Masjid Al-Aqsha dalam Bentang Sejarah (bagian 2)

Masa Islam Pertama: Perjalanan Isra’ Nabi dan Langkah Membebaskan Masjid Al-Aqsha

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada tahun 570 M. Ketika Muhammad dilahirkan, kondisi Al-Quds berada di bawah kekuasaan Bizantium (Romawi Timur). Muhammad diangkat menjadi Rasul ketika berusia 40 tahun. Masa dakwah di Mekah berlangsung selama 13 tahun. Diantara tahun tersebut terdapat kisah perjalanan menuju masjid Al-Aqsha, atau lebih dikenal dengan sebutan Isra’.

Isra’ merupakan suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW. Karena perjalanan antara masjid Al-Haram di Mekah menuju masjid Al-Aqsha di Al-Quds Palestina ini dilakukan hanya dalam waktu satu malam. Dari masjid Al-Aqsha menuju ke langit untuk menerima wahyu Allah berupa perintah shalat lima waktu, yang biasa disebut dengan Mi’raj. Perjalanan ini menjadi suatu bukti bahwa tempat dimana masjid Al-Aqsha berada adalah tempat yang penting dalam umat beragama.

Rasulullah SAW. berangkat ke masjid Al-Aqsha dengan menggunakan kendaraan buraq, yaitu hewan putih yang bentuknya lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal[1], kakinya melangkah sejauh mata memandang. Rasulullah menungganginya hingga sampai ke Bait al-Maqdis, lalu beliau mengikatnya di tempat para nabi mengikatnya (halqah), kemudian beliau masuk dan shalat dua rakaat di dalamnya. Tempat Rasul mengikatkan kendaraannya tidak diketahui dengan pasti, tapi bila dilihat dari salah satu landmark masjid Al-Aqsha terdapat satu tempat yang dinamakan masjid Al-Buraq. Di dekat mihrab masjid, terdapat halqah (lingkaran yg terbuat dari besi) yang berada di dinding selatan dari masjid Al-Buraq. Halqah tersebut berasal dari zaman Utsmani menempel didinding yang diperkirakan, di tempat inilah Rasul mengikatkan kendaraannya ketika malam isra’.

Posisi dinding Al-Buraq berada di sebelah barat daya dari masjid Al-Aqsha. Tempat ini adalah tempat yang paling dekat posisinya dari Mekah. Secara logika, dari sinilah Rasulullah memasuki masjid Al-Aqsha. Pintu masjid Al-Aqsha yang paling dekat dari dinding Al-Buraq adalah pintu Al-Magharibah, atau juga dikenal dengan pintu An-Nabi. Karena diperkirakan Nabi memasuki masjid Al-Aqsha melalui pintu ini menuju ke Ash-Shakhrah untuk melaksanakan shalat. Tercatat minimal dua pendapat kuat yang menyebutkan tempat dimana nabi melakukan shalat:

Pertama, Rasulullah berada pada posisi dimana ia masuk ke masjid Al-Aqsha dari tempat diikatkannya buraq (barat daya Ash-Shakhrah). Pendapat ini disampaikan oleh Dr. Abdullah Ma’ruf dan Dr. Najih Bukairat.

Kedua, posisi masjid Al-Aqsha secara geografis menghadap ke ka’bah sehingga memungkinkan Rasulullah melakukan shalat dengan menghadap ke ka’bah. Oleh karenanya, posisi Rasulullah ketika shalat berada di sebelah utara dari Ash-Shakhrah.  Pendapat ini disampaikan oleh Dr. Haitsam Ar-Rathrut.[2]

Peristiwa isra’ merupakan langkah awal Rasulullah membebaskan masjid Al-Aqsha. Peristiwa ini diperkirakan terjadi antara tahun 620-621 M. Beberapa tahun sebelumnya, atau tepatnya pada tahun 614-615 M, Persia menyerang Romawi dan dapat mengalahkannya. Atas bantuan Yahudi, Persia dapat menguasai Al-Quds. Peristiwa ini diabadikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya surat Ar-Rum: 1-4:

الم غُلِبَتِ الرُّوْمُ فِى أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَ فِى بِضْعِ سِنِيْنَ ﷲِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ  

“Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi,[3] Di negeri yang terdekat[4] dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi,[5] bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah, Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.”

Setelah tujuh tahun lebih berlalu, Romawi kemudian dapat mengambil alih kembali Al-Quds. Heraclius yang menjadi kaisar ketika itu mengusir orang-orang yahudi keluar dari Al-Quds. Orang-orang Bizantium ini kembali membangun gereja-gereja yang telah dihancurkan Persia, diantaranya gereja Al-Qiyamah. Akan tetapi, kawasan masjid Al-Aqsha tidak diindahkan, dibiarkan kosong dan tidak terurus. Terlebih Ash-Shakhrah yang menjadi kiblatnya Yahudi, karena orang-orang Romawi Bizantium ingin membalas dendam kepada Yahudi atas perilaku mereka membantu Persia ketika menyerang Romawi.

Kemudian, Rasulullah membuat beberapa rancangan untuk membebaskan masjid Al-Aqsha. Beberapa rancangan beliau dalam pembebasan masjid Al-Aqsha adalah:

  1. Utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi membawa surat ajakan masuk Islam kepada Heraclius, pembesar Romawi yang sedang berada di Al-Quds, keberadaan Heraclius disana sebagai ungkapan rasa syukur karena telah dimenangkan dalam peperangan melawan Persia.
  2. Rasulullah menyiapkan pasukan bergerak ke Mu’tah untuk menghadapi pasukan Romawi. Diantara sebab terjadinya perang ini adalah dibunuhnya utusan Rasulullah yang bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi oleh Surahbil bin ‘Amr Al-Ghassani, pemimpin suku Ghasaniyah  yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya serta terbunuhnya 14 orang sahabat Nabi pada perang Dzatu Athlah, dekat dengan waktu perang Mu’tah.
  3. Ketika terjadi perang Tabuk, Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih dari sahabat Auf bin Malik. Beliau berkata: Aku mendatangi Rasulullah SAW. pada perang Tabuk dan beliau sedang berada di kubah yang terbuat dari kulit. Beliau bersabda: “Ada enam perkara sebelum datangnya hari kiamat: Kematianku; Pembebasan Bait al-Maqdis; Kematian yang banyak dari wabah binatang ternak; Harta yang berlimpah hingga seseorang diberikan seratus dinar tapi dia marah; Fitnah tersebar di tiap-tiap rumah arab; kemudian terjadi gencatan senjata antara kalian dengan orang-orang kulit kuning (Romawi), lalu mereka berkhianat dan mendatangi kalian dengan delapan puluh bendera kelompok. Setiap satu bendera terdiri dari dua belas ribu pasukan.[6]

Hadits tersebut disabdakan Rasulullah ketika perang Tabuk, perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW. Selain hadits ini memberikan tanda-tanda datangnya hari kiamat, hadits ini juga memberikan pesan kepada umatnya bahwa bait al-Maqdis (masjid al-Aqsha) akan direbut oleh kaum muslimin setelah wafatnya beliau. Maka usaha menghadapi Romawi di Tabuk termasuk rencana beliau dalam membebaskan masjid Al-Aqsha di kemudian hari. Walaupun tidak terjadi pertempuran antara keduanya, tapi peristiwa yang terjadi pada tahun 631 M. ini tetap dikatakan perang karena kondisi medannya yang sangat jauh dan berat.

  1. Rasulullah menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, anak dari Zaid bin Haritsah yang gugur dalam perang sebelumnya (Mu’tah). Persiapan keberangkatan pasukan ini terjadi pada akhir hayat Rasulullah. Rasul memerintahkan Usamah berangkat menuju Syam, tepatnya di wilayah Abna-Palestina, yang saat itu masih dikuasai oleh tentara Romawi. Ketika sedang dalam perjalanan, terdengar kabar bahwa Rasulullah telah wafat. Akhirnya pasukannya kembali ke Madinah. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, beliau memerintahkan kembali Usamah dan pasukannya untuk berangkat memenuhi wasiat Rasulullah sebelum akhir hayatnya.

Wasiat ini disampaikan Abu Bakar dihadapan para sahabatnya. Beliau berkata: “Berangkatkanlah pasukan Usamah, sesungguhnya aku tidak peduli jika binatang-binanang buas akan menerkam dan mencabik-cabikku di Madinah karena berangkatnya pasukan tersebut. Sesungguhnya telah turun wahyu kepada Nabi Muhammad, ‘Berangkatkan pasukan Usamah!!’, dan aku tidak akan mengubah keputusan beliau. Wasiat ini menandakan bahwa Nabi mempunyai rencana untuk membebaskan masjid Al-Aqsha dengan melakukan pengiriman pasukan ke Syam.

Masa Khulafaur Rasyidin: Pembebasan Umar bin Khaththab

Abu Bakar mengalami kesulitan dalam membebaskan negeri Syam karena banyaknya orang-orang arab keluar dari Islam (murtad). Selain memerangi orang-orang yang murtad, Abu Bakar juga memberangkatkan kembali pasukan Usamah untuk membebaskan negeri Syam. Tapi belum sempat seluruh negeri Syam dikuasai, Abu Bakar telah dipanggil Allah SWT. Setelah itu, tampuk kekhalifahan dipegang oleh Umar bin Khattab.

Awal langkah khalifah Umar berkaitan dengan pembebasan negeri Syam adalah pengangkatan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai panglimanya, menggantikan Khalid bin Walid. Pergantian ini karena keinginan Umar dalam pembebasan Syam, khususnya masjid Al-Aqsha tanpa pertumpahan darah. Sebagaimana pendahulunya yang menjadi teladan Umar yaitu Rasulullah dalam membebaskan kota Mekah, tanpa peperangan. Begitu pula Madinah (Yatsrib) tanpa ada pertumpahan darah. Maka untuk kota suci ketiga, Umar menginginkan juga dengan cara damai.

Ketika Abu Ubaidah sampai di kota suci ini, beliau memerintahkan pasukannya untuk mengepung benteng.[7] Beliau tidak memerintahkan untuk menyerang masuk tapi mengirim utusan dengan membawa surat yang berbunyi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Abu Ubaidah bin Jarrah kepada Pimpinan Gereja Penduduk Eilia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kami menyerukan kepada kalian untuk bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Hari kiamat pasti akan datang, tidak diragukan lagi. Dan Allah akan membangkitkan orang-orang dari kuburnya. Apabila kalian bersaksi atas itu semua, maka haram bagi kami darah, harta dan keturunan kalian. Kalian bagaikan saudara bagi kami. Jika kalian menolak, maka bayarlah kepada kami upeti (jizyah) dengan patuh dan dalam keadaan tunduk. Jika kalian menolak, aku akan mendatangi kalian dengan pasukan yang mereka lebih mencintai kematian, sebagaimana kalian menyukai minum khamr dan makan daging babi. Kemudian aku tidak akan kembali kepada kalian selamanya, dengan izin Allah, hingga aku membunuh kalian dan menyandera keturunan kalian”. [8]

Ketika surat ini sampai ke pimpinan gereja dan penduduk Eilia (Al-Quds), hingga menimbulkan rasa takut pada diri mereka. Akan tetapi, mereka tetap tidak bergeming sampai datangnya musim dingin, dengan harapan pasukan kaum muslimin akan kembali pulang. Pengepungan ini membuat kaum muslimin bertambah kuat hingga orang-orang nasrani menyerah. Mereka meminta damai dan akan menyerahkan kunci kota ini dengan syarat akan diberikan langsung kepada khalifah (pimpinan tertinggi) kaum muslimin. Abu Ubaidah mengirim utusan kepada khalifah Umar dan menyampaikan persyaratan dari pimpinan gereja.

Umar ahirnya datang bersama pembantunya. Ketika sampai di Jabal Mukaber, sebelah tenggara dari kota Al-Quds, Umar melihat benteng yang menjadi pagar kota tersebut. Umar bertakbir yang diikuti dengan takbir dari kaum muslimin. Pada saat itu, penduduk Eilia mengetahui bahwa pemimpin tertinggi kaum muslimin telah datang.

Kemudian Umar masuk ke kota suci ini ditemani oleh pendeta Sophronius. Ketika waktu shalat tiba, pendeta Sophronius meminta Umar untuk shalat di dalam gereja Al-Qiyamah (Church of the Holy Sepulchre). Tapi Umar menolak dan beliau shalat di depan gereja tersebut. Saat ini di depan gereja tersebut (sebelah selatan) terdapat masjid yang dinamakan dengan masjid Umar bin Khattab.

Umar meminta pendeta Sophronius untuk mengantarnya ke masjid Al-Aqsha. Ketika sampai di masjid, Umar bertakbir dan berkata: Inilah masjid yang telah diceritakan Rasulullah kepada kami. Ketika itu, masjid Al-Aqsha masih berupa dataran tinggi kosong, di tengah-tengahnya terdapat Ash-Shakhrah Al-Musyarrafah.

Diantara sikap khalifah Umar bin Khattab ketika berada di Al-Quds adalah beliau memberikan jaminan kepada penduduk di sana, yang dikenal dengan istilah Al-‘Uhdah Al-‘Umariyah. Jaminan Umar tersebut banyak dikritisi oleh para ahli sejarah, karena dinilai terlalu banyak toleransi terhadap kaum nasrani. Diantara kisah menarik pada masa pembebasan Umar terhadap masjid Al-Aqsha adalah permintaan Umar bin Khattab kepada Bilal bin Rabah, muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bilal termasuk pasukan pembebasan masjid Al-Aqsha bersama Abu Ubaidah bin Jarrah. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Umar. Umar meminta beliau untuk mengumandangkan azan. Tapi Bilal menolak, karena sejak Rasul wafat, Bilal tidak pernah mau ketika diminta mengumandangkan adzan. Setelah agak dipaksa oleh Umar, Bilal akhirnya memenuhi permintaan tersebut.

Bilal berdiri dan mengumandangkan adzan dengan irama seperti ketika Rasulullah masih hidup. Dengan lantunan sebagaimana ketika hari pembebasan kota Mekah. Adzan Pembebasan. Adzan tersebut mengingatkan kaum muslimin bahwa ketiga masjid suci ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, walaupun jaraknya berjauhan. Bilal termasuk muadzin tiga masjid suci umat Islam. Ketika Bilal sampai pada lantunan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, beliau berhenti dan menangis. Kaum muslimin yang mendengarnya pun turut menangis. Mereka teringat masa-masa ketika masih bersama Rasulullah SAW. Akhirnya, Bilal tidak dapat meneruskan adzannya.[9]

Masa Dinasti Bani Umayyah

Pemimpin pertama dinasti Bani Umayyah adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah. Beliau adalah orang yang tahu persis tentang kota Al-Quds dan masjid Al-Aqsha, karena turut serta dalam pembebasan kota tersebut. Ketika Hasan bin Ali meletakkan jabatan sebagai pemimpin kaum muslimin, Mu’awiyah naik tahta. Beliau memindahkan kota administratifnya ke negeri yang diberkahi Allah Ta’ala, negeri Syam dengan ibukota Damaskus. Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengambil sumpah jabatannya di kota Al-Quds, untuk mengambil keberkahan dari tempat tersebut.

Setelah pengambilan sumpah jabatan, beliau mulai merenovasi bangunan masjid Al-Aqsha yang dibangun oleh Umar. Diantaranya mengganti pondasi yang terbuat dari kayu dengan batu, memperluas bangunan tersebut hingga dapat menampung tiga ribu jama’ah. Setelah bangunan masjid tersebut direnovasi kondisinya tetap seperti ini hingga datangnya Abdul Malik bin Marwan, seorang pemimpin Bani Umayyah yang terkenal dengan sebutan “Bapak Pembangunan”. Abdul Malik membangun kubah Ash-Shakhrah, dalam pembangunan tersebut beliau terlebih dahulu membangun kubah As-Sililah. Kubah ini terletak sebelah timur dari kubah Ash-Shakhrah. Tujuan dibangunkannya adalah sebagai tempat untuk memitor pembangunan kubah Ash-Shakhrah, kubah terbesar yang berada di masjid Al-Aqsha.

Selain kubah Ash-Shakhrah dan kubah As-Silsilah, dibangun pula pada masa ini pintu Ar-Rahmah. Pintu ini terletak di sebelah timur dari masjid Al-Aqsha. Pembangunan kedua kubah ini diawasi langsung oleh Al-Walid bin Abdul Malik, anak dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. Selain itu, pada masa Bani Umayyah ini juga dibangun istana yang terletak di luar masjid Al-Aqsha bagian selatan, memanjang dari timur ke barat. Istana ini mempunyai akses masuk ke masjid Al-Aqsha melalui bawah masjid Al-Qibli, yang kini dikenal dengan masjid Al-Aqsha Al-Qadim.

Masa Dinasti Bani Abbasiyah

Sejarah masjid Al-Aqsha ketika periode Bani Abbasiyah banyak terkait dengan proses renovasi karena kejadian alam seperti gempa. Khususnya masjid Al-Qibli, yang letaknya berada di atas proyek pemerataan masjid Al-Aqsha bagian selatan. Karena tanah yang menjadi letak pondasinya bukan batu asli sebagaimana posisi kubah Ash-Shakhrah.

Diantara peninggalan-peninggalan Bani Abbasiyah pada masjid Al-Aqsha selain masjid Al-Qibli dan kubah Ash-Shakhrah adalah:

  1. Pusara para gubernur Dinasti Ikhsyidiyah[10]. Yang terletak di luar masjid Al-Aqsha bersebelahan dengan pintu Al-Asbat.
  2. Renovasi Baikah Syarqiyah (Lengkung Timur). Disebutkan bahwa lengkung ini adalah lengkung paling kuno karena dibangun pada masa Bani Umayyah dan dibangun kembali pada masa Abbasiyah, abad ke-10 masehi atau abad keempat hijriah.
  3. Renovasi Baikah Janubiyah (Lengkung Selatan).
  4. Baikah Gharbiyah (Lengkung Barat). Baikah ini dibangun pada tahun 340 H/951 M.

Masa Dinasti Fathimiyah

Dinasti Bani Abbasiyah mulai melemah. Beberapa wilayah yang jauh dari ibukota Baghdad mulai memisahkan diri. Diantaranya, Bani Idris (Idrisiyah) di Maghribi Jauh dan Bani Ubaidi (Fathimiyah) di Afrika dan Mesir. Fathimiyah dikenal juga dengan Ubaidiyah karena didirikan oleh Al-Mahdi Ubaidullah, pada tahun 297 H/909 M.

Dinasti Fathimiyah mengambil nama dari Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Dan para pemimpin Fathimiyah mengklaim dengan mengembalikan asal usul mereka kepada Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad. Dinasti ini beraliran Syi’ah Ismailiyah, berkuasa di wilayah Afrika Utara dan Mesir selama 262 tahun, yaitu antara tahun 909-1171 M.  Salah satu pemimpin dinasti Fathimiyah bernama Al-Hakim Bi Amrillah (986-1021 M.). Beliau mempunyai sifat yang agak berbeda dengan pemimpin lainnya. Ibunya beragama nasrani, maka dari itu beliau memberikan kebebasan dalam memilih keyakinan terhadap rakyatnya. Tapi kebebasan ini tiba-tiba hilang begitu saja. Al-Hakim kemudian menyerang dan membunuh orang-orang nasrani serta menghancurkan gereja-gereja termasuk gereja yang terdapat di Al-Quds yaitu gereja Al-Qiyamah (The Holy Sepulchre). Hal inilah yang menjadi salah satu sebab terjadinya perang salib.

Perang Salib dan Jatuhnya Kota Suci

Selain dari penghancuran gereja, terdapat penyebab lain yaitu adanya lapisan masyarakat miskin di Eropa yang memerlukan bahan pangan. Bahan pangan bisa didapat dari wilayah-wilayah yang dikuasai kaum muslimin. Sebab ini dapat dilihat dari pidato Paus Urbanus II di hadapan para relawan tentara salib: Pergilah kalian! Buatlah kecemasan bagi orang-orang barbar itu. Bersihkan tanah suci dari tangan orang-orang kafir. Rebutlah untuk diri kalian, karena tanah suci tersebut penuh dengan susu dan madu, sebagaimana dikatakan dalam kitab Taurat.

Jatuhnya kota Al-Quds yang di dalamnya terdapat masjid Al-Aqsha pada fase kedua perang salib dikarenakan pengkhianatan Fathimiyah. Al-Quds sebelumnya dikuasai oleh Bani Seljuk. Ketika tentara salib menyerang Bani Seljuk dari arah utara, Fathimiyah menyerang Bani Seljuk dari arah selatan hingga Al-Quds dapat mereka kuasai. Konsentrasi Bani Saljuk terpecah karena melawan dua pasukan musuh dari dua arah sekaligus, sehingga mereka dikalahkan oleh musuhnya.

Setelah tentara salib mengepung Al-Quds dan kota ini telah dikuasai oleh Fathimiyah, terjadi kesepakatan rahasia antara Iftikhar Ad-Daulah, gubernur Al-Quds dari Fathimiyah dengan Raymond de Saint Gilles dan Godfrey, komandan tentara salib. Kesepakatan ini menyatakan bahwa kunci Al-Quds akan diberikan kepada tentara salib dengan imbalan mereka dibiarkan pergi dengan selamat. Akhirnya para pimpinan Fathimiyah meninggalkan benteng Al-Quds melalui jalur selatan hingga sampai ke Askelon dan Mesir.[11] Tentara salib masuk ke Al-Quds dan terjadilah pembantaian penduduk kota tersebut. Mereka menyembelih siapa saja yang ditemui. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, anak-anak atau orang tua, hingga penduduk menjadikan masjid Al-Aqsha sebagai benteng terakhir.

Setelah rangkaian pembantaian selesai, mereka menjadikan masjid Al-Aqsha sebagai tempat yang terhinakan bagi kaum muslimin. Kubah Ash-Shakhrah dirubah menjadi gereja yang dinamakan Aqdas Al-Muqaddasat. Tiang salib terpampang di atas kubah dan di dalamnya ditempel gambar-gambar Al-Masih. Ketika pembantaian berlangsung di masjid Al-Aqsha, tentara salib menjadikan Ash-Shakhrah sebagai tempat penyembelihan.

Masjid Al-Qibli yang berada di selatan masjid Al-Aqsha dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, difungsikan sebagai gereja. Bagian kedua, difungsikan sebagai kantor para komandan tentara salib dan bagian ketiga difungsikan sebagai tempat tinggal tentara pasukan berkuda.

Gudang Al-Aqsha yang kini telah menjadi mushalla Al-Marwani dirubah menjadi kandang kuda dan tiang-tiang yang terdapat di dalamnya difungsikan sebagai pengikat kuda. Mereka menamakan tempat ini sebagai Solomon Stable (kandang kuda Sulaiman). Tentara salib juga membangun gereja di sebelah utara masjid Al-Aqsha.

Para tentara salib memecah Ash-Shakhrah menjadi batu-batu kecil. Batu-batu kecil ini dijual kepada para peziarah Eropa yang datang ke Al-Quds dengan harga seberat timbangan emas. Kejadian ini berlangsung hingga datang para raja mereka dan melihat apa yang dilakukan para tentaranya.

Nuruddin Zanky dan Dinasti Zankiyah

Sebelum Shalahuddin membebaskan masjid Al-Aqsha, usaha pembebasan ini telah dilakukan oleh keluarga Zanky. Dimulai dari Atabik Imaduddin Zanky bin ‘Aq Sanqar, seorang berkebangsaan Turki bekerja di bawah pemerintahan Maliksyah dari Bani Seljuk yang masih loyal kepada Bani Abbasiyah. Ayahnya, ‘Aq Sanqar menjadi gubernur di Halb (Aleppo) antara tahun 1085-1094 M.[12]

Setelah kematian Imaduddin, kerajaan dilanjutkan oleh puteranya Nuruddin Mahmud bin Zanky, atau lebih dikenal dengan Nuruddin Zanky.

Nuruddin wafat sebelum masjid Al-Aqsha jatuh ke tangan kaum muslimin. Beliau dimakamkan di Madrasah An-Nuriyah, Al-Baldah Al-Qadimah, Damaskus. Pusaranya masih ada hingga saat ini, letaknya di ujung pasar Al-Humaidiyah dekat dengan masjid Al-Umawi, Damaskus. Jauh hari sebelum wafat, beliau telah memerintahkan untuk dibuatkan mimbar yang akan diletakkan di masjid Al-Aqsha. Mimbar yang sangat indah, tidak pernah ada sebelumnya yang semisal dengannya.

Shalahuddin Al-Ayyubi dan Dinasti Ayyubiyah

Dengan wafatnya Nuruddin Zanky, pasukan salibis mengira bahwa kaum muslimin telah gagal menguasai Al-Quds. Terlebih, dengan adanya pertikaian internal di keluarga Zanky tentang siapa yang menggantikan Nuruddin. Anaknya yang bernama Ismail Shaleh, terhitung masih kecil dan membutuhkan pembinaan lebih lanjut. Juga, ada beberapa pemimpin dari keluarga Zanky yang mengajukan gencatan senjata kepada tentara salib.

Kaum muslimin terpecah, hingga mereka meminta bantuan kepada Shalahuddin di Mesir. Yusuf bin Ayyub atau lebih dikenal dengan Shalahuddin Al-Ayyubi adalah orang kepercayaan Nuruddin untuk menjadi gubernur di Mesir. Akhirnya, Shalahuddin berangkat dengan pasukannya menuju Syam dan berusaha untuk menyatukan kembali antara Mesir dan Syam.

Setelah Shalahuddin membebaskan masjid Al-Aqsha dan kota suci Al-Quds, beliau mulai mengusir para salibis dari tanah suci tersebut. Ketika itu, Eropa mengirim pasukan ke Palestina untuk menambah pasukan yang telah kalah dalam pertempuran dengan Shalahuddin. Dimulailah fase ketiga perang salib. Pasukan Eropa dipimpin oleh Richard The Lion Heart, seorang raja Inggris yang terkenal dengan kecerdikannya.

Kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha Setelah Ditinggal Shalahuddin

Setelah ditinggal Shalahuddin, Salah seorang penerus Shalahuddin yang bernama Al-Malik Al-Mu’adzam Isa, membuat terobosan berani di kota Al-Quds. Terobosan tersebut muncul ketika melihat kondisi yang lemah dari kaum muslimin, beliau memerintahkan untuk menghancurkan benteng kota Al-Quds yang telah dibangun dan diperbaiki oleh Shalahuddin. Penghancuran ini sebagai antisipasi jikalau pasukan salibis kembali menguasai Al-Quds dan memanfaatkan benteng yang sudah ada sebagai pelindung mereka.

Setelah Al-Malik Al-Mu’adzam Isa wafat, beliau digantikan dengan Al-Malik Al-Kamil Muhammad bin Al-Malik Al-‘Adil Saifuddin bin Abu Bakar bin Ayyub. Pada masa ini, kota Al-Quds kembali dikuasai oleh pasukan salibis dengan adanya perjanjian “Yafa”. Perjanjian antara Raja Frederick dari Jerman dan Al-Malik Al-Kamil Muhammad ini berlangsung selama sepuluh tahun. Diantara isi perjanjiannya adalah kunci kota Al-Quds akan diserahkan kepada Raja Frederick dan ditukar dengan kota Akka, kota Al-Quds akan dipimpin oleh Raja Frederick tapi masjid Al-Aqsha tetap berada di bawah lindungan kaum muslimin, dan orang-orang salib tidak diperkenankan membangun benteng Al-Quds yang telah dihancurkan oleh Al-Malik Al-Mu’adzam Isa sebelumnya. Perjanjian ini terjadi pada tahun 626 H. Perjanjian ini membuat kaum muslimin marah karena sampai harus melarang terdengarnya azan di masjid Al-Aqsha ketika raja Frederick datang.

Kondisi Al-Quds seperti hal yang diceritakan di atas hingga Al-Malik Al-Kamil Muhammad wafat. Beliau digantikan oleh Al-Malik An-Nashir Daud bin Al-Malik Al-Mu’adzam Isa. Beliau mampu mengusir pasukan salibis keluar dari Al-Quds pada tahun 637 H, setelah mereka melanggar perjanjian Yafa seperti tidak membangun benteng di Al-Quds. Kaum muslimin bergembira dengan kemenangan ini.

Akan tetapi kemenangan ini tidak berlangsung lama karena Al-Malik Daud bersekutu dengan pamannya As-Shaleh Ismail untuk melawan Al-Malik Najmuddin Ayyub, penguasa Mesir. Persekutuan ini mengajak pasukan salib untuk ikut bergabung menghadapi Najmuddin Ayyub dengan imbalan kota Al-Quds diserahkan kembali kepada mereka. Peristiwa jatuhnya Al-Quds ke tangan pasukan salibis untuk yang ketiga kalinya ini terjadi pada tahun 638 H. Hal ini membuat revolusi di kalangan umat Islam guna menentang imbalan tersebut. Di akhir hayatnya, Al-Malik Daud menggelandang dan mati dalam keadaan gelandangan.

Jatuhnya Al-Quds ke tangan pasukan salibis terjadi hingga tahun 643 H. Setelah Al-Malik Ash-Shalih Najmuddin Ayyub bin Al-Malik Al-Kamil Muhammad Abu Bakar meminta bantuan kepada penduduk Mesir untuk membentuk satu pasukan melawan tentara salibis, kemudian ia mulai menyerang dan membebaskan Bait Al-Maqdis pada tahun yang sama. Tahun tersebut merupakan tahun terakhir para tentara salib dapat menguasai Al-Quds. Sejak saat itu, masjid Al-Aqsha dan kota suci Al-Quds berada di tangan kaum muslimin hingga datang penjajah zionis pada abad ke-20.

Masa Dinasti Mameluk

Mameluk artinya budak. Dinasti ini memang didirikan oleh sekolompok budak, yaitu orang-orang yang ditawan oleh dinasti Ayyubiyah dan dijadikan budak. Mereka dididik dan dijadikan tentara, ditempatkan secara terpisah dari masyarakat. Ketika masa Al-Malik Ash-Shalih Najmuddin Ayyub bin Kamil dari dinasti Ayyubiyah berkuasa, mereka  ditempatkan di pulau Raudhah di tepian sungai Nil. Merekalah yang membentuk dinasti Mameluk Bahri pada tahun 648 H./1250 M. yang dipimpin oleh Izzuddin Aybak. [13]

Masa dinasti Mameluk merupakan masa keemasan masjid Al-Aqsha dan kota Al-Quds. Kota ini berkembang secara cepat, baik dari sisi keilmiahan seperti pembangunan madrasah, kubah, masthabah di setiap tempat maupun dari sisi arsitektur bangunan dan jumlah penduduknya. Kota Al-Quds yang kita lihat saat ini, sejarahnya kebanyakan kembali kepada dinasti Mameluk. Berkuasa selama kurang lebih 267 tahun, yaitu antara tahun 648-922 H./1250-1517 M.

Seorang ahli sejarah bernama Mujiruddin Al-‘Ulaimi menceritakan tentang kondisi interior masjid Al-Aqsha ketika beliau hidup, yaitu sebelum tahun 900 H./1496 M. Interior masjid Al-Aqsha ketika masa tersebut sebagian besar mirip dengan interior masa kini. Ini artinya, masjid Al-Aqsha yang ada sekarang sebagian besar adalah hasil arsitektur pada masa dinasti Mameluk.

Setelah dinasti Mameluk melemah, dikarenakan pajak yang memberatkan rakyatnya, maka sejak tahun 922 H./1496 M. kunci kota Al-Quds diserahkan kepada Sultan Sulaim Al-Utsmani dan saudara-saudaranya dari negeri Syam. [14]

Masa Dinasti Utsmaniyah

Dinasti Utsmaniyah sudah lebih dulu ada sebelum kejatuhan dinasti Mameluk, dan Al-Quds adalah salah satu kota pertama di Syam yang dapat dikuasai oleh dinasti Utsmaniyah. Dinasti ini melanjutkan perkembangan ilmiyah dan arsitektur bangunan yang telah dilakukan pendahulunya. Bahkan berkembang juga dari sisi sosial dan seni budaya.

Kondisi Al-Quds dan masjid Al-Aqsha lebih stabil hingga akhir dari dinasti ini. Dikarenakan banyaknya tekanan politik dari luar (penjajah) membuat dinasti ini melemah, khususnya dari penjajahan Inggris. Hal ini menjadikan Palestina kembali dikuasai oleh orang-orang non muslim.

 

Penulis: Salman Alfarisy, Lc. 

 Catatan kaki:

  1. Bighal, hewan hasil perkawinan antara kuda dan keledai.
  2. Kitab al-Madkhal ila Dirasat Al-Masjid Al-Aqsha, karya Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, hal. 85-88.
  3. Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel
  4. Terdekat ke negeri Arab Yaitu Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Romawi Timur
  5. Ialah antara tiga sampai sembilan tahun. Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614-615) dengan kemenangannya (tahun 622 M.) bangsa Romawi adalah kira-kira tujuh tahun.
  6. HR. Bukhari (4:123) No. Hadits. 3176 dan Ibnu Majah (2/1341) No. Hadits 4042.
  7. 7.       Dalam riwayat ath-Thabari bahwa yang mengepung benteng al-Quds adalah ‘Amr bin ‘Ash, sebagaimana dinukil dari kitab Sirah Amiri al-Mukminin Umar bin Khattab, hal. 473.
  8. Kitab Al-Madkhal ila Dirasati Al-Masjid Al-Aqsha, oleh Dr. Abdullah Ma’ruf, hal. 91, menukil dari kitab Ithafu Al-Akhsha, lembaran ke-99.
  9. Dari berbagai sumber, diantaranya: Kitab Filisthin at-Tarikh al-Mushawwar, hal. 80-86, Kitab Al-Madkhal ila Dirasat Al-Masjid Al-Aqsha, hal. 97.
  10. Dinasti Ikhsyidiyah berdiri pada tahun 935 M oleh Muhammad bin Tughj. Ikhsyid merupakan gelar yang diberikan khalifah Abbasiyah karena telah berhasil menghalau serangan Fathimiyah di Mesir. Setelah kuat, Ikhsyidiyah akhirnya memisahkan diri dari Abbasiyah. Dinasti ini menguasai wilayah Syam, termasuk Palestina dan sebagian Hijaz. Dinasti ini runtuh pada tahun 969 M oleh Fathimiyah.
  11. Kitab Al-Kamil fi At-Tarikh, oleh Ibnu Al-Atsir, Vol. 9 hal .19
  12. Kitab Athlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami, oleh Dr. Sauqi Abu Khalil, hal. 202
  13. Kitab Athlas At-Tarikh Al-‘Arabi Al-Islami, oleh Dr. Syauqi Abu Khalil, hal. 230
  14. Dr. Najih Bukairat dalam tulisannya tentang renovasi Mameluk pada masjid Al-Aqsha. Dinukil dari kitab Al-Madkhal ila Dirasat Al-Masjid Al-Aqsha, oleh Dr. Abdullah Ma’ruf, hal. 125-126

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *