Karakter Kepemimpinan Shalahuddin Ayyubi

M. Iqbal, SH.

Tanggal 2 Oktober menandai peringatan tahunan peristiwa pembebasan Al-Quds, dari tangan salibis kepada umat muslim. Selayaknya setiap kisah, selalu ada sosok yang dikenang dibaliknya. Sejarah mencatatnya dengan nama Shalahuddin Al-Ayyubi. Sosok yang menjadi figur penting dari sejarah panjang dunia Barat (Gereja) dan Timur (khususnya Islam). Meski dibenci sebagai musuh, namun keduanya sepakat bahwa Shalahuddin merupakan pribadi yang mengagumkan. Bahkan, tidak sedikit yang menempatkan Shalahuddin sebagai salah satu simbol kepemimpinan yang bersejarah.

Tidak seperti anggapan awam, Shalahuddin bukanlah berasal dari keturunan bangsa Arab, melainkan bangsa Kurdi. Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau kemudian lebih diingat dengan nama Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin) lahir di wilayah Tikrit, sebuah wilayah masyarakat Kurdi di utara Irak. Pengalaman hidupnya telah banyak ia habiskan di medan perang. Di usia 14 tahun, Shalahuddin ikut berangkat ke Damaskus dan menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa Baghdad waktu itu. Karirnya mulai melejit dan titik utamanya saat ia menaklukan dinasti Fathimiyyah (yang merupakan dinasti Syiah) karena menolak tunduk pada Dinasti Abbasiyyah. Perhatiannya kemudian tertuju pada Baitul Maqdis, yang seharusnya menjadi kota ibadah penuh damai, sejak Khalifah ‘Umar membebaskan kota itu pertama kalinya. Namun, sejarah mencatat peristiwa pembantaian berdarah terhadap penduduk muslim di sana membuatnya tergerak mengembalikan izzah dan digdaya Islam yang sudah dicoreng sedemikian rupa. Perjalanan panjang itu yang mengantarkan Shalahuddin dalam peristiwa pembebasan Al-Quds untuk kedua kalinya. 

Figur Shalahuddin telah memberikan kesan dan pengaruh sedemikian besar kepada mereka. Tidak salah, jika kemudian – menyikapi fenomena perpecahan di tengah bangsa arab (secara khusus, menunjuk umat muslim) – masyarakat mengidam-idamkan kembalinya sosok Shalahuddin di tengah-tengah mereka. Dalam konteks kali ini, penting untuk mengetahui, seperti apa figur Shalahuddin seharusnya dijelaskan. Sebagian besar, masyarakat mungkin pertama kali mengenalnya saat ia memimpin pasukan muslim dalam peperangan Hittin (Battle of Hattin), yang mendahului peristiwa bersejarah penaklukan Al-Quds. Namun, pertanyaannya apakah kemampuan kepemimpinan militernya yang menjadikan Shalahuddin berbeda diantara pemimpin-pemimpin besar dunia yang lainnya?

Shalahuddin memang sangat dikenal dengan karismatiknya sebagai seorang panglima perang. Di balik itu, ia juga seorang sosok yang sangat penyantun, berkarakter layaknya kesatria (chivalrous). Itu mengapa ia berbeda dengan tokoh seperti Jengis Khan, ataupun Alexander the Great. Di eranya, ia menunjukkan bahwa karakter keberhasilan kepemimpinan tidak hanya saat ia terjun di medan pertempuran. Sebagaimana pula yang kerap dilakukan oleh para pemenang perang, “winner takes all”: penyiksaan terhadap mereka yang kalah dan penghancuran peradaban. Tapi kesalahan itu tidak dilakukan oleh Shalahuddin. Ketika Shalahuddin teringat akan peristiwa pembantaian yang dilakukan kaum salibis saat Yerusalem direbut dahulu, ia menahan diri untuk tidak mengulanginya. Saat Al-Quds ditaklukkan, ia memberikan jaminan keselamatan untuk seluruh penduduk kota tersebut. Kepada kaum salibis yang kalah perang, ia tidak menghabiskan seluruh pasukan tersebut, melainkan hanya meminta mereka untuk membayar jizyah(upeti). Bahkan, itu hanya dikenakan bagi mereka yang memang mampu saja. Shalahuddin bahkan mengizinkan pengecualian pembayaran Jizyah terhadap penduduk non-muslim di Al-Quds. Pengaruh dari karakter kepahlawanan semacam itu, juga ditularkan kepada pasukan-pasukannya ketika mereka menguasai Yerusalem sepenuhnya, dengan mempertahankan tempat-tempat peribadatan kaum non-muslim serta mengizinkan peziarah kristiani menjalankan ibadah di kota suci itu.

Tentu dari sekian catatan sejarah, yang kerap diingat – dan tidak kalah mengesankan – adalah saat peristiwa pengepungan kota Yerusalem. Begitu dahsyatnya, sehingga peristiwa tersebut diangkat ke layar lebar, “Kingdom of Heaven”. Pelajaran paling berharga, yang ditulis berulang kali baik dari orang-orang Arab maupun dari Barat sekalipun, adalah bagaimana Shalahuddin menunjukkan toleransi beragama dan sikap penghormatannya pada seorang yang ia lawan di medan perang, terutama Richard the Lionheart. Ia tidak segan-segan berkunjung menemui Richard ketika ia jatuh sakit. Bahkan, di beberapa sumber, Shalahuddin mau membantu Richard menghadapi pemberontakan yang dihadapinya saat kepulangannya. Ia adalah seorang panglima perang, yang akan mengalahkan musuh-musuhnya dan melindungi masyarakatnya. Di satu sisi, ia adalah seorang ksatria: ia tidak menjadikan kebencian pada musuhnya membuatnya berhenti menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada sesama manusia. Salah satu yang membuat dirinya memiliki pribadi luar biasa semacam ini, adalah kedekatan vertikalnya kepada Allah SWT yang sangat kuat dan terus terjaga. Ia paham bahwa tidak mungkin keberhasilan akan muncul serta merta dengan tangannya sendiri. Dikisahkan, ia bahkan tidak pernah meninggalkan salat fardhu, dan gemar salat berjamaah. Kecintaannya pada Allah, membuat ia tidak pernah merasa lelah beribadah, bahkan ketika ia sedang sakit ia tetap berpuasa.

Sosok pribadi menyeluruh seperti ini yang kemudian menjadikan Shalahuddin sebagai sosok pemimpin yang tidak tergantikan dalam sejarah peradaban Islam. Dicintai rakyatnya, dikagumi lawannya, dirindukan kedatangannya meski kini ia telah tiada.

Secara menyeluruh, peringatan 2 Oktober sebagai hari pembebasan Al-Quds sejatinya menjadi pengingat bahwa keberhasilan mengembalikan Al-Quds ke tangan umat muslim tidak bisa tanpa sosok pemimpin yang benar-benar teruji karakternya.  Kini, Al-Quds kembali tersandera. Meski kini Shalahuddin telah tiada, kegemilangan Islam tetap akan kembali, dan Al-Quds akan kembali ke tangan Islam, selagi umat muslim mampu mereplikasi karakter Shalahuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *