Kematian Tahanan Palestina Picu Bentrokan

Kematian misterius Arafat Jaradat (30 tahun) di penjara Megiddo Israel, memicu bentrokan baru di Tepi Barat, Ahad (24/2), bersamaan dengan kekhawatiran terjadinya pemberontakan ketiga Palestina.

Komentator militer Israel Alex Fishman dalam harian Yediot Ahronot menulis, kematian Jaradat dapat menjadi pemicu pemberontakan ketiga karena warga Palestina saat ini marah. 

Menurutnya, pemberontakan pertama terjadi di akhir tahun 1980-an ditandai dengan pelemparan batu, protes, dan pemogokan komersial. Pemberontakan kedua pada tahun 2000. Saat itu Israel menduduki kembali Tepi Barat setelah pengeboman dan penembakan. 

Kematian Jaradat membuat ketegangan meningkat di Tepi Barat, termasuk demonstrasi warga Palestina dalam mendukung empat tahanan Palestina yang mogok makan di penjara Israel. 

Di Tepi Barat, warga Palestina memprotes kematian Jaradat dengan melemparkan batu ke tentara Israel di beberapa lokasi, Ahad. Tak hanya Tepi Barat, Kota Hebron, dan di sebuah pos pemeriksaan dekat penjara militer Ofer juga menjadi sasaran. 

Pejabat kesehatan Palestina Dr Ahmed Bitawi mengatakan, dalam bentrokan di dekat pos pemeriksaan, tentara Israel menembak Walid al-Hab Reeh (15) di dada dan perut, tapi kini kondisinya stabil. Sementara pria lainnya terluka di lengan.

Piminan kelompok advokasi Palestina untuk tahanan Kadoura Fares, mendesak warga Palestina, tetap berdemonstrasi. Dia juga mengatakan salah satu tahanan yang mogok makan Jafar Izzeldeen, supaya dipindahkan ke rumah sakit karena kondisinya memburuk. 

Puluhan ribu warga Palestina dipenjara sejak Israel merampas Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur pada tahun 1967. Secara keseluruhan, Israel menahan hampir 4.600 warga Palestina, termasuk puluhan orang yang belum pernah didakwa secara resmi. 

Jaradat, seorang pria yang berasal dari desa Saeer Tepi Barat, meninggal di penjara Megiddo di Israel, Sabtu (23/2). Pengacara Jaradat, Kamil Sabbagh kepada seorang hakim militer Israel hari Kamis (21/2) saat sidang mengatakan dia (Jaradat) dipaksa untuk duduk saat diinterogasi dalam waktu yang lama. 

‘’Dia juga mengeluhkan nyeri punggung, dan tampak takut untuk kembali ke penjara Shin Bet. Meskipun dia tidak memiliki tanda-tanda mengalami kekerasan fisik,’’ kata Sabbagh. 

Setelah sidang, hakim memerintahkan Jaradat untuk diperiksa dokter penjara. Ahad, lembaga forensik Israel melakukan autopsi yang dihadiri seorang dokter dari Otoritas Palestina Issa Karake.

Melalui hasil autopsi Karake, Menteri Palestina Urusan Tahanan, mengatakan Jaradat telah mengalami dua patah tulang rusuk di sisi kanan dadanya. Autopsi juga menunjukkan memar di punggung, dan dada Jaradat.

Ini mematahkan perkataan para pejabat Israel bahwa Jaradat meninggal karena serangan jantung, tapi tidak ada bukti yang mendukung.

’’Jaradat menghadapi penyiksaan yang keras, menyebabkan kematiannya langsung. Israel bertanggung jawab penuh atas pembunuhan itu,’’ kata Karake.

Seorang pejabat senior Palestina menuduh Jaradat disiksa oleh badan intelejen Shin Bet Israel. Ini mengutip hasil autopsi Jaradat yang mengalami patah tulang rusuk, dan memar.

Shin Bet mengklaim selama interogasi, Jaradat diperiksa beberapa kali oleh seorang dokter yang mendeteksi tidak ada masalah kesehatan. 

‘’Pada hari Sabtu, dia (Jaradat) berada di selnya, dan merasa tidak enak setelah makan siang,’’ kata Shin Bet. Badan itu menjelaskan, penyelamatan yang dilakukan dokter tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Kementerian Kesehatan Israel mengatakan autopsi belum tentu menjadi penentu penyebab kematian. 

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Israel B’Tselem Sarit Michaeli mengatakan, penganiayaan fisik di penjara telah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir namun belum menghilang. (republika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *