan ke Gaza. Apa yang mereka lakukan disana? Berikut kami sajikan wawancara singkat wartawan Majalah Cahaya Keadilan, Muhammad Syadid dan kru Buletin SINAI Mesir bersama Bapak Suripto, salah seorang delegasi ASPAC disela-sela waktu transit beliau di Kairo, Senin(14/5).

Barangkali masih banyak yang belum mengenal lembaga ASPAC, mungkin bisa bapak ceritakan sedikit tentang apa itu ASPAC?

ASPAC itu adalah singkatan dari Asia Pasific Community for Palestine. Resmi didirikan pada bulan Oktober 2011. Merupakan gabungan dari beberapa NGO yang ada di wilayah Asia-Pasific yang berkantor di Jakarta. Jadi ruang gerak kita masih pada tingkat regional. Dan saya adalah salah satu pengurusnya. Dan ada juga dari luar Indonesia, seperti Malaysia.

Apa tujuan dari dibentuknya ASPAC?

Tujuan yang akan kita capai adalah membangun kepedulian masyarakat Asia-Pasifik terhadap permasalahan Palestina. Selain itu kita berupaya menyatukan berbagai NGO yang ada agar kita tak bergerak sendiri-sendiri dalam mencarikan solusi Palestina. Walaupun faktanya usaha itu belum berjalan maksimal. Kita masih berjalan sendiri-sendiri.

Terkait kunjungan delegasi ASPAC ke Gaza beberapa hari lalu, dalam rangka apa?

Kunjungan yang kita lakukan ke Gaza ini adalah dalam rangka menjalankan agenda aliansi Internasional Eropa dan Asia mengunjungi Gaza, yang dalam hal ini menyaksikan langsung pembukaan tanah waqaf Al Quds, karena diatasnya nanti akan dibangun Islamic Centre, hotel dan beberapa fasilitas umum lainnya. Semestinya kunjungan ini dilaksanakan pada bulan Maret yang lalu. Tapi dikarenakan berbagai kendala, akhirnya agenda ini baru terlaksana pada 8 Mei

Adakah misi lain dari kunjungan ASPAC ini?

Iya, ada. Ada dua misi yang kami bawa ke Gaza. Yang pertama adalah menyalurkan bantuan yang berhasil digalang oleh beberapa NGO yang ada di Indonesia untuk disalurkan kepada rakyat Gaza. Diantaranya KNRP, Salimah, Dewan Dakwah Indonesia dan beberapa organisasi lain. Bantuan yang disalurkan berupa uang, buku-buku dan kebutuhan lainnya.

Adapun misi kita yang kedua adalah dalam rangka menginventarisir apa saja yang kira-kira dibutuhkan oleh masyarakat di sana, dan sabagai acuan bagi proyek-proyek kita berikutnya. Dengan ini kita bisa tahu apa yang saat ini dibutuhkan di sana. Misalnya permasalahan yang ada berkaitan dengan listrik, air, pengungsi dan lain-lain. Lalu kita bisa fikirkan apa solusi yang bisa kita usakan. Misalnya pendidikan, peningkatan teknologi, penyediaan tempat yang lebih layak bagi pengungsi dan lain sebagainya.

Bagaimana kondisi terakhir di sana?

Kondisi yang saya temui tidak terlalu mencekam. Tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya. Tadinya saya pikir di sana sangat mencekam, nyatanya tidak. Hanya saja kalau malam hari sangat gelap karena di sana tak ada listrik. Semua aktivitas terhenti, kecuali hotel yang masih aktif. Jadi yang ada hanya gelap dan sunyi sekali. Kalau mencekam sih tidak.

Beralih ke tanah air. Bagaimana sebenarnya respon masyarakat Indonesia terhadap permasalahan Palestina?

Ada dua versi respon masyarakat yang kita temui di lapangan. Yang pertama, mereka yang prihatin, simpati dan peduli hingga berjuang mati-matian menyuarakan kepedulian ini. Sementara ada juga versi lain, mereka yang tak begitu simpati dan terkesan sinis. “Ngapain sih ngurusin orang lain? Di negeri kita sendiri masih sering terjadi bencan, kemiskinan belum teratasi dan berbagai problem lainnya.” Ini lebih perlu kita pioritaskan. Untuk itu kita berupaya mencounter pemikiran-pemikiran seperti ini. Dengan cara menerbitkan buku-buku tentang Palestina sebagai upaya penyebaran informasi. Hingga masyarakat manyadari kenapa kita peduli Palestina. Karena sosialisasi via seminar tak mencukupi untuk mencounter pemahaman-pamahaman yang salah yang berkembang di masyarakat.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *