PARA INSPIRATOR

Suatu ketika Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi nyaris tenggelam di sebuah kolam renang. Ia diselamatkan oleh seorang lelaki. Setelah membenahi pakaiannya ia mengatakan kepada lelaki tersebut

“Katakanlah sebuah permintaan, maka akan aku kabulkan permintaanmu” kata Hajjaj

“Siapakah engkau sehingga mampu memenuhi satu permintaanku?” balas lelaki tersebut.

“Aku adalah Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi”

“Aku hanya memintamu untuk tidak menceritakan kepada siapapun bahwa aku telah menyelamatkanmu”

Selalu saja ada, orang-orang yang enggan ditulis namanya, padahal ia adalah seorang penyelamat. Mereka itulah pahlawan yang kebanyakan dilupakan oleh manusia, tapi takkan pernah dilewatkan oleh Sang Maha Adil Bijaksana.

Sebaliknya, selalu ada orang-orang yang enggan ditulis namanya dalam sejarah. Tapi justru kemudian sejarah melekatkan namanya kuat-kuat dengan goresan emas. Dan hari seperti ini mencatat satu nama besar di antara banyak pahlawan yang dimiliki sejarah, diakui oleh kawan dan lawan, suka atau tak suka. Shalahuddin al-Ayyubi.

Tanggal seperti hari ini 826 tahun yang lalu, tepatnya Jumat 27 Rajab 853 H bertepatan dengan 2 Oktober 1187 M. Shalahuddin al-Ayyubi memimpin pasukannya memasuki kota al-Quds mengambil alih kembali tampuk kekuasaan setelah beberapa tahun lamanya direbut oleh Pasukan Salib. Didahului oleh pengepungan dramatis serta tarik ulur perjanjian serta ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Pasukan Salib terhadap hampir lima ribu penduduk muslim di dalam kota al-Quds.

Sebelumnya Shalahuddin telah menguasai hampir keseluruhan wilayah Palestina kecuali dua kota saja. Al-Quds salah satunya. Al-Quds didahulukan karena memberi dampak besar secara psikis bagi umat Islam. Mengingat posisi kota al-Quds yang sangat penting bagi umat Islam. Kota suci yang diberkahi, kiblat pertama Nabi Muhammad SAW dan para umatnya serta kota persinggahan seluruh para nabi dan utusan Allah di bumi.

Sangat dangkal jika kita hanya melihat hasil pada tanggal di atas. Hal tersebut adalah kumpulan jihad yang dilakukan oleh Shalahuddin sebelumnya. Dimulai dari menyatukan kekuatan Islam. Menaklukkan Mesir sekaligus mengakhiri kekuasaan Dinasti Fathimiyah yang melemah, serta para pemberontak Seljuk dan Abbasiyah serta anak-anak Nuruddin Zanki yang mulai berebut kekuasaan di bumi Syam.

Mesir ditundukkan dengan kekuatan pribadinya sebelum dengan pasukannya. Makanya rakyat menjadi padu bersamanya melawan gempuran dahsyat Pasukan Salib ke Mesir. Dan tak mampu –bahkan- injakkan kaki lama-lama di bumi para nabi tersebut. Shalahuddin bersama rakyat Mesir gagalkan ekspansi salibis. Peninggalan Shalahuddin di Mesir bahkan sangat fenomenal dalam bentuk benteng kokoh yang dipadu dengan saluran air yang memanjang mengelilingi Cairo lama.

Demikian halnya di Suriah, Shalahuddin berhasil menyatukan beberapa wilayah  yang bergejolak, termasuk kekuasaan yang diperebutkan oleh anak-anak Nuruddin Zanky. Kemudian mengokohkan eksistensi dan menyebarkan mentalitas sebagai umat pemimpin kepada pasukannya.

Dari dua kota penting ini, Cairo dan Damaskus, Shalahuddin memperluas gelombang penaklukannya mengarah ke jantung Negeri Syam, Al-Quds yang di dalamnya terdapat al-Masjid al-Aqsha.

Shalahuddin pun taklukkan Akka. Yang hampir seratus tahun tak bisa ditembus umat Islam. Padahal perjalanan dari Akka menuju Al-Quds hanya beberapa hari saja (sekitar 2-3 hari). Tapi umat Islam harus menunggu nyaris seratus tahun lamanya.

Shalahuddin bahkan saat memasuki al-Quds ia menyertakan dan perintahkan pasukannya membawa sebuah mimbar, tempat khutbah. Mimbar yang sudah dibuat dua puluh tahun sebelum hari itu. Oleh mendiang Sultan Nuruddin Mahmud Zanky yang sangat terobsesi ingin taklukkan kembali kota Al-Quds. Namun, hingga akhir hidupnya beliau tak sempat saksikan penaklukan al-Quds yang selalu diidam-idamkan dan diimpikannya.

Nuruddin Zanky adalah salah satu inspirator Shalahuddin dalam penaklukan kota al-Quds.

Nuruddin Zanky adalah salah satu penguasa Seljuk di Iraq dan Aleppo yang berjasa pada keluarganya, ayah dan paman Shalahuddin. Sebagaimana ayahnya, Najmuddin; Shalahuddin sangat loyal terhadap Nuruddin Zanky, Sang Raja Adil dari Seljuk di Damaskus. Shalahuddin muda tergabung dalam barisan tentara Nuruddin. Kemudian ia menjadi salah satu pimpinan penting pasukan inti Nuruddin. Ia mendapat mandat dari Nuruddin untuk pergi ke Mesir, menyusul pamannya Asaduddin untuk menghalau kekuatan tentara Salib yang hendak menyerang Mesir.

Shalahuddin bahkan kemudian merebut kembali Gaza, pada tahun 1170 M, setahun kemudian Aila, setelag itu daerah sekitar Sungai Yordania dan al-Karak.

Empat tahun kemudian, 1174 Nuruddin Zanky wafat sebelum mimpinya tercapai. Dan Shalahuddin ditahbiskan sebagai “Sultan” baru bagi Mesir setelah runtuhnya Dinasti Fathimiyah dan pertanda lahirnya Dinasti  Ayyubiyah.

Sebenarnya Shalahuddin hampir melakukan penyerangan terhadap al-Quds sebanyak dua kali, 1170 dan 1172 M. Tapi Shalahuddin mengurungkannya untuk menjaga hubungan baik dengan Nuruddin Zanky yang masih terus memantaunya. Di lain pihak ia ingin menjadikan wilayah tersebut menjadi terasing dan sulit dijangkau oleh bantuan militer dari Eropa dan pasukan salib sebelum nantinya benar-benar dikepung dari berbagai penjuru.

Shalahuddin kemudian ke Damaskus dan menikahi janda Nuruddin Zanky, Ismah Khotun.Kemudian Shalahuddin perluas wilayah kekuasaannya sampai Aleppo hingga sampai ke Mousul pada tahun 1176 M. Setelah itu seluruh wilayah Iraq tunduk padanya, demikian juga semenanjung Hijaz.

Perang Hithin 4 Juli 1187 M sebagai hari penting bagi Shalahuddin yang mengukuhkan kekuatan militernya sekaligus menjadi mimpi buruk bagi pasukan Salib. Meskipun secara materi personal kekuatan kedua pihak sangat jauh. Shalahuddin membawa dua belas ribu (12000) pasukan muslim, berhadapan langsung dengan tentara salib yang merupakan aliansi Kristen Eropa yang mencapai enam puluh tiga ribu (63000) personil. Taktik yang dipakai Shalahuddin mirip strategi yang diterapkan oleh rasulullah dalam Perang Badar. Jumlah lawan yang demikian besar digiring ke arah perbukitan yang jauh dari sumber/mata air. Kemudian Shalahuddin melakukan pengepungan dari berbagai penjuru. Yang kedua, Shalahuddin menyiapkan berbagai perangkap. Dan yang ketiga memancing pimpinan pasukan salib keluar dan dijauhkan dari tentaranya.

Perang berkecamuk tanpa kendali pimpinan, ditengah teror yang variatif dari pasukan Shalahuddin membuat tentara salib kocar-kacir. Sebagian mulai melarikan diri. Tetapi nyaris setengah pasukan salib terbunuh dalam perang. Tak sedikit di antara mereka menyerahkan diri. Dan sebagian kecil melarikan diri ke arah perbukitan.

Shalahuddin memperlakukan tawanan dengan baik meskipun sebagian ada yang mendapatkan hukuman mati, yaitu pasukan elit tentara salib yang disebut “Ksatria Templar” (Knights Templar) yang dibentuk pada tahun 1119 M pada Perang Salib 1.

Pasca kemenangan di Hithin memberikan suntikan mental bagi umat Islam sekaligus tekanan psikis yang buruk bagi aliansi pasukan salib. Terlebih dengan terbunuhnya tak sedikit dari pasukan elit mereka (Ksatria Templar). Selanjutnya Shalahuddin lebih intensif melakukan strategi penguasaan daerah yang mengelilingi Jerussalem (Al-Quds). Berturut-turut kota-kota yang ditaklukkan Shalahuddin: Asqalan, Akka, An-Nashirah, Haifa, Nablus, Denin, Bisan, Yafa, Beirut, Ramallah, Betlehem, al-Khalil.

Dalam waktu yang relatif singkat (tak sampai dua bulan) daerah-daerah yang sulit dikuasai umat Islam selama ratusan tahun tersebut kini berada di bawah kendali Shalahuddin.

Kabar kemenangan Shalahuddin semakin membuat Jerussalem gempar. Al-Quds yang selama 88 tahun di bawah kekuasaan dan kendali Kristen semakin menyadari detik-detik akhir kekuasaannya. Benteng-benteng yang mengelilingi kota di perketat penjagaannya dan ditutup rapat-rapat. Mereka memusatkan diri di sekitar Masjid al-Aqsha, sebagian area masjid suci ini difungsikan sebagai gereja oleh mereka. Sebagian lain diperuntukkan sebagai tempat tinggal ksatria templar sebagai pasukan penjaga kerajaan, sebagian tempat lainnya untuk menyimpan senjata dan logistik perang. Yang menyedihkan adalah sebagian tempat dijadikan kandang kuda. Pemusatan pasukan dan warga sipil Kristen mencapai lebih dari enam puluh ribu orang. Belum termasuk beberapa ribu tawanan umat Islam.

Selanjutnya Shalahuddin bergerak ke Al-Quds, pada tanggal 20 September 1187 M, Shalahuddin memulai pengepungan. Beberapa pasukan khusus ditugaskan untuk menembus benteng.

Pasukan Kristen di dalam semakin melemah. Dalam sebuah kesempatan mereka mengirimkan utusan untuk menyampaikan ancaman jika Shalahuddin tidak mundur. Empat ribu lebih umat Islam (laki-laki, perempuan dan anak-anak) yang ada di dalam kota akan dibunuh semuanya. Masjid al-Aqsha akan dirusak, batu suci “ash-Shakhrah” akan dileburkan. Selanjutnya mereka akan melakukan puputan. Menghancurkan kota dan isi-isinya.

Setelah bermusyawarah dan berdiskusi dengan para penasehatnya Shalahuddin mengirimkan pesan perdamaian kepada pasukan Kristen di Yerussalem. Bahwa semua pasukan Kristen dan warga Kristen diminta menyerahkan kota Al-Quds kepada Shalahuddin. Mereka tanpa terkecuali harus meletakkan senjata mereka dan menyerahkannya kepada umat Islam. Semuanya boleh memilih: meninggalkan kota al-Quds dengan membayar tebusan satu dinar emas perkepala. Atau memilih tinggal di dalam kota sebagai tawanan.

Ada beberapa orang tua dan miskin menemui Shalahuddin, mereka mengatakan ingin meninggalkan kota al-Quds. Namun, mereka tak memiliki tebusan sama sekali. Dengan penuh kesantunan Shalahuddin menjawab kegundahan mereka, “Pergilah… Keluarlah dengan aman”

Akhirnya pada hari Jumat, 27 Rajab 583 H bertepatan dengan 2 Oktober 1187 M, umat Islam dipimpin Shalahuddin memasuki kembali kota al-Quds. Menyaksikan tanah suci dan masjid agung al-Aqsha yang sangat berantakan dan tidak terurus.

Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk membersihkan masjid, kemudian beliau secara khusus memimpin prosesi peletakan sebuah mimbar kayu berartistik tinggi yang dibuat dan disiapkan oleh Sultan Nuruddin Zanky sejak dua puluh tahun sebelumnya. Mimbar berumur 20 tahun tersebut diletakkan di dekat mihrab sebagai tanda bagi umat Islam, menandakan kegigihan sang sultan, kesabaran dalam berjuang hingga akhir hidupnya bahkan ia tak menyaksikan penaklukan kembali kota al-Quds. Mimbar tersebut kokoh berdiri selama 782 tahun. Hingga pada tanggal 21 Agustus 1969 dibakar oleh Zionis. Tiada yang tersisa dari mimbar penuh makna tersebut kecuali sebagian kecil saja yang masih ada, tersimpan rapi di Museum Masjid al-Aqsha. Tapi gambarnya tetap terabadikan sepanjang masa. Dan ruh perjuangan pembuatnya, pemiliknya, juga orang yang meletakkannya di sana tersimpan selamanya.

Kekalahan telah Kaum Kristiani di Perang Salib 2 meninggalkan kepedihan yang dalam. Jatuhnya Yerussalem ke tangan Shalahuddin sangat memukul mental tentara salib. Mereka pun menyusun sebuah rencana pembalasan. Aliansi tentara salib yang dipimpin oleh Frederick Barbarossa (Raja Jerman), Richard di Hati Singa (Raja Inggris) dan Philip Augustus (Raja Perancis) bermaksud melakukan serangan balik. Pada tahun 1189 M pasukan besar ini bergerak ke Yerussalem melalui dua jalur, jalur laut dan sisanya melewati Konstantinopel dengan jalur darat.

Frederick Barbarossa meninggal di Cilicia, tenggelam di sebuah sungai. Setelah merebut Akka, Philip kembali ke Perancis karena ada urusan genting di Paris. Tinggallah Richard sendiri berhadapan dengan Shalahuddin. Beberapa kali penyerangan Richard akhirnya menyerah. Pada tanggal 2 Nopember 1192 dibuat sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Ramallah yang berisi bahwa siapa saja dari kaum kristiani yang akan berziarah ke Bait al-Maqdis takkan mendapatkan larangan dan gangguan dari Shalahuddin dan pasukannya.

Dalam perang ini Shalahuddin menunjukkan ketinggian akhlaknya. Ia sendiri mendatangi Richard yang sedang sakit di kemahnya bersama seorang tabib untuk menyembuhkan dan memberinya obat.

Dan Perjanjian Ramallah adalah kejadian penting terakhir yang dilakukan oleh Shalahuddin. Tak lama setelah Richard meninggal, Shalahuddin pun tutup usia. Pemimpin inspiratif tersebut wafat pada 3 Maret 1193 M pada hari Rabu bertepatan dengan tanggal 27 Shafar 389 H. Meninggal di Damaskus, salah satu jantung negeri Syam di utara.

Kebesaran namanya yang disegani musuh dan dihormati oleh siapa saja serta dicintai oleh umat Islam sangat kontras dengan kehidupan pribadinya. Sepeninggalnya dalam brangkas pribadinya hanya ditemukan 47 dirham an-Nashirah serta satu gram –saja- emas Suriah. Ia bahkan tak meninggalkan warisan materi yang berharga selain wasiat menjaga Masjid al-Aqsha. Tak ada rumah dan istana mewah melainkan kerajaan Dinasti Ayyubiyah yang ditinggalkannya dan diamanahkan kepada para keturunannya juga umat Islam.  Meski dinasti ini tak berumur lama, tapi telah mempersembahkan dan melahirkan seorang pemimpin yang inspiratif, bernama Shalahuddin al-Ayyubi yang sangat terinspirasi oleh Sultan Nuruddin Zanky yang sangat menyintai perjuangan dijalan Allah dan memimpikan pembebasan Bait al-Maqdis. Perjuangan tak lelah dan tak kenal menyerah inilah yang menyugesti Shalahuddin untuk tak menakuti siapa saja selain Allah.

Adapun anak-anaknya terngiang pesan terakhirnya, “Wahai anakku, aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Allah. Sesungguhnya taqwa adalah induk dari semua kebaika. Aku perintahkan dengan apa yang diperintahkan Allah kepadamu ini. Karena ia adalah sebab kesuksesanmu. Hati-hatilah dengan darah. Jangan membunuh dengan syubhat (alasan tidak jelas), Jangan memerangi tanpa sebab, sesungguhnya darah tidaklah tidur. Kuwasiatkan untuk menjaga hati-hati rakyatmu, lihatlah keadaan mereka, perhatikanlah selalu. Engkau adalah wakilku, amanah Allah atas mereka. Jaga pula hati-hati para pembesar kerajaan. Jangan ada dengki dan hasad. Sesungguhnya kematian takkan menyisakan seorang pun dari kalian. Berhati-hatilah dalam berinteraksi dengan manusia. Allah tak mengampuni kecuali dengan ridho mereka. Jangan zhalimi seseorang. Allah tak mengampuni jika mereka tak rela atas kezhalimanmu. Adapun antara kamu dan Allah, Dialah Sang Maha Pengampun yang luas pintu taubatnya bagi orang-orang yang (mau) bertaubat kepada-Nya

Selamat jalan pemimpin yang tegas dan bersahaja. Santun tapi disegani dan dihormati. Diakui lawan dan kawan atas ketinggian akhlaknya. Dicintai oleh siapapun dari rakyatnya, meski mungkin ada sebagian yang kurang puas dengan kepemimpinannya. Teloransi yang diterapkannya mengajarkan batas jelas pelaksanannya yang disertai ketinggian akhlak sekaligus memiliki ketinggian izzah pada agamanya.

RahimakalLâh Wahai Shalahuddin… kami menanti dan sabar menunggu perempuan-peremuan muslimah yang berani dan sanggup melahirkan lelaki sepertimu.

Catatan Keberkahan 016

Jakarta, 02.10.2013

 

Dr. Saiful Bahri, MA.

Ketua ASPAC for Palestine

Dedicated to Shalahuddin al-Ayyubi. Menanti hadirnya para pemimpin seperti Shalahuddin al-Ayyubi. Mengenang al-Fathu ash-Shalâhy (02.10.1187 M/27.07.853 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *