Mengenang 32 tahun pembantaian Sabra Shatila

Pembantaian Sabra dan Shatila terjadi di dua kamp pengungsi Palestina yang berdekatan di Beirut Lebanon, antara tanggal 16 dan 19 September September 1982 dan dilakukan oleh tentara kristen Lebanon di bawah perlindungan dan dukungan dari pasukan Israel.
 
Pembantaian itu terjadi sebagai aksi balas dendam atas pembunuhan  presiden Libanon terpilih  Bashir Gemayel yang merupakan pemimpin milisi Kristen sayap kanan.
 
Pembantaian Sabra dan Shatila dilakukan hanya satu hari setelah pasukan Israel menduduki Beirut dan mendominasi kamp-kamp pengungsi Palestina dan menguasai pintu masuk ke ibukota dengan dalih 3.000 pejuang Palestina yang berafiliasi dengan PLO yang tersisa di kamp-kamp pengungsi .
 
Milisi Lebanon dengan kejam membunuh ratusan warga Palestina dan Libanon yang tidak bersalah, termasuk perempuan, anak-anak dan awak medis.
 
Pembantaian itu dilaksanakan di bawah pengawasan Menteri Perang Israel pada waktu itu Ariel Sharon, Kepala Staf Rafael Eitan  dan pemimpin Kristen Lebanon Elie Hobeika.
 
Jumlah pasti korban masih diperdebatkan hingga kini. Diperkirakan hampir 3.000 nyawa melayang dan sebagian besar korban tak dikenal dikubur di tempat yang tidak diketahui lokasinya.
 
Pembantaian itu memancing kemarahan masyarakat internasional dan memaksa Perdana Menteri Israel Menachem Begin untuk membentuk komisi khusus yang dikenal sebagai Komisi Kahan untuk menyelidiki pembantaian ini.
 
Setelah penyelidikan selama empat bulan, Komisi Kahan menyimpulkan bahwa Ariel Sharon dianggap bertanggung jawab atas pembantaian itu .
 
Sharon terpaksa pada waktu itu mengundurkan diri dari kantornya dan menghilang dari panggung politik selama bertahun-tahun. Namun ia terpilih sebagai Perdana Menteri pada tahun 2001 Selama pemerintahannya, pembantaian Sabra dan Shatila menjadi noda gelap yang mewarnai sejarah kolonial Israel dan reputasi Ariel Sharon yang kemudian dijuluki Penjagal Sabra Shatila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *