Masjid Al-Aqsha dalam Bentang Sejarah (Bagian 3)

MENGENAL MASJID AL-AQSHA

(bagian 3)

 

Salman Al-Farisi, Lc.

 

Penjajahan Inggris dan Peranan Dewan Islam Tertinggi

Inggris (Britania) masuk ke Palestina sejak 9 Desember 1917 M. dipimpin oleh Jenderal Edmund Allenby. Dalam pidato pertamanya Ketika memasuki tanah suci di depan pintu gerbang benteng Al-Quds dia berkata: “Sekarang, baru selesai perang salib!”. Kemudian Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat kepada Britania pada bulan Juli 1922. Diantara isi Mandat tersebut adalah:

  1. Mengkondisikan secara politik, ekonomi dan administrasi yang dapat memastikan pelaksanaan pembangunan rumah bagi penduduk yahudi di Palestina, dengan mengakui eksistensi yahudi.
  2. Mempermudah  masuknya yahudi ke Palestina.
  3. Menetapkan undang-undang kewarganegaraan bagi yahudi sehingga memudahkan mereka mendapatkan warga Negara Palestina.
  4. Menjadikan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi selain dari bahasa Arab dan Inggris.

Mandat Britania ini berpengaruh terhadap populasi yahudi di Palestina ketika itu. Populasi mereka diawal penjajahan Britania sekitar 56.000 orang. Tahun 1929, jumlahnya meningkat menjadi 150.000 orang hingga 355.000 orang pada tahun 1935. Di tahun 1939, angkanya mencapai 445.457 orang atau 30% dari jumlah keseluruhan penduduk di Palestina. Bersamaan dengan penjajahan Britania terhadap Palestina, berdirilah organisasi Al-Majlis Al-Islami Al-A’la (Dewan Islam Tertinggi) yang dipimpin oleh Haji Amin Al-Husaini.[1] Diantara peran Dewan Islam Tertinggi adalah merenovasi bangunan masjid Al-Aqsha, karena telah lama dimakan usia. Haji Amin Al-Husaini memulai proyek ini pada tahun 1923, setelah beliau keliling ke berbagai wilayah-wilayah Islam dengan membawa proposal pendanaan proyek renovasi besar-besaran ini. Ditunjuklah Kamaluddin sebagai pimpinan proyek. Beliau membentuk tim yang terdiri dari para arsitektur untuk merenovasi secara menyeluruh masjid Al-Aqsha. Dimulai dari masjid Al-Qibli, dengan memperkuat pondasi kubahnya dan jendela-jendela masjid yang rusak. Setelah renovasi ini selesai, terjadi gempa dahsyat pada tahun 1927. Para arsitektur ketika itu berpendapat, apabila renovasi besar-besaran ini belum selesai maka masjid Al-Qibli akan roboh. Renovasi masjid Al-Aqsha dimulai kembali pada tahun 1938 hingga 1943. Haji Amin Al-Husaini sendiri yang memimpin proyek renovasi kedua ini. Selain memimpin proyek renovasi, beliau juga memimpin proyek revolusi politik menghadapi penjajahan Britania dengan mempermudah masuknya persenjataan untuk membantu gerakan perlawanan.

Selain faktor alam, kondisi masjid Al-Aqsha juga ditentukan oleh penguasa di wilayah Palestina bertepatan pada masa tersebut penjajah Britania merupakan bangsa non muslim, orang-orang yahudi dengan mudah membonceng di belakang penjajah Britania ini. Mereka dijadikan anak emas. Sehingga apa saja yang dilakukan oleh yahudi, penjajah Britinia tutup mata.

Pada tahun 1929, yahudi menyerang masjid Al-Aqsha di bawah lindungan tentara Britania, mereka menguasai dinding Al-Buraq dan mengatakan bahwa dinding ini adalah milik yahudi. Akibat dari serangan itu, muncul perlawanan yang dinamakan “Revolusi Al-Buraq” pada tanggal 15 Agustus 1929, namun karena Britania melindungi orang-orang yahudi, maka revolusi dapat diredam dan para pimpinan revolusi ditangkap serta dijebloskan ke dalam penjara. Di antara pemimpin revolusi yang terkenal adalah ‘Izzuddin Al-Qassam. Beliau berhasil mengumpulkan pasukan rahasia sebanyak 200-800 orang dengan mendirikan “Gerakan Jihad” untuk menghadapi penjajah Britania.

Pada 15 Nopember 1935, Britania mengetahui keberadaan Al-Qassam dan mengepung kampung tempat tinggalnya, maka terjadilah saling serang dengan kondisi yang tidak seimbang antara pasukan Al-Qassam dengan penjajah Britania, hingga tanggal 20 Nopember 1935 ‘Izzuddin Al-Qassam menemui syahid. Namanya kini dikenang sebagai nama salah satu sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas). Gerakan revolusi yang dilancarkannya, dilanjutkan oleh pengikutnya di berbagai daerah di Palestina seperti Farhan As-Sa’dy.

Revolusi Arab di Palestina semakin meluas antara tahun 1936-1939. Haji Amin Al-Husaini juga memimpin revolusi ini dari dalam masjid Al-Aqsha. Beliau bergerak dengan menggunakan lembaga “Jihad Suci”, pimpinan Abdul Qadir Al-Husaini. Jumlah pasukannya hingga tahun 1935 mencapai 400 orang. Rakyat Palestina juga mengadakan aksi mogok nasional pada bulan April 1936. Aksi mogok ini didukung oleh Komite Arab Tinggi.[2] Komite tersebut berjuang menuntut beberapa hal terkait rakyat Palestina, diantaranya adalah pembentukan pemerintahan Palestina melalui parlemen terpilih, penghentian imigran yahudi dan pelarangan penjualan tanah kepada yahudi. Aksi mogok tersebut berlangsung selama 178 hari, dan merupakan aksi terbesar dalam sejarah yang dilakukan oleh satu bangsa secara nasional.[3]

Britania frustasi dengan masalah yang ada, segala bentuk solusi politik yang dicoba tidak mendapatkan tanggapan baik dari rakyat Palestina. Akhirnya, pada bulan April 1947, Britania mengumumkan penarikan diri dari kasus Palestina dan akan menarik pasukannya dari sana per tanggal 15 Mei 1948 serta menyerahkan permalahan Palestina kepada PBB untuk diselesaikan. Disatu sisi, zionis berencana mendirikan negara Israel setelah Britania hengkang dari Palestina, namun di waktu yang sama, PBB pada tanggal 29 Nopember 1947 mengeluarkan resolusi tentang pembagian Palestina. Resolusi inilah yang membagi wilayah Palestina 55% untuk yahudi dan 45% untuk Arab.

Kerajaan Yordania dan Perang 1948

Keputusan pembagian wilayah Palestina oleh PBB menyebabkan kembali terjadinya revolusi. Nagara-negara Arab telah menyiapkan pasukan yang akan masuk ke Palestina setelah Britania keluar dari sana pada 15 Mei 1948. Syiria, Lebanon, Irak dan Yordania akan masuk melalui Palestina tengah sedangkan Mesir akan masuk melalui Eskolan. Karena kebanyakan dari negara Arab ini tunduk kepada Britania, maka misi mereka masuk ke dalam Palestina menjadi hambar. Tentara Arab justru melucuti persenjataan para pejuang Palestina, dengan alasan agar tentara yang berperang melawan yahudi adalah tentara resmi.

Terjadilah perang Arab-Israel pertama tahun 1948. Pada tanggal 15 Mei 1948, setelah Britania keluar dari Palestina, tentara yahudi mengambil alih kota yang ditinggalkan. Dua hari setelahnya, kota Akka jatuh ke tangan yahudi. Pada tanggal 19 Mei 1948, yahudi menyerang Al-Quds. Segera setelah kejadian tersebut, tentara Yordania bergerak ke arah Al-Quds.[4] Salah satu komandan perang bernama Abdullah El Tell, berasal dari Yordania. Beliau berhasil mengalahkan pasukan Israel dan membuat mereka terkepung di tanah Al-Quds. Ada sekitar 100 ribu yahudi di sana. Kalau bukan perintah dari Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan peperangan, maka akan banyak jatuh korban dari pihak yahudi. Komandan tentara Israel di Al-Quds Moshe Dayan menandatangani kesepakatan penyerahan Al-Quds kepada kerajaan Yordania pada tanggal 30 Nopember 1948. Sejak saat itu, Al-Quds yang di dalamnya terdapat masjid Al-Aqsha berada di bawah kerajaan Yordania. Kondisi berlangsung hingga 19 tahun ke depan.

Ketika di bawah kerajaan Yordania, masjid Al-Aqsha mengalami proses renovasi.[5] Diantaranya kubah Ash-Shakhrah, Raja Abdullah I memerintahkan untuk mengganti bahan kubah yang lama dengan bahan kuningan dilapisi emas sebagaimana pada masa Umawiyah dahulu. Begitu pula masjid Al-Qibli direnovasi, sehingga pondasinya dapat tahan lebih lama.

Di antara akibat perang 1948 adalah terusirnya 800 ribu rakyat Palestina dari kampung halamannya sendiri atau 58% dari jumlah total seluruh penduduk. Selain itu, sebanyak 30 ribu orang terusir dari kota kelahirannya. Zionis juga menghancurkan 478 kampung dari 585 kampung sebelum perang terjadi. Mereka juga melakukan sedikitnya 34 pembantaian terhadap rakyat Palestina selama perang 1948, di antara yang terbesar adalah pembantaian Deir Yasin yang diakui sendiri oleh Israel. [6]

Penjajahan Zionis dan Perang 1967

Pada 5 Juni 1967 terjadi perang Arab-Israel kedua. Mesir sebagai salah satu kekuatan terbesar ketika itu meminta Negara-negara Arab bersiap-siap dalam peperangan untuk membebaskan Palestina. Tetapi siapa sangka, Israel terlebih dahulu menyerang. Mereka menghancurkan pesawat-pesawat tempur Mesir, Yordania dan Syiria yang masih berada di pangkalan militernya. Enam hari penyerangan, Negara-negara Arab tersebut takluk dan menyisakan kerugian yang sangat besar. Diantara kerugiannya adalah Tepi Barat, Gaza, padang pasir Sinai dan dataran tinggi Golan masuk dalam wilayah jajahan Israel. 80% peralatan tempur Mesir hancur dan 10 ribu tentaranya tewas. Dari Yordania sebanyak 6094 tewas dan dari Syiria lebih dari seribu tewas. [7]

Zionis mulai masuk ke Al-Quds pada tanggal 7 Juni 1967. Mereka bebas melakukan apapun di tanah suci seperti membangun permukiman yahudi, menghancurkan perkampungan orang-orang Maroko, menghilangkan situs-situs Islam dan bersejarah dan menjadikan dinding Al-Buraq sabagai tempat ibadah mereka. Negara-negara Arab tidak bisa melakukan gerakan apapun untuk membebaskan tanah suci. Ruh syiar mereka sudah berubah dari “Pembebasan Tanah Palestina” pada tahun 1948 menjadi “Pembebasan Tanah yang dijajah” tahun 1967.

Ketika zionis masuk ke masjid Al-Aqsha, mereka meniupkan terompet yahudi sebagai tanda bahwa yahudi sudah kembali ke tanah suci. Mereka menancapkan bendera Israel di atas kubah Ash-Shakhrah. Masjid Al-Aqsha ditutup selama sepekan, tidak boleh dimasuki oleh kaum muslimin. Akhirnya kaum muslimin diizinkan kembali untuk bisa beribadah di masjid Al-Aqsha karena Israel takut dengan reaksi perlawanan.

Akibat dari penjajahan zionis, masjid Al-Aqsha pada tanggal 21 Agustus 1969 dibakar oleh seorang yahudi garis keras berkewarganegaraan Australia bernama Denis Michael Rohan. Ada tiga titik yang hangus dan hancur terbakar, yaitu arah kiblat masjid Al-Qibli (termasuk mihrab dan mimbar), lorong sebelah timur masjid dan pojok selatan dari lorong barat masjid. Sebenarnya pelaku ingin membakar seluruh masjid tapi kaum muslimin dengan bahu membahu berusaha memadamkan api sehingga kobaran api tidak bertambah luas. Lebih dari sepertiga bangunan masjid hangus terbakar.

Peristiwa pembakaran masjid Al-Aqsha ini terlihat jelas skenarionya. Ketika mobil dan petugas pemadam kebakaran didatangkan dari luar kota Al-Quds seperti Ramallah, Hebron (Al-Khalil), Nablus dan Bethlehem, mereka datang lebih dahulu dibanding mobil dan petugas pemadam dari kota Al-Quds sendiri yang di bawah penguasa zionis. Ditambah, aliran pada saluran air di kawasan masjid Al-Aqsha dihentikan. Sehingga sejumlah warga berusaha memadamkan api dengan mengisi dirigen-dirigen air yang didapat dari perumahan. Beberapa warga lain menggunakan tanah dan debu untuk memadamkan api. Setelah pelakunya tertangkap oleh polisi zionis, ia dibebaskan lantaran ketika melakukan aksinya berada dalam kondisi hilang akal.[8]

Kejadian ini membangkitkan amarah kaum muslimin. Negara-negara mayoritas Islam akhirnya membentuk OIC (Organisasi Konferensi Islam) yang beranggotakan 57 negara sebagai reaksi atas pembakaran masjid Al-Aqsha. Tapi organisasi ini tidak memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan Palestina ketika itu. Perdana Menteri Israel ketika itu, Golda Meir mengatakan: “Hari pembakaran masjid Al-Aqsha adalah hari terburuk dalam kehidupannya sekaligus hari terindah. Hari terburuk karena ia memperkirakan bahwa Israel akan berakhir. Tapi melihat sikap Negara-negara Arab yang tidak mempunyai taring, maka peristiwa tersebut merupakan hari terindahnya”. Kini nama organisasi tersebut telah berubah menjadi Organisasi Kerjasama Islam, sejak 28 Juni 2011.

Sejak tahun 1967 ketika zionis menguasai tanah suci, banyak sekali penistaan yang terjadi terhadap masjid Al-Aqsha, diantaranya:

  • Alan Harry Goodman, seorang serdadu Israel menyerang kubah Ash-Shakhrah pada 11 April 1982, yang menyebabkan dua orang tewas.[9]
  • Pembantaian berantai di dalam masjid Al-Aqsha. Pertama terjadi pada 8 Oktober 1990 yang menyebabkan lebih dari 17 tewas di lorong-lorong masjid serta ratusan luka-luka. Kedua terjadi pada 24 September 1996 karena zionis mengumumkan pembukaan terowongan di bawah masjid Al-Aqsha untuk para wisatawan. Perlawanan menyebar hingga seluruh wilayah Palestina. Di dalam masjid Al-Aqsha 3 orang tewas dan di berbagai tempat lainnya seperti Gaza dan Tepi Barat korban mencapai angka 70 orang tewas. Pembantaian ketiga terjadi pada 29 September 2000, menyebabkan minimal 5 orang tewas di dalam masjid Al-Aqsha setelah melakukan shalat jum’at.[10]

Begitulah ejarah telah mencatat perjalanan masjid Al-Aqsha sejak Nabi Adam hingga masa penjajahan zionis. Masa selanjutnya adalah masa generasi baru yang akan membebaskan kembali masjid Al-Aqsha dari tangan-tangan penjajah dengan izin Allah Ta’ala. Generasi yang akan menyatukan umat Islam sedunia, yang berkorban dengan jiwa dan raga demi perjuangan meraih ridha ilahi. Dan semoga kita adalah bagian dari umat tersebut.

 

 

 

 

 



[1] Beliau dilahirkan pada tahun 1897 bertepatan dengan diadakannya konferensi zionis pertama di Basl. Menuntut ilmu di Al-Quds dengan mempelajari ilmu-ilmu syariah dan keduniawian. Berangkat haji ketika berusia 16 tahun dan sejak saat itu beliau dipanggil Haji Amin. Beliau juga belajar ilmu kemiliteran di Akademi Militer Utsmaniyah di Istanbul. Beliau diangkat menjadi Mufti Al-Quds ketika berusia 25 tahun. Ketika itulah beliau mendirikan Dewan Islam Tertinggi untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan masjid Al-Aqsha dan kota suci.

[2] Komite ini didirikan oleh Haji Amin Al-Husaini, mufti Al-Quds pada 25 April 1936. Anggotanya terdiri dari pemimpin klan Arab Palestina.

[3] Kitab Al-Qadhiyah Al-Filisthiniyah, Khalfiyyatuha At-Tarikhiyah wa Tathawwuratiha Al-Mu’ashirah, oleh Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, hal. 52

[4] Kitab Filisthin Tarikh Al-Mushawwar, Dr. Thariq As-Suwaidan, hal. 273-275

[5] Greg Noakes (September/Oktober 1994). “Dispute Over Jerusalem Holy Places Disrupts Arab Camp”. Washington report on Middle East Affairs. Sumber: www.washington-report.org

[6] Kitab Al-Qadhiyah Al-Filisthiniyah, Khalfiyyatuha At-Tarikhiyah wa Tathawwuratiha Al-Mu’ashirah, oleh Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, hal. 64

[7] Kitab Al-Qadhiyah Al-Filisthiniyah, Khalfiyyatuha At-Tarikhiyah wa Tathawwuratiha Al-Mu’ashirah, oleh Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, hal. 81-82

[8] Kitab Athlas Ma’alim Al-Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak, oleh Dr. Abdullah Ma’ruf, hal. 216-218

[9] http://www.nytimes.com/1983/04/08/world/soldier-gets-life-term-in-dome-of-rock-death.html

[10] Kitab Al-Madkhal ila Dirasat Al-Masjid Al-Aqsha, oleh Dr. Abdullah Ma’ruf, hal. 132

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *