Masjid Al Aqsha Menurut Yahudi dan Nasrani

 

MASJID AL-AQSHA MENURUT YAHUDI DAN NASRANI

Salman Al-Farisi, Lc.

 

Pembahasan mengenai kota al-Quds dan masjid al-Aqsha dari beberapa referensi kitab umat terdahulu, merupakan satu kajian tersendiri yang diharapkan dapat menjadi satu tambahan khazanah pengetahuan dalam mengkaji sejarah yang terdapat dalam kota dan masjid tersebut. Pembahasan mengenai kota al-Quds dan masjid al-Aqsa menurut yahudi dan nasrani menarik untuk dikaji dimulai dari sisi aqidah orang yahudi dan nasrani terhadap kota al-Quds secara umum dan masjid al-Aqsha secara khusus.

A.      Kota al-Quds menurut Yahudi

Kitab Taurat adalah kitab suci Yahudi. Kitab Taurat (Torah, “Instruksi”) adalah lima kitabpertama Tanakh/Alkitab Ibraniatau bagian Perjanjian Lamadi AlkitabKristen. Dalam bahasa Yunanikumpulan 5 kitab ini disebut Pentateukh (“lima wadah” atau “lima gulungan”). Taurat adalah bagian terpenting dari kanon/kitab suci orang Yahudi.[1]

Kelima kitab dalam Taurat adalah:

·         Kitab Kejadian, bahasa Latin: Genesis, bahasa Ibrani: beresyit

·         Kitab Keluaran, bahasa Latin: Exodus, bahasa Ibrani syemot

·         Kitab Imamat, bahasa Latin: Leviticus, bahasa Ibrani wayiqra

·         Kitab Bilangan, bahasa Latin: Numerii, bahasa Ibrani bemidbar dan

·         Kitab Ulangan, bahasa Latin: Deuteronomium, bahasa Ibrani debarim.

Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari Alkitabdan kitab TauratMusaatau Tanakh. Dalam bahasa Ibranikitab ini disebut Beresyit yang berarti “pada mulanya”, sesuai dengan kata pertama dari kitab ini dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasaInggris, kitab ini disebut dengan nama Genesis. Nama tersebut diambil dari terjemahan bahasa LatinSantoHieronimusyang mengambilnya dari Septuaginta(LXX), terjemahan bahasa Yunani(Γένεσις, Genesis). Nama ini merujuk pada Kejadian 2:4 “Demikianlah riwayat penciptaan langit dan bumi”. Kata ‘’riwayat’’ dalam bahasa Ibrani ’’toledot’’ yang berarti memperanakkan atau keturunan. Kitab ini menceritakan permulaan segala sesuatu, baik itu asal-usul alam semesta dan juga bangsa Israel.

Orang-orang yahudi menganggap mereka adalah pewaris Kota al-Quds, yang di dalamnya terdapat masjid al-Aqsha. Karena disana terdapat tanah suci menurut pemahaman mereka. Al-Quds adalah ibukota abadi. Perjalanan pertama mereka menuju al-Quds dimulai sejak zaman Musa, keluar dari negeri Mesir. Perjalanan tersebut adalah perjalanan suci karena menuju ibukota yang telah ditetapkan bagi mereka.

Bukti al-Quds menjadi ibukota mereka adalah ketika Daud menjadi raja, dia menjadikan al-Quds sebagai ibukota kerajaannya. Kemudian kerajaan dilanjutkan oleh Sulaiman dan tetap pusat pemerintahannya di al-Quds.

Nasab (keturunan) orang-orang yahudi menurut pandangan mereka sampai kepada Ibrahim. Ibrahim mempunyai anak bernama Ishak, dan Ishak mempunyai anak bernama Ya’kub (Israil). Mereka beranggapan bahwa ketika Ibrahim keluar dari negeri Babylonia (Irak), ia memasuki tanah suci al-Quds dan bertemu dengan raja Yabusi yang bernama Melkisedek.

Dalam kitab Taurat, kisah ini ditulis sebagai berikut:

فى ذلك اليوم قطع الرب مع أبرام (إبراهيم) عهدا قال: لنسلك أعطى هذه الأرض من نهر مصر الى النهر الكبير نهر الفرات، وهي أرض القينيين والقنزيين والقدوميين والحثيين والفرزيين والرفائيين والأموريين والكنعانيين والجرجاشيين واليبوسيين.

“On the same day the LORD made a covenant with Abram, saying: “To your descendants I have given this land, from the river of Egypt to the great river, the River Euphrates: the Kenites, the Kenezzites, the Kadmonites, the Hittites, the Perizzites, the Rephaim, the Amorites, the Canaanites, the Girgashites, and the Jebusites.”

“Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu”.[2]

Dari keterangan di atas, telah disebutkan kota al-Quds secara jelas dengan nama Yebus. Dapat diperhatikan bahwa teks ini tertulis secara langsung sebelum cerita tentang kelahiran Ismail ‘alaihis salam dalam kitab Taurat. Ismail lahir terlebih dahulu dibanding Ishak dengan rentang masa yang panjang. Akan tetapi, orang-orang yahudi menisbatkan teks ini kepada anak-anak Ishak tanpa sedikit pun menyebutkan Ismail. Padahal seharusnya, yang lebih tepat diberikan tanah ini adalah anak yang pertama (Ismail). [3]

Inilah permulaan hubungan Yahudi dengan tanah suci al-Quds, yang disebutkan namanya terakhir dalam perjanjian itu. Padahal aslinya tanah tersebut bukan milik Yahudi dan Ibrahim juga tidak tinggal di dalamnya hingga akhir hayat. Ibrahim tinggal di Khalil (Hebron) dan wafat di sana, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Taurat. [4]

Dikisahkan dalam Taurat tentang mimpi Nabi Ya’kub ‘alaihis salam bahwa beliau melihat tangga dari cahaya yang ujungnya sampai di langit dan melihat para malaikat turun naik melalui tangga tersebut. Di tempat berbaring itulah firman Allah turun yang memberikan wahyu kepadanya dan keturunannya tentang tanah di muka bumi ini yang mendapat berkah. [5]

Yahudi menganggap tanah tersebut adalah kota al-Quds, padahal yang benar tempat tersebut adalah Beit El, yang dahulu bernama Lus sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayatnya. [6] Kota al-Quds pada saat itu bernama Yebus bukan Lus. Dan kitab Taurat menamakan al-Quds dengan sebutan Saleem ketika berbicara tentang pertemuan Nabi Ibrahim dengan Melkisedek. [7]

Bahkan orang-orang Yahudi saat ini menganggap Beit El yang tersebut dalam Taurat adalah kota Ramallah, bukan al-Quds. Karena makna Beit El dalam bahasa Ibrani adalah Baitullah (Rumah Tuhan) dan kalimat Ramallah adalah bahasa Aram, yang artinya juga rumah Tuhan. Oleh karena arti sesungguhnya dari Beit El adalah rumah Tuhan, maka pendudukan zionis yang berdekatan dengan Ramallah di sebelah Utara disebut kota Beit El. [8]

Kisah masuknya Yahudi ke kota al-Quds pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam juga tertera dalam kitab Taurat.[9] Sebelumnya, Daud menguasai Hebron (Khalil) selama 7 (tujuh) tahun 6 (enam) bulan kemudian memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke tanah suci Saleem (al-Quds). Di al-Quds, Daud memerintah selama 33 (tiga puluh tiga) tahun. Oleh karenanya, orang-orang Yahudi sangat erat ikatan akidahnya dengan kota Hebron karena lebih dulu dikuasai Daud ketimbang kota lainnya seperti Tepi Barat. Inilah jawaban mengapa orang-orang Yahudi selalu ingin menguasai kota Hebron? Dimana di tempat tersebut terdapat makam Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang namanya juga tertulis dalam kitab Taurat. Antara kisah Nabi Ibrahim hingga Nabi Daud tidak tersebut nama kota Saleem (al-Quds) kecuali sangat sedikit. Ini juga menandakan bahwa tanah al-Quds bukan milik Yahudi.

Perlu diperhatikan bahwa orang-orang Yahudi tidak mengakui kenabian Daud. Mereka hanya menganggapnya sebagai raja. Dalam kitab suci Taurat selalu tertulis Daud sebagai raja bukan Nabi. Dalam kitab 2 Samuel 5: 4-6 tertulis: Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah. Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda. Lalu raja dengan orang-orangnya pergi ke Yerusalem, menyerang orang Yebus, penduduk negeri itu…”.Dalam kitab 2 Samuel 8: 15 disebutkan, “Demikianlah Daud telah memerintah atas seluruh Israel, dan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya”. 

Nabi yang diutus pada masa raja Daud adalah Nabi Natan, sebagaimana tertulis dalam kitab 2 Samuel 7: 1-5 berbunyi, Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau.” Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?…”

Demikian pula Sulaiman, tidak dianggap sebagai nabi melainkan raja. Tertulis dalam kitab 1 raja-raja 1: 46-47, Salomo sekarang duduk di atas takhta kerajaan; juga pegawai-pegawai raja telah datang mengucap selamat kepada tuan kita raja Daud, dengan berkata: Kiranya Allahmu membuat nama Salomo lebih masyhur dari pada namamu dan takhtanya lebih agung dari pada takhtamu. Dan rajapun telah sujud menyembah di atas tempat tidurnya…”

B.      Masjid al-Aqsha menurut Yahudi

Sebenarnya, ketika Daud dan Sulaiman hanya dianggap sebagai raja dan bukan Nabi akan menimbulkan masalah, yaitu pada proyek pembangunan ma’bad (tempat ibadah). Dalam kitab Taurat disebutkan bahwa orang yang membangunnya adalah raja Sulaiman, padahal beliau dianggap bukan Nabi. Karena perintah Allah untuk membangun tempat ibadah seharusnya ditujukan kepada Nabi, bukan raja.

Sulaiman mulai membangun ma’bad suci (orang Yahudi menyebutnya haikal) setelah 4 (empat) tahun dirinya diangkat menjadi raja. Dan itu terjadi setelah 480 tahun Israel keluar dari Mesir. Pembangunan sendiri memakan waktu selama 7 (tujuh) tahun.

“Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada tahun keempat sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi TUHAN.”[10]

“Dalam tahun yang keempat, dalam bulan Ziw, diletakkanlah dasar rumah TUHAN, dan dalam tahun yang kesebelas, dalam bulan Bul, yaitu bulan kedelapan, selesailah rumah itu dengan segala bagian-bagiannya dan sesuai dengan segala rancangannya; jadi tujuh tahun lamanya ia mendirikan rumah itu.” [11]

Kita bisa melihat rentang waktu yang sangat panjang, antara keluarnya Israel dari Mesir menuju pembangunan ma’bad suci: 480 tahun. Perhatikan rentang waktu ini:

–          40 tahun Israel tertahan di Padang Tieh setelah keluar dari Mesir.

–          403 tahun kemudian Israel mulai masuk ke al-Quds bersama raja Daud.

–          33 tahun Daud memerintah al-Quds, setelah itu diganti dengan raja Sulaiman.

–          4 tahun kemudian mulai proyek pendirian ma’bad suci oleh Sulaiman.

Jumlah keseluruhan tahun diatas sebanyak 480 tahun, sesuai dengan isi kitab taurat. Pertanyaannya adalah, selama 403 tahun tidak ada kisah di dalam kitab taurat tentang Israel di al-Quds. Rentang waktu yang sangat lama. Ini menandakan tidak ada hak Yahudi atas tanah suci Palestina sebelum Daud memerintah al-Quds.

Di dalam aqidah, bahasa dan kitab suci Yahudi tidak tertera nama “haikal” disana, dan mereka tidak mengenal kata ini sebelumnya. Ketika mereka mengimani sebuah nama di dalam kitab suci dengan sebutan “Beit ha-Mikdash”, itu berarti bait al-maqdis (rumah suci). Nama bait al-maqdis sesuai dengan nama dalam Islam.

Adapun nama “haikal” adalah hasil terjemah terdekat dari bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris tidak mampu menerjemahkan bahasa Ibrani ini secara tekstual, maka diterjemahkan dengan kata “temple” atau “ma’bad” dalam bahasa arab (tempat ibadah_red). Tetapi mereka menerjemahkan ke dalam bahasa arab dengan kata “haikal”. Inilah pertama kali kata “haikal” masuk ke dalam bahasa arab dengan arti kata tempat ibadah yahudi.

Kita bisa melihat asal kata “haikal” berbagai kamus bahasa arab dari masa ke masa:

  1. Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibnu Manzur (tahun 630-711 H./1232-1311 M.), beliau mengartikan kata “haikal” dengan beberapa makna yaitu:

a.      Yang besar dari setiap sesuatu,

b.      Kuda yang panjang, kata Al-Laits.

c.       Yang tebal, yang gemuk

d.      Yang besar dari hewan, kata Ibnu Syumail.

e.      Bangunan yang tinggi menyerupai hewan yang panjang, kata Azhari.

f.        Kuda yang panjang dan besar,

g.      Tumbuhan yang panjang, besar dan berlebihan, kata Abu Hanifah.

h.      Rumah untuk orang nasrani, di dalamnya terdapat patung dengan rupa Maryam.

i.        Dalam kitab al-Muhkam[12]: mengartikan kata “haikal” dengan rumah untuk orang nasrani, di dalamnya terdapat gambar Maryam dan Isa ‘alaihimas salam.

j.        Bangunan yang mulia,

k.       Rumah patung. [13]

2.      Dalam kitab Taju al-‘Arus min Jawahiri Al-Qamus karya Muhammad Murtadha Az-Zabidi (tahun 1145-1205 H./1732-1790 M.), beliau mengartikan kata  “haikal” dengan beberapa makna, diantaranya:

a.      Yang besar dari setiap sesuatu,

b.      Kuda yang panjang dan tinggi, kata Al-Laits.

c.       Yang besar dari setiap hewan, kata Ibnu Syumail.

d.      Kuda yang tinggi, kata Az-Zamakhsyari dalam kitab Al-Asas,

e.      Tumbuhan yang panjang, besar dan berlebihan, kata Abu Hanifah.

f.        Rumah untuk orang nasrani, di dalamnya terdapat patung dengan rupa Maryam.

g.      Ditambahkan dalam kitab al-Muhkam: rumah untuk orang nasrani, di dalamnya terdapat gambar Maryam dan Isa ‘alaihimas salam.

h.      Bangunan yang mulia. [14]

3.      Dalam kamus komtemporer, diantaranya al-Mu’jam al-Wasith (cetakan kedua tahun 1972 M.) disebutkan beberapa makna dari kata “haikal”:

a.      Yang besar dari setiap sesuatu,

b.      Yang panjang, yang besar,

c.       Apa-apa yang panjang dan besar dari tumbuhan dan pohon,

d.      Bangunan yang mulia,

e.      Rumah patung,

f.        rumah suci yang besar, orang yahudi menjadikannya sebagai tempat perayaan agama mereka.

g.      Satu tempat di gereja yang difungsikan untuk pengorbanan,

h.      Rumah besar yang berhias ornament di dalamnya, dikhususkan untuk beribadah kepada para dewa,

i.        Patung,

j.        Dalam ilmu geometri diartikan sebagai pondasi yang terdiri dari beberapa bagian yang bergerak. [15]

Setelah melihat asal kata “haikal” dalam berbagai kamus, dapat dipahami bahwa arti kata tersebut telah dimasukkan menjadi rumah suci orang yahudi pada masa abad-abad terakhir, yaitu ketika yahudi mulai menguasai dunia. Sebab pada masa lalu, tidak tertulis dalam berbagai kamus tentang hubungan “haikal” dengan tempat peribadatan Yahudi.

Adapun asal kata “temple” juga bukan berasal dari bahasa Ibrani, tetapi dari bahasa latin “templum” yang berarti tempat ibadah. Kita bisa lihat dari situs Fact Index tentang asal kata ini: “The word Temple is derived not from the Hebrew but from the Latin word for place of worship, templum. The name given ini Scripture for the building was Beit Yahweh or House of Yahweh (although this name was also often used for other temples, or metaphorically). Because of the prohibition against pronouncing the holy name, the common Hebrew name for the Temple is Beit ha-Mikdash or The Holy House, and only the Temple in Jerusalem is referred to by this name”.

C.      Masjid al-Aqsha menurut Nashrani

Kedudukan masjid al-Aqsha menurut agama Nashrani tidak dianggap terlalu istimewa sebagaimana Yahudi melihatnya. “Tempat ini tidak pernah memainkan peranan dalam liturgi Kristen”, kata Karen Amstrong.[16] Karena inti dari ajaran nashrani adalah cerita tentang proses penyaliban yesus dan tebusan dirinya atas segala dosa-dosa yang pernah dilakukan anak adam. Proses penyaliban tersebut terjadinya di kota al-Quds.

Pendapat Nashrani terhadap masjid al-Aqsha tidak berbeda dengan Yahudi karena umat Nashrani mengimani juga kitab perjanjian lama yang merupakan kitab suci umat Yahudi. Perbedaan pendapat antara Nashrani dan Yahudi terjadi pada kasus al-Masih. Menurut Nashrani, al-Masih sudah ada di muka bumi kemudian ia dibunuh dengan cara disalib. Dan di akhir zaman nanti, ia akan muncul kembali untuk kedua kalinya. Sedangkan menurut Yahudi, al-Masih akan turun di akhir zaman untuk pertama kalinya. Jadi, Yahudi tidak mengakui keberadaan al-Masih ketika ia sudah berada di dunia dan cerita tentang penyalibannya.

Walaupun sebenarnya, pemahaman Nashrani terhadap al-Masih tidak satu kata tapi telah menjadi berbagai aliran (sekte). Diantara sekte Nashrani ada yang sangat mendukung Zionis Yahudi, bahwa al-Masih akan datang untuk kedua kalinya setelah selesai proses pembangunan tempat ibadah mereka (ma’bad) yang ketiga kalinya. Sekte ini menolak pendapat yang mengatakan bahwa ma’bad ketiga telah dibangun oleh Herodos. Sekte ini terdapat di Amerika dengan nama Neo Conservatism. Pembangunan ma’bad ketiga ini tepat berada di kawasan masjid al-Aqsha berdiri.

Dalam beberapa buku sejarah yang ditulis oleh orang-orang Nashrani seperti Daniel dari Rusia mengatakan, penulisan nama-nama tempat di kawasan masjid al-Aqsha ditulis dengan nama-nama yahudi. Sebagai contoh, kubah Ash-Shakhrah diberi nama dengan gereja kudus. Tempat mushalla al-Marwani berada sekarang, dulunya diberi nama Kandang Kuda Sulaiman (Istable Sulaiman).

Dalam keyakinan umat Nashrani, mereka memiliki “perjalanan suci” yang disebut dengan “Via Dolorosa” atau “Jalan Kesengsaraan”. Perjalanan ini berada di kota suci al-Quds sebagai napak tilas perjalanan al-Masih menuju tiang salib. Tempat suci dari perjalanan ini terdiri dari 14 tempat yaitu:

  1. Pengadilan al-Masih yang memvonisnya dengan hukuman mati dengan cara disalib. Pengadilan ini berada di halaman madrasah al-Umariyah yang berhimpitan dengan masjid al-Aqsha dari sisi barat laut.
  2. Penjara al-Masih, peletakan mahkota berduri di kepalanya dan tempat awal dibawanya salib.
  3. Tempat jatuh al-Masih pertama kali.
  4. Tempat al-Masih melihat ibunya, Maryam.
  5. Tempat Simon membantu al-Masih mengangkat salib.
  6. Tempat dibasuhnya wajah al-Masih oleh Veronika.
  7. Tempat jatuhnya al-Masih untuk kedua kalinya.
  8. Tempat dialognya al-Masih dengan anak-anak perempuan Jerusalem.
  9. Tempat jatuhnya al-Masih untuk ketiga kalinya.
  10. Tempat dibukanya pakaian al-Masih.
  11. Tempat dipanteknya anggota tubuh al-Masih dengan paku.
  12. Tempat disalibnya al-Masih.
  13. Tempat diturunkannya jasad al-Masih dari tiang salib.
  14. Tempat dikuburnya al-Masih (Holy Sepulchre)

Walaupun umat Nashrani tidak menjadikan masjid al-Aqsha terlalu istimewa sebagaimana Yahudi memandangnya, tapi ada salah satu tempat di masjid yang menjadi prinsip akidah mereka, yaitu pintu ar-Rahmah, yang berada di dinding timur dari masjid. Kondisinya tertutup karena pintu ini juga menjadi dinding benteng kota al-Quds.

Umat Nashrani menamakan pintu ini sebagai Pintu Emas (Golden Gate). Keyakinan mereka, nanti Al-Masih akan datang melalui pintu tersebut sebagai penyelamat dunia di akhir zaman. Keyakinan ini pula yang diimani oleh yahudi ketika dunia akan kiamat. Yang membedakan antara yahudi dan nasrani pada masalah Al-Masih adalah bahwa yahudi tidak mengakui Al-Masih sudah pernah diutus. Yahudi hanya mengakui Al-Masih akan datang di akhir zaman.

 


[1]Dinukil dari Wikipedia: W.S. Lasor.D.A.Hubbard.1993, Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.93.

[2]Kitab Kejadian 15: 18-21

[3]Kitab al-Madkhal ila Dirasati al-Masjid al-Aqsha, Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, hal. 137-138.

[4]Kitab Kejadian 25: 9-10

[5]Kitab Kejadian 28: 12-15

[6]Kitab Kejadian 28: 19

[7]Kitab Kejadian 14: 18

[8] Kitab al-Madkhal ila Dirasati al-Masjid al-Aqsha, Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, hal. 138

[9]Kitab 2 Samuel 5: 6-10

[10]Kitab 1 Raja-raja 6: 1

[11]Kitab 1 Raja-raja 6: 37-38

[12]Karya Ibnu Sayyidah (398-458 H./1007-1065 M.)

[13]Kitab Lisan al-Arab, Ibnu Manzur Vol. 9 hal. 112-113.

[14]Kitab Taju al-Arus, Az-Zabidi Vol. 31 hal. 143-144

[15]Kitab al-Mu’jam al-Wasith, hal. 990.

[16]Jerusalem: Satu Kota Tiga Iman, hal. 310

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *