KTT Islam (OKI) dan Al-Quds

KTT Islam pertama digelar pada September 1969 sebulan setelah kejahatan “pembakaran Masjid Al-Aqsha”. Saat itu mereka memutuskan untuk mengornanisir dan menghimpun negara-negara Islam dengan nama Organisasi Konferensi Islam (OKI). Belakangan nama ini diganti dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dibuatlah Lembaga Dukungan Dana untuk Al-Quds. Tujuannya adalah melawan yahudisasi yang dilakukan zionis. Sejak saat itu Al-Quds selalu hadir dalam setiap “press rilis dan rekomendasi-rekomendasi konferensi-konferensi tingkat tinggi Islam”. KTT Islam terakhir digelar di Kairo pada Februari 2013 ini dengan tindakan yang sama. Demikian hal dengan permasalahan Palestina secara umum. Namun tindakan nyata mereka seakan absen. Sebab entitas zionis masih melanjutkan tindakan pelanggaran terhadap kota Al-Quds dengan melakukan yahudisasi dan israelisasi dengan melakukan menggusur rumah-rumah warga Al-Quds dan meminggirkan mereka dengan melakukan penggalian-penggalian yang mengancam masjid Al-Aqsha.

Politik Yahudisasi sistematis terhadap Al-Quds, rambu-rambunya, jalan-jalan dan peninggalannya masih terus berlanjut. Namun KTT Islam dan OKI masih hanya sebatas mengecam. Tak berubah sama dalam bentuk nyata. ‘Israel’ pun tidak peduli dengan KTT ini. Al-Quds yang merupakan inti utama konflik dengan zionis masih membutuhkan sikap nyata.

Oktober 2010 entitas zionis mengambil keputusan yang menganggp bahwa Al-Quds adalah wilayah nasional pertama, mendorong pembangunan pemukiman yahudi di sana dan sekitarnya. Padahal menurut ideology rasis kolonialis zionis mereka merampas tanah dan hak Palestina serta tindakan pelanggaran terhadap hak ini. Entitas zionis juga mengambil keputusan pada November 2010 yang menganggap Al-Quds sebagai ibukota bangsa Yahudi dan bukan hanya ibukota ‘Israel’.

Tindakan penjajah zionis ini tidak sepadan dengan kecaman dan kutukan dari KTT Islam.

Lembaga Dukungan Dana untuk Al-Quds itu perlu. Namun ternyata dalam tindakan nyata juga tidak ada. Ini sama sekali tidak memiliki gaung di forum-forum PBB dan media massa.

Sikap ini dihadapi oleh zionis dengan aksi yahudisasi yang sangat luas dan sistematis. Warga Al-Quds menghadapi berbagai macam pelanggaran zionis Yahudi dan usaha menjadikannya sebagai ibukota dan meyahudikannya. Warga Al-Quds tidak memiliki sarana menghadapi kekejaman zionis yang sadis dan sistematis. Mereka hanya memiliki tekad, kesabaran dalam perlawanan, mempertahankan Al-Quds dengan berada tetap di sana.

Tentu menghadapi tindakan zionis tidak bisa hanya dengan dialog dan press rilis yang berisi kecaman dan kutukan. KTT OKI membutukan tindakan nyata. Mereka hanya memiliki konsistensi dan komitmen dalam membela Al-Quds dan Palestina secara umum.

Agaknya KTT OKI hanya menjadi rutinitas dan Amanah Umum OKI juga tidak mampu bertindak lebih dari yang ada. Karena itu dari KTT ke KTT hanya menjadi tindakan nonsen. Mungkin OKI hanya menghafal agar Al-Quds tetap dalam ingatan. Namun dalam kenyataannya Al-Quds tidak dijaga dari tindakan zionis yahudi yang ingin meyahudikan dan mengisraelkannya dalam proyek kolonialis rasisnya. (Usamah Abdur Rahman)

Sumber: Infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *