Palestina Sebelum Masa Islam

Kata Palestina berasal dari nama penduduk yang datang dari kepulauan Laut Tengah, terutama wilayah pulau kereta. Penduduk tersebut mengalami paceklik yang selanjutnya mendorong mereka untuk menguasai wilayah pesisir Syam dan Mesir. Namun, Ramses ke-3 mampu mengusir mereka dalam perang Lousin, selanjutnya mengarahkan mereka untuk tinggal di selatan Palestina tepatnya wilayah Palest. Kisah ini tercatat dalam kitab sejarah dan kitab suci agama. Dalam kitab tersebut juga tercantum kata “palest”. Nama mereka selanjutnya dinisbatkan dengan nama palest sebagai tempat mereka tinggal, maka munculah kata Palestina. Penduduk ini hidup berdampingan dengan Kaum kan’an dan Yabosian sebagai penduduk asli di sana. Seiring perjalanan waktu, mereka saling berinteraksi dan berhubungan sehingga menyatukan bahasa dan nasab antara mereka.

Menurut hasil penelitian yang berasal dari zaman batu kuno, disimpulkan bahwa manusia pertama menginjakkan kakinya di Palestina pada abad 500-140 SM, namun tidak diketahui identitas bangsa dan peradaban tersebut. Diikuti dengan penemuan di masa batu tengah, bahwa pada abad 140-80 SM, ada satu peradaban yang disebut dengan peradaban El-Nathof. Sampai pada masa ini, manusia hidup nomaden, tidak menetap di suatu tempat. Sekitar abad ke 8 SM baru ditemukan peninggalan yang mengisyaratkan adanya satu kota yang sekarang dinamakan kota Jericho. Peninggalan yang ditemukan di kota ini dalam bentuk bangunan dan tempat tinggal, menjelaskan bahwa manusia sudah mulai hidup menetap pada satu rumah atau tempat tinggal.

Pada abad 25 SM, Kaum kan’an datang dari Jazirah Arab. Mereka berimigrasi dalam jumlah yang sangat besar. Mereka penduduk pertama yang hidup menetap di Palestina dalam jumlah besar. Kaum kan’an membangun sekitar 200 kota di Palestina, seperti Shechem (Balatah, Nablus) Bashan, Ashkelon, Akka, Haifa, Hebron, Ashdod, A’aqur, Beer Sheba dan Bethlehem. Para sejarawan berkesimpulan bahwa sebagian besar penduduk Palestina hari ini, khususnya penduduk desa adalah anak cucu keturunan kabilah Kan’an dan Amonit juga kabilah-kabilah Arab yang tinggal di sana sebelum masa Islam dan setelahnya. Adapun Yahudi, “nama” mereka belum dikenal pada masa ini. Sebutan Yahudi baru ada beberapa abad kemudian.

Nabi Ibrahim as menuju ke Palestina membawa cahaya tauhid pada 1900 SM. Ibrahim as berimigrasi ke sana, dan bukan penduduk asli. Kedua anak beliau, Ismail as dan Ishak as lahir di Palestina, tetapi mereka bukan penduduk asli, hanya pendatang dan tidak menetap. Selanjutnya Nabi Ishak as memiliki anak, Nabi Ya’kub as, dan Nabi Ya’kub as memiliki anak, Nabi Yusuf as. Kisah yang masyhur bahwa setelah nabi Yusuf as menjadi raja Mesir, Ayah beliau dan anak-anaknya (keluarga Ya’kub) menuju ke Mesir dan menetap di sana. Maka, keluarga Ya’kub as bukan penduduk yang menetap di Palestina. Jika satu generasi keluarga Ya’kub tidak pernah menetap di Palestina, bagaimana mungkin Yahudi mengklaim bahwa Palestina tanah mereka, karena Ya’kub sebagai nenek moyang mereka, sementara satu generasi keluarga Ya’kub saja tidak menetap di sana.

Banu Israel (Yahudi) hijrah ke Palestina dari Mesir, karena mendapat tekanan dan penganiayaan dari para Raja Mesir (Fir’aun) selama berabad-abad. Begitulah, mereka datang ke Palestina hanya dalam rangka hijrah. Allah SWT mengutus Nabi Musa as untuk menyelamatkan mereka. Mereka selamat dari penganiayaan Fir’aun. Tetapi ketika Musa mengajak mereka untuk mendatangi Baitul Maqdis, mereka menolak. Musa as wafat, dan Banu Israel belum sempat masuk ke Palestina.

Pada tahun 1190 SM dipimpin oleh Yusya’ bin Nun as, Yahudi mampu menguasai bagian Timur Laut Palestina. Namun selanjutnya selama 150 tahun, Yahudi dilanda perpecahan, hedonisme, dan tekanan dari Kaum Kan’an, sampai datang raja Thaluth yang menyelamatkan mereka. Dilanjutkan pada tahun 1000 SM, Nabi Dawud as menggantikan Thalut, menguasasi wilayah Yahuda yang beribukota di Hebron. Setelah memenangkan peperangan melawan anak Thalut yang menyalahi wasiat ayahnya tentang kendali kekuasaan dipegang Dawud as sebagai anak menantu beliau, akhirnya beliau memindah ibukota Palestina ke Al-Quds, setelah lepas dari kekuasaan anak Thalut, dan menguasai sebagian wilayah Palestina, di luar wilayah pesisir pantai yang dikuasai Kan’an. Selanjutnya Nabi Sulaiman as (963-923 SM) menjadi raja. Di bawah kendali beliau kekuasaan Yahudi mencapai puncaknya. Masa pemerintahan Nabi Dawud as dan Sulaiman as yang berlangsung selama 90 tahun, di bawah naungan ajaran tauhid dan keimanan adalah masa keemasan kerajaan Yahudi di sana. Masa keemasan itu ada di bawah naungan ajaran Islam yang dibawa Nabi Dawud as dan Sulaiman as.

Dari sini bisa dipahami bahwa kaum Kan’an dan Yabosian telah memerintah Palestina dalam rentang waktu yang begitu panjang, mulai 2500 SM. Mereka lebih dulu menguasai Palestina 1600 tahun sebelum kedatangan Yahudi. Adapun kekuasaan Yahudi secara utuh di Palestina berada pada masa Dawud as dan Sulaiman as, selama 90 tahun, dan setelah itu mereka terpencar di berbagai penjuru bumi.

Pada tahun 740 SM kaum Asyur datang dari Irak menuju Palestina. Di tahun ini mereka mampu menguasai Palestina dan menarik upeti dari penduduk Yahudi. Di bawah kekuasaan Asyur, Yahudi boleh memiliki pemerintahan otonom sendiri. Namun kekuasaan Asyur di Palestina hanya berlangsung delapan tahun.

Kekuasaan Kaum Asyur diambil alih oleh kaum Babel pada tahun 597 SM. Mereka menawan Raja otonom Yahudi yang ada di sana juga sepuluh ribu orang Yahudi. Kaum Yahudi melakukan revolusi terhadap Babel pada tahun 586 SM, namun seorang penguasa Babilonia Nebukadnezar mampu menghadang revolusi tersebut, melawan Yahudi dan mengepung Al-Quds selama satu setengah tahun. Nebukadnezar mampu menguasai Palestina secara total dan menghancurkan kerajaan Yahudi pada tahun 589 SM.  Sebanyak 40.000 Yahudi dipindahkan ke Babilonia, sebagian mereka lari ke Mesir, yang tersisa di palestina hanya jumlah yang sangat sedikit. Nebukadnezar wafat pada 562 SM.

Bangsa Persia menduduki Babilonia dan selanjutnya menguasai wilayah kekuasaan mereka, diantaranya Palestina (539-332 SM). Raja Persia memberi izin kepada Yahudi untuk kembali menetap di Palestina. Sebagian kecil dari mereka kembali dan tinggal di sana bersama penduduk asli.

Di bawah kepemimpinan Alexander The Great, Yunani merebut Palestina dari Persia (332-63 SM). Wafatnya Alexander The Great pada 323 SM menyebabkan kelemahan dan terpecahnya Bangsa Yunani sehingga terbentuk banyak kelompok, diantaranya Saloq. Kelompok ini menganiaya dan menyiksa Yahudi dengan sadis. Mereka memaksa Yahudi untuk menyembah Tuhan Yunani dan meninggalkan peribadatan asli Yahudi. Namun pada tahun 165 SM, Yunani mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan penyiksaan terhadap Yahudi, dan mengizinkan mereka untuk kembali beribadah sesuai kepercayaan.

Pada 63 SM, Romawi merebut wilayah kekuasaan Yunani satu per-satu. Mereka berhasil menguasai Palestina dan mencabut kendali Yahudi di wilayah Al-Quds. Akibatnya, Yahudi melakukan revolusi terhadap Romawi (66 M), namun Romawi mampu menghadangnya, selanjutnya memblokade wilayah Yahudi di Al-Quds dalam rentang waktu sangat lama. Romawi mampu menguasai Al-Quds, menghancurkan infrastruktur dan menahan orang-orang Yahudi serta kembali mengusir mereka dari Palestina dan menjadi budak di Romawi. Hanya sedikit Yahudi yang tetap tinggal di Palestina, mereka hidup secara sembunyi-sembunyi.

Sejak 132 M, Romawi melarang Yahudi untuk memasuki Palestina selama 200 tahun. Selama masa ini Yahudi terombang-ambing, tidak ada yang tersisa di Palestina.

Kaesar Konstantinopel memeluk agama nasrani pada tahun 324 M. Diantara kebijakan yang diberlakukan adalah penegasan terhadap larangan Yahudi untuk memasuki Al-Quds. Penyikapan seperti ini terhadap Yahudi terus berlanjut hingga masa Julian. Pada tahun 395 M kekuasaan Romawi terpecah menjadi dua, di timur yang beribukota di Bizantium dan dikuasai oleh Heraklius yang meliputi wilayahSyam dan Palestina, dan di Barat beribukota di Roma. Kondisi terus seperti ini, dikuasai oleh Nasrani, dan Yahudi tidak memiliki kekuataan hingga masa Rasul Muhammad saw. 

Persia kembali merebut Palestina pada 614 M dari kekuasaan Romawi. Dalam peristiwa ini, Yahudi membantu Persia. Mereka membantai sekitar enam puluh ribu orang Nasrani di sana. Yahudi kembali tinggal di Palestina, namun mereka dibebankan upeti dalam jumlah besar, dan sedikitpun tidak diberi kekuasaan atas sebagian wilayah Palestina.

Dengan pasukan besar pada 627 M, Romawi kembali menaklukkan Palestina dari kekuasaan Persia. Kali ini Yahudi membantu pihak Romawi, sebab sikap Persia sebelumnya yang membebani Yahudi dengan upeti begitu mahal, tanpa sedikitpun memberi kekuasaan atas sebagian wilayah Palestina. Romawi berjanji akan memberikan sebagian wilayah dan kekuasaan di Palestina kepada Yahudi. Namun janji tersebut tidak dipenuhi, mengingat betapa besar penganiayaan mereka terhadap kaum Nasrani sebelumnya, juga penghancuran tempat-tempat ibadah mereka.

Romawi terus memerangi Yahudi, sebagian besar mereka terbunuh, sebagian lagi lari ke luar palestina, dan sangat sedikit yang tinggal di sana secara sembunyi-sembunyi. Saat itu, tidak ada lagi sebutan “yahudi” di Palestina. Saat itu, jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan jumlah penduduk lainnya yang menetap di sana selama 18 abad kemudian. Penduduk asli Palestina, Kan’an dan kabilah Arab menetap di sana, sebelum kedatangan Yahudi, ketika kedatangan, dan setelah mereka keluar dari Palestina, hingga hari ini.

Ahmad Yani, MA.,

Koordinator Bidang Kajian Asia Pacific Community for Palestine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *