LUMPUH NAMUN KUKUH, RINGKIH TAPI GIGIH

Jika saya dibebaskan dengan syarat saya harus makan sepotong semangka,

pasti saya tidak mau menerimanya

(Syeikh Ahmad Yasin)

 

Kata-kata di atas bukan gurauan. Ini sebuah kesungguhan dari seorang lelaki renta yang tak bisa menggerakkan badan kecuali hanya kepalanya saja.

Buah semangka adalah salah satu buah favorit Syeikh Mujahid sejak kecil. Meski demikian jika beliau tahu bahwa pembebasannya tersebut bersyarat -apapun namanya- tentu beliau menolaknya. Meski syarat itu beliau sukai sekali pun. Demikian sebagaimana tutur Maryam Ummu Hammam salah satu putri asy-syahid. Beliau sebelumnya tidak tahu-menahu soal pembebasannya pada awal Oktober 1997.

Pagi itu -seperti biasa- sumpah serapah menjadi sarapan rutin di antara jeruji-jeruji kezhaliman. Tidaklah Syeikh mendengar apa yang sedang ramai dibicarakan pers di luar tentang detik-detik pembebebasannya. Setelah diminta berkemas, seperti biasa dibantu oleh orang lain karena kondisi fisik beliau yang tak memungkinkan, kemudian beliau diminta keluar. Barangkali di benaknya terbayang akan dipindah sel atau ke penjara lain. Setiba di luar beliau sangat terkejut, menjumpai banyak tokoh di sana. Raja Husein, pemimpin Yordania menyebelahi beliau dan menyalami sambil mengucapkan selamat. Syeikh kembali menghirup udara kebebasan meski tanah airnya belum meraihnya sedikit pun.

Jika beliau tahu bahwa pembebasan ini ditukar dengan dua orang mata-mata Israel yang ditangkap HAMAS sejak 1992 tentulah beliau menolaknya. Namun, ini sebuah siasat dan kebijakan. Beliau pun tak sanggup menolaknya.

Itulah syeikh para pejuang Palestina. Terlahir sebagai pejuang dari sebuah keluarga sederhana di Desa Juroh Asqalan, Jalur Gaza pada bulan Juni 1938. Belum genap berusia sepuluh tahun, beliau sekeluarga terlunta-lunta pasca Perang Dunia II dan deklarasi Negara Israel tahun 1948. Hidup dibarak-barak pengungsian di Zuratusysyams, tepian Jalur Gaza.

Sejak kecil beliau terbiasa sederhana hingga kembali menghadap Tuhannya dalam kondisi yang sederhana, menyukai kesederhanaan dan menyayangi fakir miskin serta anak yatim. Meski demikian, sepanjang hidupnya senantiasa diabdikan untuk sebuah perjuangan. KEBEBASAN PALESTINA.

Yasin kecil mengalami musibah pada usia menjelang remaja, setelah berolah raga di pantai Gaza. Saat terjatuh ketika beliau bergulat dengan salah seorang temannya; Abdullah Khathîb pada tahun 1952. Beliau sakit dan kemudian divonis lumpuh. Tapi beliau tidak mengabarkan kepada keluarganya juga keluarga temannya tentang permainan gulat yang mereka lakukan, untuk menjaga hubungan baik antar keluarga yang sudah terjalin sangat lama. Sejak saat itulah, di usia 16 tahun beliau menjalani hidup dalam keadaan lumpuh. Meski demikian semangat menuntut ilmu terus menyala, hingga pada tahun 1958 beliau menamatkan pendidikan menengah atas. Bahkan berpeluang mengajar di sebuah sekolah. Hanya saja kondisi fisiknya yang kurang mendukung. Meski pada akhirnya beliau mengajar di sebuah sekolah, di Gaza. Beliau juga sempat mencicipi pendidikan di Mesir, di Universitas al-Azhar. Hal inilah yang kemudian membuat beliau bersentuhan langsung dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan dakwah reformis yang dirintis sekaligus dipimpin oleh Hasan al-Banna. Bahkan, kemudian sangat berpengaruh terhadap pola pikirnya. Kemudian, beliau pun menjadi salah satu kader terbaiknya di Palestina.

Yasin belia yang belum menggenapkan 20 tahun terbiasa naik turun podium dan mimbar. Menyampaikan pidato, khutbah, ceramah dan orasi. Kata-katanya membakar dinginnya suasana yang dicekam ketakutan. Suaranya lantang menembus keragu-raguan hati yang enggan berjuang. Rangkaian huruf demi huruf yang disampaikannya bagai batu-batu yang dilemparkan anak-anak kecil mengusir pengecut-pengecut Zionis. Ia pun dikenal sebagai singa podium sejak belia. Ia selalu menyampaikan pesan dengan bahasa hati yang sangat dijiwainya. Berkarakter dan tidak munafik.

Di antara shalat demi shalat. Di antara masjid ke masjid. Beliau terus memberikan pencerahan. Lambat laun, beliau mulai merasa ada banyak perubahan pada rakyat Palestina. Setidaknya perubahan pola pikir. Dari sikap apatis menyerah, menjadi mau bergerak. Melawan. Meraih hak yang seharusnya diperoleh di tanah air sendiri. Palestina.

Tahun 1983 Syeikh memandang bahwa sudah saatnya melakukan persiapan. Beliau menghimpun kekuatan dan mencari bantuan senjata untuk melawan pendudukan Israel. Akan tetapi, aktivitas ini tercium. Sebagai akibatnya, beliau ditangkap dan dijebloskan dalam penjara pada tahun 1984 serta divonis 12 tahun lamanya.

Setelah 11 bulan mendekam dalam tahanan akhirnya ”Sang Singa” dibebaskan pada tahun 1985 melalui sebuah pertukaran tahanan.

Syeikh Yasin memiliki wawasan yang sangat luas. Beliau bersedih atas konspirasi yang menumbangkan Khilafah Usmaniah pada awal abad XX. Sebagai imbasnya, tanah Palestina selalu menjadi tempat konflik antara berbagai kepentingan. Meskipun sejatinya tidaklah bisa disebut konflik, karena yang terjadi adalah perampasan sepihak, pendudukan ilegal dan perilaku dehumanisasi terhadap bangsa Palestina. Hal inilah yang kemudian membuatnya memilih jalan perlawanan. Karena semenjak tahun 1948 bangsa Palestina terancam punah. Pelan-pelan, hampir tiap hari rakyat Palestina diteror tengah malam atau pagi-pagi buta dari tiga arah. Disisakan satu arah saja supaya mereka melarikan diri, meninggalkan Palestina. Atau jika mau menetap di sana, nyawa menjadi gadainya.

Sebelumnya Palestina merupakan bagian koloni Inggris pasca Perang Dunia II setelah itu pelahan-lahan orang-orang Yahudi memasuki Palestina untuk mendirikan Israel. Saat Israel benar-benar berdiri, itulah pukulan telak bagi umat Islam, khususnya Bangsa Arab dan terlebih Palestina.

Setelah pembebasannya, Yasin muda kembali menggalang kekuatan. Berembug dengan para pejuang. Memikirkan cara yang efektif menyelamatkan bangsanya. Melawan penjajahan. Mengusir pendudukan Israel. Akhir ahun 1987 bersama beberapa teman seperjuangannya beliau mendirikan HAMAS (Harakah al-Muqâwamah al-Islâmiyyah) Gerakan Perlawanan Palestina.

Di tahun inilah Intifadhah Palestina meletus. Perlawanan serempak dan besar-besaran terhadap kesewenangan dan kezhaliman Israel. Palestina marah. Seluruh rakyatnya, besar, kecil, tua, muda, laki-laki dan perempuan. Bangkit serampak. Melawan Israel.

Saat itu juga beliau ditahbiskan sebagai pimpinan spiritual HAMAS. Gerakan ini memiliki pengaruh yang luar biasa. Rakyat Palestina seolah memiliki nyawa kembali. Berani melawan, meski dengan peralatan seadanya.

Israel memikirkan cara untuk meredam gerakan perlawanan ini dengan menyiapkan penyelundup dan mata-mata serta iming-iming perdamaian. Di lain sisi mereka melancarkan teror.

Sebagai konsekuensi, teror fisik dan psikis pun tak luput menyambangi beliau. Akhir tahun 1988 rumah beliau didatangi dan didobrak paksa oleh tentara Zionis. Beliau diancam akan diusir dan diasingkan ke Yordania.

Setengah tahun berikutnya. Tepatnya pada bulan 18 Maret 1989 beliau ditangkap kembali bersama 260 kader HAMAS dengan multi tuduhan; melakukan perlawanan terhadap pemerintah Israel, membunuh, mendirikan HAMAS, membuat teror terhadap warga Israel dan mengganggu stabilitas keamanan setempat. Pada pengadilan militer tahun 1991 mereka menghadiahi beliau hukuman seumur hidup ditambah 15 tahun atas tuduhan-tuduhan di atas.

Pada tahun-tahun antara 1989 sampai 1993 terjadi penangkapan besar-besaran. Kader-kader dan pejuang HAMAS menjadi sasaran dan selalu diburu. Namun, Israel justru memetik buah kebrutalannya. Dari balik tahanan Syeikh tak henti-hentinya memotivasi para pengikutnya untuk terus melakukan perlawanan dengan berbagai cara.

HAMAS bukan milik Syeikh Yasin semata. Benar, HAMAS memiliki seorang Syeikh Yasin. Namun, tanpa keberadaannya di sisi para penjuang, Intifadhah terus meledak. Dan warga Israel takkan pernah dibiarkan tidur nyenyak di atas tanah yang mereka rampas dari bangsa Palestina. Kali ini sayap militer HAMAS, anggota-anggota Brigade Izzuddin al-Qassam yang menjadi mimpi buruk warga Israel. Di samping faksi-faksi perlawanan lainnya yang ada di Palestina.

Aksi bom syahid pun menjadi sebuah fenomena baru dalam gerakan perlawanan. Bom Istisyhad yang diklaim sebagai tindakan bodoh frustasi tidaklah seperti yang dibayangkan Israel, sehingga sering mereka sebut sebagai ”bom bunuh diri”. Para pelakunya adalah putra-putra terbaik Palestina. Bukan orang-orang frustasi yang hendak mengakhiri hidupnya dengan kebodohan sebagaimana didakwakan dan dipropagandakan oleh pers-pers sekuler.

Syeikh terbelenggu di balik jeruji. Putaran matahari dan bulan tak bosan mengiringi senandung jihad putra-putri Palestina.

Tahun 1992 Israel merencanakan pembunuhan aktivis HAMAS terkemuka Dr. Khaled Mesh’al di Amman, Ibukota Yordania. Usaha ini digagalkan HAMAS. Bahkan dua orang mata-mata Israel berhasil dibekuk. Dan setelah melalui beberapa kali perundingan alot, akhirnya dua orang tawanan ini digunakan untuk menebus Syeikh Yasin. Syeikh Mujahid kembali dibebaskan pada tahun 1997 melalui pertukaran tawanan.

Semenjak itu beliau memang bebas. Namun Israel merancang makar yang lebih keji. Dengan menjadikan Syeikh sasaran tembak dan target pembunuhan.

Bulan september 2003 Pesawat F-16 dengan terang-terangan menghujani bom di sebuah apartemen tempat beliau mengadakan pertemuan dengan para murid dan teman-temannya. Ada diantaranya Ismail Haniah, PM Palestina yang saat itu menjadi pendamping Syeikh dalam berbagai konsolidasi lapangan dan aksi-aksi HAMAS. Syeikh pun menderita luka-luka. Allah masih melindunginya dari incaran kepengecutan Israel.

Sebelumnya pada 22 September 2000 kembali meletus Intifadhah al-Aqsha. Sebagai respon atas apa yang dilakukan Ariel Sharon yang menginjak-injak kesucian Masjid al-Aqsha. Syeikh pun memimpin sendiri intifadhah ini. Tentunya beliau semakin menjadi target Israel. Setelah, sebelumnya mereka berhasil membunuh para kader terbaik HAMAS. Yahya Ayyash, Shalah Syahatah, Muhyiddin Syarif dan yang lainnya.

Dan benar saja. Keheningan fajar, hari Senin, 22 Maret 2004 dirusak oleh tindakan brutal Israel. Sebuah Halikopter Apatche menyergap beliau dengan tiga buah rudal.

Itulah sebuah kepengecutan. Untuk membunuh seorang yang lumpuh, Israel memerlukan tiga rudal yang ditembakkan dari udara. Dan menghabiskan dana miliaran.

Syeikh Ahmad Yasin gugur ditempat. Beliau tersenyum menemui Rabbnya dengan kemenangan. Meskipun musuh-musuhnya tertawa dan jutaan rakyat Palestina serta umat Islam menangisi kepergiannya.

Beliau gugur bersama tujuh orang yang berada di sekitarnya. Dua orang putranya, Abdul Ghani dan Abdul Hamid  terluka cukup parah.

Seorang Ahmad Yasin, kini tersemat bukan sekedar sebagai pejuang biasa. Beliau adalah ruh perlawaan Palestina.  Seorang yang lumpuh sejak belia. Kemudian makin menderita selama ditahanan zionis. Mata kanan beliau juga tidak bisa melihat. Mata sebelah kiri rabun, terkena radang paru-paru, sakit lambung dan pencernaan. Itulah gambaran kondisi fisik beliau yang makin memburuk. Apalagi perlakuan di dalam tahanan yang tidak manusiawi serta minimnya layanan kesehatan yang kurang laik untuk tahanan yang menderita sakit seperti beliau.

Meski lumpuh, namun tetap kukuh. Meski fisiknya ringkih, beliau terus gigih. Memimpin perjuangan hingga hembusan nafas terakhirnya. Meski beliau tak melihat langsung buah perjuangannya.

Kehidupan Syeikh Yasin dipenuhi perjuangan dari fajar hingga malam. Tak jarang beliau hanya berbuka dengan segelas susu dan sepotong roti di tengah perjalanan, karena tak sempat menyambangi rumahnya.

Suara yang serak-serak dan agak kecil tak menjadikan beliau enggan menyampaikan pesan apa saja. Mengomentari kebengisan Israel. Membakar semangat juang generasi muda. Dan Syeikh pun memang laik sebagai ”SINGA”. Bak mitos legenda yang sangat ditakuti para penjahat dan musuhnya, orang-orang zhalim beserta para begundalnya.

Banyak yang mengira kepergian ini adalah sebuah duka. Namun keluarga beliau lebih senang menerima ucapan selamat. Karena Syeikh menjadi tabungan berharga di sisi Allah. Gugur sebagai syahid. Dan kematiannya menyentak umat, menyetrum kaum muslimin, khususnya bangsa Palestina agar tak menyerah melawan penjajahan Israel.

Sosok yang sibuk itu. Dengan aktivitas yang seolah tak pernah berhenti, tidaklah kemudian menghalangi Syeikh untuk menjadi figur yang lembut dan penyayang terhadap putra putrinya. Bersenda gurau dan bercengkarama bersama mereka.

Demikian halnya terhadap para tetangga. Beliau selalu berusaha membantu hajat dan kebutuhan tetangga, dengan kemampuan yang sangat terbatas.

Tidak hanya sebatas itu. Kekuatan kharisma beliau juga diterjemahkan melalui ungkapan cinta dan kedalaman kasih sayang pada pasangan hidupnya. Aura kegigihan beliau menular pada istri dan anak-anaknya.

Terlalu banyak memori indah bersama Syeikh sepanjang hidupnya yang penuh dengan semangat juang dan pembelaan terhadap kaum tertindas”. Sedikit berkaca-kaca Maryam mengenang ayahnya. ”Beliau bercerita di tengah-tengah keluarga, kadang diselingi canda dan senyum. Sangat mesra. Sebelum beliau pergi, saat makan bersama atau ketika baru tiba dari bepergian,” tambahnya mengisahkan kedekatan yang sangat dan keharmonisan kedua orang tuanya.

Perhatian terhadap putra-putrinya ini tercermin dalam kedisiplinan beliau mendidik. Menghafal al-Qur’an adalah sebuah keharusan bagi keluarga Syeikh. Di samping itu beliau tak bosan-bosannya memberikan wejangan terhadap putra-putrinya. Namun bukan dengan kata-kata, beliau lebih suka menerjemahkannya langsung melalui perilaku kesehariannya. Karena itu putra-putrinya juga istrinya sangat berkesan.

Sebagai contohnya. Beliau sangat menyayangi fakir miskin. Suatu ketika beliau  diminta untuk membagikan pakaian kepada fakir miskin. Beliau memberikan 5 pasang pakaian mewah. Saat itu ada salah seorang anaknya yang mengusulkan, ”Wahai Ayah, alangkah baiknya jika kita belikan dengan kualitas yang sedikit di bawahnya. Ini akan mencukupi lebih dari lima pasang bahkan bisa sepuluh kali lipatnya”.

Syeikh pun tersenyum membalas, “Apakah orang miskin tak laik memakai pakaian bagus?”

Hening. Semua terdiam. Tak ada yang berani membuka mulut.

Kekokohan pribadi Syeikh Mujahid tak berarti beliau tidak pernah menitikkan air mata. Ada saatnya beliau sangat bersedih. Bahkan tersedu menangis. Ketika Syeikh Shalah Syahatah gugur syahid dibom Israel. Beliau adalah teman terdekat Syeikh. Luka-luka hatinya makin memerih, ketika beliau terngiang pesan asy-syahid.

Jika aku mati, tak ada umbul-umbul di jalan. Jangan ada fotoku terpampang di atas keranda mayatku”.

Ini bukan sebuah canda. Tapi kalimat-kalimat serius Syeikh Shalah Syahatah menjelang kepergiannya. Menggapai keabadian cinta Rabbnya.

Sosok yang seolah lemah dan renta itu tak pernah –sekalipun- takut akan kematian. Justru beliau selalu menantang keangkuhan Israel yang berarti kematian selalu mengintip beliau setiap saat.

Coba kita dengar penuturan Abdul Ghani –putra beliau- ketika mengiringi beliau keluar Masjid  al-Mujamma’ al-Islamy menuju mobil. Ia melihat sebuah halikopter berputar-putar di atas tempat itu.

Ayah, mereka berputar-putar dari tadi!”

Beliau justru menantangnya, ”Mana? Aku tunggu mereka!”

Belum tiga menit beliau menyelesaikan perkataan itu di sela dzikir-dzikir pagi, sekonyong-konyong tiga buah rudal memburu tubuhnya yang terduduk di atas kursi roda.

Bum. Bum. Bum

Ada darah lagi yang menjadi tumbal dan harga sebuah kebebasan

Komitmen yang kuat inilah yang kemudian mendarah daging dalam dada setiap penerusnya. Tak terkecuali salah satu murid dan teman terbaiknya. Dr. Abdul Aziz Rantisy yang kemudian diangkat sebagai pimpinan HAMAS, menggantikan Syeikh Ahmad Yasin. Beliau juga gugur hanya berbeda tiga minggu setelahnya. Tanggal 17 April 2004 Israel kembali menodai kata-kata perdamaiannya dengan aksi keji. Membunuh salah seorang putra terbaik Palestina dengan halikopter yang sama. Membidik Dr. Rantisy yang berada dalam mobilnya, murid dan teman terbaik Syeikh yang kemudian sangat dikenal dengan kata-katanya.

”Kematian itu sama. Biar dengan Apatche atau pun kanker. Kita semua menanti saat akhir hidup kita. Takkan pernah ada yang berubah. Apakah karena Apatche atau berhentinya detak jantung. TAPI SAYA MEMILIHNYA DENGAN APATCHE…..”

Itulah sebuah seni. Seni menjemput kematian.

Syeikh Ahmad Yasin telah mengajarkannya pada generasi penerusnya. Penantian yang panjang akan kesyahidan ini akhirnya beliau dapatkan. Dan bahwa takdir kematiannya bukan dengan lumpuh, radang paru-paru atau kelemahan fisik lainnya. Apatche lah yang ditakdirkan Allah untuk mengakhiri hidupnya.

Syeikh Ahmad Yasin memasuki gerbang kemenangan. Menjemput bidadari keabadian. Bersama para pendahulunya para pejuang dan pahlawan. Meninggalkan kefanaan dan titipan perjuangan untuk para penerusnya. Untuk meneruskan perlawanan sampai ada sebuah pekikan takbir kebebasan dan kemenangan.

Mengenangnya, terngiang pesan takziah beliau saat seorang temannya yang bernama Abdullah Khatib meninggal. Beliau membuka tabir rahasia puluhan tahun lamanya. Bahwa lumpuh yang dideritanya adalah akibat bergulat dengan Syeikh Abdullah. Ia rahasiakan demi menjaga hubungan kekerabatan dan pertemanan.

Dia lah yang menyebabkanku seperti ini. Tak bisa berjalan ke mana-mana. Tapi saya perlu berterima kasih padanya. Jika itu tak terjadi barangkali kalian tak menyaksikan Ahmad Yasin di sini. Jika saya seperti sedia kala maka yang ada adalah Ahmad yang lebih suka bermain dan bercanda. Dengan ”karunia” yang diberikan Allah membuat saya lebih rajin belajar dan beribadah serta berkumpul dengan orang-orang shalih. Semoga Allah memberkatimu sahabatku

Hanya manusia berjiwa besar yang mampu mengatakannya. Tak ada marah apalagi dendam. Tak ada putus asa dan nada menyerah. Yang ada kekukuhan di balik lumpuh, dan kegigihan di balik ringkih tubuhnya. Dan karena konsentrasinya adalah mengembalikan negeri Palestina kepada penduduk dan penghuni aslinya.

RahimakalLâh Syeikh al-Mujahidin…

 

 

Catatan Keberkahan, 020

Jakarta, 24.10.2013

 

Dr.Saiful Bahri, MA.

Ketua ASPAC for Palestine

*) Sebagian isi tulisan ini dinukil dari tulisan penulis dalam buku ”Lasykar Syuhada” (Depok: Lingkar Pena Publishing, 2008)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *