Shabra dan Syatila Malapetaka Yang Harus Ditanggung Pelakunya

Pemimpin Palestina di Beirut menyatakan, pembantaian Shabra dan Syatila yang terjadi 16 September 13 tahun yang lalu, merupakan malapetaka yang akan menyeret pelakunya hingga diteggakan hukum qisas kepada mereka.

Anggota biro politik Hamas, Ezat Rasyiq dalam keteranganya menegaskan, generasi keturunan Palestina tidak akan pernah memaafkan kejahatan Zionis dan kebiadabanya. Mereka tidak akan bebas dari hukuman. Darah bangsa Palestina adalah api yang akan membakar semua orang yang terlibat dalam kejahatan tersebut.

Dalam waktu 72 jam dengan menggunakan berbagai senjata pembunuh mereka meluluh lantakan Shabra dan Syatila. Tak kurang dari 5000 syuhada meninggal syahid akibat kebiadaban mereka. Shabra Syatila adalah pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang akan menyeret para pelakunya ke pengadilan qisash.

Pada saat yang sama, Rasyiq mengkritik perundingan Palestina-Zionis sejak perjanjian Oslo hingga sekarang. Selama lebih dari 20 tahun Palestina tenggelam dalam perundingan sia-sia. Bangsa Palestina dipaksa untuk menyerahkan semua hak-haknya kepada bangsa penjajah.

Pembantaian Shabra dan Syatila terjadi pada 16 September 1982 dilakukan oleh kelompok Anglikan Libanon yang dikenal dengan partai Brigade dan tentara Libanon selatan bekerja sama dengan tentara Zionis selama tiga hari berturut-turut. Memang terjadi simpang siur mengenai jumlah korban secara pastinya antara 750 hingga 3500 orang, terdiri dari anak-anak, wanita, orang tua. Kebanyakan warga Palestina walau ada sebagian warga Libanon juga. (infopalestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *