Kisah Pejuang Bawah Tanah

Sejumlah pejuang menceritakan pengalaman mereka ketika berperang melawan penjajah zionis. Mereka menceritakan dengan penuh ketenangan dan menghadirkan bimbingan Ar-Rahman dalam setiap aksinya.

Pejuang yang berinisial A.S berkata: “Misi kami adalah melaksanakan ‘Operasi Pengepungan’ di belakang pasukan pendobrak dan menguasai kendaraan dan peralatan tempur penjajah, dengan cara apapun”. Sebagaimana pejuang lainnya dari ‘kesatuan pembuat terowongan’, tugasnya menyiapkan terowongan dan jalan keluar untuk digunakan bagi para pejuang elit. Seluruh pejuang sudah siap dengan tugas masing-masing sebelum dimulainya perang darat”.

Pejuang lainnya menambahkan: “Ketika perang darat dimulai, kami berhadapan dengan pasukan musuh. Operasi pertama kami adalah meledakkan tank-tank dari titik nol. Kemudian operasi berkembang sesuai dengan tugas masing-masing yang telah digariskan oleh komandan dari ruang komando”.

Salah satu operasi yang monumental adalah keluarnya dua orang pejuang bernama Basim Al-Agha dan Fadi Abu ‘Audah (kini keduanya telah gugur) dengan membawa bahan peledak buatan Al-Qassam. Keduanya menjalankan operasi bom syahid dengan meledakkan tank-tank di titik nol. Operasi ini telah menyebabkan jatuh korban di pihak musuh. Operasi berjalan sempurna sesuai dengan rancangan yang telah digambarkan. Para pejuang mengisi waktu-waktunya dengan berdzikir kepada Allah, mohon ampunan, doa dan shalat.

Seorang pejuang lainnya menceritakan: “Ketika pasukan musuh memasuki wilayah Al-Qararah yaitu di Utara Khan Yunis, Selatan Jalur Gaza, mereka meledakkan beberapa mulut terowongan sebagaimana mereka juga menghancurkannya dengan pesawat F-16. Di dalam terowongan terdapat para pejuang. Mereka terkubur di kedalaman 25 meter. Peristiwa ini terjadi pada hari kedua dimulainya perang darat. Kemudian terputuslah komunikasi para pejuang tersebut dengan ruang komando”.

Komandan lapangan mengatakan: “Sejak terputusnya komunikasi pada hari itu, kami menganggap para pejuang di terowongan termasuk ke dalam orang-orang yang hilang. Kami tidak mengetahui apa yang terjadi karena dahsyatnya pertempuran. Mereka tidak mempunyai bekal makanan dan minuman serta udara yang cukup. Sangat mustahil mereka masih hidup”.

Beliau melanjutkan, “Setelah pertempuran berhenti, tim penyelamat mencoba untuk menggali lubang di tempat terowongan berada untuk menyelamatkan para pejuang. Mereka menemukan 23 orang pejuang masih hidup dan berada dalam kondisi sehat. Mereka masih mencari 3 orang pejuang yang belum ditemukan”.

Inilah kesaksian pejuang yang selamat, yang  berinisial R.S: “Allah memudahkan kami ketika terkubur di dalam perut bumi. Terlihat seperti mata air ketika kami meletakkan potongan pakaian di dalam air. Kemudian kami meminum dari perasan pakaian tersebut. Kami membagi jatah kurma selama sebulan berada di sana. Setiap orang mendapat setengah kurma sehari dan setengah gelas kecil air. Padahal, sumber air di tempat tersebut berada pada 90 meter di bawah tanah atau 65 meter di bawah para pejuang”.

Komandan lapangan menutup kisah ini dengan ungkapan indah. “Kisah ini menguatkan kami, bangsa Palestina. Seandainya seluruh penduduk dunia menginggalkan rakyat Palestina dan para pejuangnya, akan tetapi Allah masih bersama kami. Allah tidak akan pernah meninggalkan kami. Allah akan tetap menolong kami dengan cara-Nya”. (disarikan dari www.palinfo.com oleh Salman Alfarisy-Asia Pacific Community for Palestine)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *