Organisasi HAM Minta Blokade Gaza Segera Diakhiri

 Ala Syalabi, Sekjen Organisasi HAM Arab menyerukan semua pihak untuk segera mengakhiri penderitaan warga sipil Palestina umumnya dan warga Gaza secara khususnya dengan membuka perlintasan sebagai arteri kehidupan mereka.

Mengingat kondisi warga Gaza yang sedang mengalami krisis juga kondisi tetangganya sesama bangsa Arab khususnya Mesir yang sedang dilanda kemelut musibah, maka kami meminta masyarakat internasional, para pejabat yang terkait dengan masalah perlintasan agar mendesak pihak-pihak terkait untuk segera membuka blokade Gaza yang sudah berjalan sejak 2007 lalu.

Ia mengisyaratkan, penjajah Zionis masih melanjutkan blokadenya, mengekang pergerakan warga baik secara individu ataupun barang-barang kebutuhanya. Tindakan mereka merupakan hukuman rasis bersifat kolektif terhadap masyarakat yang bertentangan dengan prinsip-prinisp kemanusiaan dan kesepakatan Jenewa ke 4 tahun 1949, khususnya terkait dengan penderitaan warga sipil saat terjadi perang. Maka tindakan Zionis tersebut menunjukan betapa kerasnya kejahatan perang Israel yang menuntut reaksi dan hukuman yang setimpal kepada mereka.

Sekjen ini menegaskan, blokade minimal yang dilakukan Zionis tidak legal yang melarang masuknya kebutuhan mendasar warga, seperti bahan bakar, bahan bangunan yang tentu sangat berpengaruh pada kondisi kehidupan warga, sebagaimana laporan dari komisi HAM PBB terkait kondisi kemanusiaan Palestina sejak tahun 1967. Delegasi PBB untuk urusan kemanusiaan Richard Folk menyebutkan, Jalur Gaza telah hilang perangkat kehidupan mendasarnya selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Syalabi menilai, perlintasan Rafah merukan satu-satunya arteri kehidupan utama bagi warga Gaza. Rafah satu-satunya jendela bagi pergerakan 90 % warga Gaza. Sebelumnya, terowongan di perbatasan antara Gaza dan Mesir merupakan sumber utama pemasok kebutuhan warga, terutama bahan-bahan bangunan yang dilarang Israel masuk Gaza. Laporan HAM sipil Gaza menyebutkan, kehidupan warga secara umum sangat terpengarih dengan adanya penutupan sejumlah terowongan sejak 26 Juni lalu. Keputusan pemerintah Mesir menutup sementara perlintasan Rafah sejak Ahad kemarin harus ditinjau ulang secepatnya, terutama terkait dengan kebutuhan mendasar seperti orang sakit, perjalanan darurat yang harus dilakukan, kadang tidak terpenuhi.

Syalabi mengatakan, walau tanggung jawab utama atas blokade ini ada di pundak Zionis namun masyarakat internasional juga dituntut menghilangkan sikap tak bermoralnya terhadap berbagai kesulitan yang menimpa Gaza, terutama di bagian utara dan selatan Tepi Barat serta sekeliling Al-Quds. (infopalestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *