Memori 48 Tahun Pembakaran Masjidil Aqsha

Masjidil Aqsha pernah melewati masa-masa kelam di awal tahun pendudukan. Tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1969, ketika kiblat pertama umat Islam itu dibakar oleh seorang turis asal Australia yang belakangan disebut sebagai Zionis Radikal, yaitu Denis Michael Rohan.

Ia berhasil ditangkap, namun pengadilan Israel menjatuhkan vonis bebas dengan alasan Rohan melakukannya dalam kondisi hilang akal. Pembakaran ini sendiri tercatat sebagai penistaan paling berani dilakukan Israel terhadap masjidil Aqsha. Karena menjadi bagian dari realisasi agenda utama Zionis untuk merobohkan masjid mulia itu dan menggantinya dengan Kuil Ilusi Sulaiman.

Apa yang dilakukan penjajah Israel ini semacam testing the water, mencoba mengetes sejauh mana reaksi umat Islam ketika masjidil Aqsha dibakar. Sikap ini bisa disimpulkan dari pernyataan Golda Meir, PM. Zionis Israel ke-4. Di hari pembakaran itu, Meir mengatakan, “Hari terberat dalam pemerintahanku adalah hari pembakaran Masjidil Aqsha, dan hari termudah dalam pemerintahanku adalah hari-hari yang kulalui pasca pembakaran masjidil Aqsha. Pada dini hari peristiwa pembakaran itu aku tidak bisa tidur, namun di pagi hari betapa aku merasa riang gembira. Karena saat ini kami sedang mengahadapi umat yang lelap tertidur.” 

Seakan sudah direkayasa, pembakaran ini didukung dengan kondisi di lapangan. Seperti yang dikatakan Syaikh Ikrimah Shabri, Imam Masjidil Aqsha, “Saat itu menjadi pemandangan yang mengerikan, lebih sepertiga dari luas bangunan masjid Al-Qibli terbakar,” kenangnya seperti yang ditulis laman Republika.co.id

Ia kemudian menceritakan, ketika pembakaran terjadi, penjajah Israel sengaja memotong saluran air ke areal masjidil Aqsha sehingga pemadaman sulit dilakukan. Bahkan, awak pemadam kebakaran pun dicegah untuk mencapai lokasi. Akhirnya jamaah masjid bahu-membahu dengan menggunakan ember untuk memadamkan api yang terus menjalar. Diantara bagian yang terbakar terdapat mimbar Nuruddin yang dikenal dengan sebutan mimbar Shalahuddin, lalu mihrab Zakaria, bagian atap dan kubah kayu masjid,  maqam Arbain, 48 unit jendela dan 3 koridor masjid.

Memang tragedi ini memberikan dampak terhadap dunia internasional, tapi sekali lagi, seperti yang dikatakan Golden Meir, tidak menakutkan seperti yang ia bayangkan. DK PBB misalnya, pada tanggal 15 September 1969 mengeluarkan resolusi 271 mengutuk Israel atas pembakaran tersebut, dan menyebutnya tidak hormat terhadap resolusi PBB.

Sedangkan di dunia Islam, tragedi pembakaran ini menjadi cikal bakal lahirnya Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang saat ini berganti nama menjadi Organisasi Kerjasama Islam. Sebanyak 57 negara tergabung dalam organisasi ini termasuk diantaranya Indonesia.

Kini sudah 48 tahun berlalu, dan bagaimana nasib masjidil Aqsha saat ini? Jawabannya, masjid itu masih berada di bawah kontrol Zionis Israel. Masjid warisan muslim sedunia itu masih tersandera penjajah, tak mudah bagi umat Islam untuk dapat sholat di sana. Ada batasan umur, ada pemeriksaan dari tentara Israel. Sedangkan para pemukim ilegal Yahudi, diberi keleluasaan tanpa batas, dengan pengawalan ketat aparatnya, mereka dapat melakukan ritual Talmud di dalam masjidil Aqsha. Lantas, masihkah kaum muslimin berdiam diri?

Muhammad Syarief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *