Kaleidoskop Palestina – Oktober 2014

Italia: Pembangunan Pemukiman Yahudi Baru di Al-Quds Halangi Perdamaian

 

Roma – Bukan hanya Amerika yang mengkritik Israel  terkait pembangunan pemukiman Yahudi, Italia juga mengkritik pemerintah penjajah Zionis yang menyetujui penambahan pembangunan pemukiman Yahudi di Al-Quds Timur dan dinilai sebagai penghalang bagi proses perdamaian.
 
Kementerian Luar Negeri Italia dalam keterangannya kemarin Jumat (3/10) mengatakan, keputusan Israel  membangun 2160 unit hunia di Givat Hamatos di kawasan Al-Quds sebagai penghalang upaya menggulirkan perdamaian untuk menyelesaikan secara final konflik Israel  dan Palestina. Tindakan Israel  ini dinilai akan berimbas bagi nasib masa depan generasi Palestina mendatang.
 
Italia menilai upaya Israel  ini disengaja dan terjadi berulang-ulang sehingga disimpulkan sebagai pihak yang tidak memiliki itikad baik menuju perdamaian dan menempuh solusi dua negara.
 
Bukan hanya itu, pilihan Israel  ini akan menggagalkan kemungkinan terwujudkan kesepakatan yang menegaskan Al-Quds sebagai ibukota masa depan bagi dua negara, tandas Italia.
 
Italia meminta pemerintah Israel  agar mengkaji kembali keputusannya soal pemukiman Yahudi dan melanjutkan perundingan damai.

 

——-

 

Ribuan Warga Palestina Penuhi Seruan ‘Arafah’ di Al-Aqsha

 

Al-Quds – Umat Islam adalah satu umat. Bersamaan para jamaah haji wukuf di Arafah kemarin, seruan kelompok pemuda Palestina agar warga Palestina berduyun-duyun ke Al-Aqsha mendapatkan respon luar biasa. Ribuan warga Palestina dari Tepi Barat dan Al-Quds serta warga Palestina wilayah 48 datang ke Al-Aqsha untuk ‘wukuf’ itikaf di Al-Aqsha.
 
Tidak seperti biasa, semua kelompok usia warga Palestina datang dan masuk ke Masjid Al-Aqsha setelah selama beberapa bulan-bulan sebelumnya, sebagian kelompok usia muda dilarang Israel  masuk masjid hanya sekadar untuk shalat wajib atau berbuka.
 
Meski demikian, pasukan Israel  masih sempat menahan dan melarang sebagian warga Palestina yang dibawah usia 50 tahun masuk ke Masjid Al-Aqhsa. Mereka terpaksa shalat di jalan-jalan kota.
 
Para kelompok muda Palestina menyerukan agar warga datang ke Al-Aqsha dengan slogan “’Arafah’ di Al-Aqsha” dalam rangka menghadang aksi yahudisasi yang direncakan oleh penjajah Zionis yang membidik kota Al-Quds, Masjid Al-Aqsha. Aksi ini juga dalam rangka mengecam penggalian yang dilakkan Zionis yang terus berlanjut di sana. 

 

——-

 

Gaza Canangkan Hari Anti Pesawat Mata-Mata Drone Sedunia

 

Gaza – Organisasi Afaq di Kamp Nazaret tengah kota Gaza mencanangkan hari anti pesawat mata-mata Zionis yang dikenal dengan nama Drone, bersamaan dengan aksi serupa di Inggris,
 
Dalam aksi ini akan ikut diantaranya organisasi Afaq bersama anak-anak kecil Palestina sambil membawa pesawat raflika mata-mata dari plastik maupun kertas yang bertuliskan dua bahasa, Arab dan Inggris, “Hari Anti Pesawat Mata-Mata Sedunia”. Tulisan lain berbunyi minta penggunaan pesawat Drone karena sangat bahaya bagi manusia, terutama anak-anak dan wanita.
 
Anak-anak anak membawa pesawat buatan dari kertas atau plastik dan untuk mengatakan, pada dunia, “Kami meluncurkan pesawat cinta dan menolak pesawat maut yang telah membunuh anak-anak, wanita dan orang tua. 
 
Mereka memilih anak-anak untuk ikut dalam aksi ini, karena merekalah yang paling dirugikan dengan adanya pesawat-pesawat ini. Warganya sangat terganggu dengan pesawat ini, karena sering kali terbang berutar-putar di langit Gaza. 

 

——-

 

Mayoritas Anggota Parlemen Inggris Mendukung Pengakuan Palestina

 

Mayoritas Anggota Parlemen Inggris telah memberikan suara mendukung pengakuan Palestina sebagai sebuah negara dalam sebuah langkah yang tidak mengubah sikap pemerintah tentang masalah ini, tapi membawa nilai simbolis bagi Palestina dalam mengejar pengakuan internasional. 
 
Inggris tidak mengklasifikasikan Palestina sebagai sebuah negara, tetapi mengatakan itu bisa melakukannya kapan saja jika mereka yakin itu akan membantu upaya perdamaian antara Palestina dan Israel. 
 
David Cameron, perdana menteri Inggris, abstain dari pemungutan suara, yang disebut oleh anggota parlemen dari oposisi, dan juru bicara Cameron sebelumnya mengatakan bahwa kebijakan luar negeri tidak akan terpengaruh apapun hasilnya. 
 
 
Bagaimanapun, suara itu diawasi ketat oleh otoritas Palestina dan Israel yang mencari kesiapan negara-negara Eropa untuk bertindak atas harapan Palestina memperoleh pengakuan negara-negara anggota PBB. 
 
Gerakan terakhir, yang disahkan oleh 274 orang berbanding 12 di House of Commons, Majelis Rendah Parlemen, menyatakan “bahwa majelis ini percaya bahwa pemerintah harus mengakui negara Palestina berdampingan dengan negara Israel sebagai kontribusi untuk mengamankan dinegosiasikan solusi dua negara “. 
 
Suara itu muncul beberapa saat setelah pemerintah kiri-tengah baru Swedia secara resmi mengakui Palestina, sebuah langkah yang telah dikecam oleh Israel, yang mengatakan bahwa Palestina merdeka hanya dapat dicapai melalui negosiasi. 
 
Sebelumnya pada hari Senin, kekerasan berkobar di Yerusalem Timur ketika ratusan pasukan polisi Israel menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa dan bentrok dengan jamaah Palestina. 
 
Para pengunjuk rasa di Yerusalem Timur telah berjuang hampir setiap malam dengan pasukan keamanan Israel dalam beberapa hari terakhir. 
 
Kerusuhan telah didorong oleh sejumlah faktor, termasuk pembunuhan remaja Palestina Mohammed Abu Khdair dan perang di Gaza. 

 

——-

 

Gerombolan Yahudi Bakar Masjid Di Tepi Barat

 

Jenin – Aksi pembakaran masjid di Tepi Barat oleh pihak gerombolan yahudi kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi fenomena bersamaan dengan kejahatan terhadap Masjidil Aqsha.
 
Kejahatan baru pembakaran masjid kembali terjadi, Selasa (14/10) pagi, di kawasan Aqraba, Nablus Selatan, Masjid Abu Bakar as Siddiq dibakar para ekstrimis yahudi setelah merusak pintu dan jendela masjid, dan menuliskan pesan rasial di dinding, mereka membakarnya.
 
Menurut seorang warga, Muhamad Dairiya, gerombolan yahudi di kawasan ini terus memprovokasi kaum muslimin, mereka sengaja membakar masjid karena tahu akan membuat marah kaum muslimin.
 
Sejak pembakaran Masjidil Aqsha tahun 1968, kejahatan ini terus berulang, sementara tak ada reaksi dari dunia Islam, membuat para ekstrimis yahudi dan penjajah zionis berani menodai kehormatan Islam dan tempat suci di Palestina.
 
Sejumlah masjid di Betlehem, Salfit dan Ramallah juga menjadi sasaran pembakaran oleh gerombolan yahudi dalam beberapa tahun terakhir ini. 

 

——-

 

Konfrontasi Meletus di Lorong-lorong al Quds

 

Alquds –  Berbagai konfrontasi dengan pasukan penjajah Zionis meletus di sebagian besar lorong Kota Tua di al Quds dan perkampungan sekitarnya pada Selasa malam (14/10/2014). Konfrontasi ini terjadi setelah penutupan masjid al Aqsha sepanjang hari Selasa kemarin bagi jamaah kaum muslimin yang berusia di bawah 50 tahun.
 
Konfrontasi terkonsentrasi di perkampungan pintu Hithah, pintu Nadhir, pintu al Wad, pintu at Thur dan Rasul Amud, di samping di gerbang kamp pengungsi Shaafat dan gerbang Qalindia di utara al Quds.
 
Pasukan penjajah Zionis melepaskan tembakan bom suara dan gas secara massif ke para pemuda dan rumah-rumah warga di kampung at Thur setelah para pemuda Palestina berhasil menghancurkan sebuah mobil milik seorang pemukim pendatang Zionis.
 
Disebutkan bahwa pasukan penjajah Zionis sejak Selasa pagi melakukan operasi penangkapan di kota al Quds. Tidak kurang dari 20 warga telah ditangkap, termasuk seorang bocah di bawah umur di kampung Silwan dan seorang wanita dari pintu Silsilah.
 
——-
 
Perancis: Pengakuan Atas Palestina Dukung Perdamaian Dunia
 
Menteri luar negeri Perancis Laurent Fabius mengatakan pengakuan atas negara Palestina akan membantu menciptakan kedamaian di negara dua kekuasaan itu.
 
Pernyataan ini dikeluarkan Fabius sehari setelah pemerintah Inggris akhirnya mengakui negara Palestina melalui voting.
 
”Setelah diakui sebagai negera, yang harus dilakukan Palestin adalah mencari jalan untuk mencapai perdamaian jangka panjang,” kata Fabius dalam rapat bersama dewan seperti dikutip Maannews, Kamis (16/10).
 
Perdebatan pengakuan atas Palestina sebagai entitas negar sempat mencuat di antara negara-negara Eropa.
 
Inggris jadi negara ke dua setelah Swedia yang akhirnya mengakui Palestina sebagai negara. Langkah yang akhirnya menuai kritik AS dan Israel. Setidaknya sudah ada 112 negara yang mengakui negara Palestina. 

 
——-
 
Daima Sawahira, Tawanan Wanita Terkecil Palestina di Penjara ‘Israel’
 
Al-Quds – Usianya belum sampai 17 tahun. Namun perempuan Daima Muhammad Ali Sawahira yang berasal dari Jabal Mubakir di Al-Quds ini harus merasakan gelapnya penjara Hasharon ‘Israel’ dan dialah tawanan wanita Palestina termuda di penjara ‘Israel’.
 
Daima ditangkap ‘Israel’ pada 3 Januari 2014 yang memaksanya tidak menyelesaikan studinya di tingkat SMU. Impian masa depan pun terlihat suram kecuali impian terbebas dan kembali ke pangkuan keluarganya dan hidup secara normal yang terdiri dari 14 orang dan dua orang tuanya.
 
Dengan penuh lukadan sedih, orang tuanya menceritakan kepada Pusat Studi Tawanan dan HAM “Ahrar” atas kekhawatiran dan ketakutannya atas anak perempuannya dan ia menyebutnya sebagai tragedi karena anak semata wayangnya harus masuk penjara.
 
Meski harus menerima kenyataan denga ridla, keluarganya semakin menderita karena belakangan mereka harus menerima surat peringatan dari ‘Israel’ bahwa rumah mereka di Jabal Mubakir harus digusur.
 
 
Penyebab Penahahan
 
Penjajah Zionis menuding Daima berusaha menusuk seorang serdadu ‘Israel’ di sebuah gang di kota lama Al-Quds awal tahun ini. Pada saat itu, sang perempuan malang ini harus menerima pukulan dan keroyokan dari pasukan ‘Israel’ sebelum akhirnya dia dijebloskan dalam penjara sampai saat ini. Ia kini harus menerima vonis penjara selama 18 bulan.
 
Bersama 16 tawanan wanita Palestina lainnya, Daima merasakan kondisi sulit hidup dalam penjara.
 
Lembaga Ahrar untuk Tawanan dan HAM ini meminta kepada pejuang kebebasan di dunia dan lembaga HAM yang ada untuk menekan penjajah ‘Israel’ dan mengungkap pelanggaran mereka atas hak-hak tawanan wanita Palestina dan mempersoalkannya di depan undang-undang internasional. 

 
——-
 
Perang Gaza Gulingkan Pemimpin Senior Militer Zionis
 
Gaza – Angkatan Bersenjata Zionis memutuskan perubahan para pemimpin pasukan terbesar di militer Zionis yang telah ikut dalam perang darat di Gaza baru-baru ini. Keputusan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah militer Zionis.
 
Namrud Alony, yang sebelumnya menjabat sebagai komandan pasukan utara Tepi Barat, akan menggantikan Eliazer Tolidano, komandan pasukan payung yang pasukannya bertempur di daerah timur Khan Yunis dalam perang darat terakhir di Gaza.
 
Mutasi juga mencakup pelengseran komandan pasukan khusus Givaati yang memicu perdebatan “Ofer Finter” yang pasukannya tewas di daerah Rafah selatan Jalur Gaza dalam perang darat dan salah seorang perwiranya, Hadar Golden, disandera pada awal Agustus lalu.
 
Posisinya akan diganti oleh Yaron Finkelmn yang saat ini bertugas sebagai komandan pasukan utara Jalur Gaza, yang bertugas melindungi permukiman-permukiman Yahudi di utara Jalur Gaza selama perang perlangsung, di antaranya adalah mencegah aksi-aksi penyusupan melalui terowongan, di samping mencegah aksi penyusupan melalui dataranKibots Zikim di awal perang.
 
Angkatan Bersenjata Zionis juga menunjuk komandan baru untuk pasukan Nahel, yang tentaranya bertempur di wilayah Beit Hanun dan Beit Lahiya di utara Jalur Gaza selama perang darat berlangsung, yaitu komandan pasukan selatan di militer dan saat perang “Amos Hakohin”, yang selama perang memimpin penggagalan aksi penyusupan melalui terowongan. Amos Hakohin akan menggantikan komandan pasukan saat ini yaitu Erwy Gordan, yang merupakan komandan pasukan yang pertama masuk dengan pasukannya ke utara Jalur Gaza selama perang.
 
Pencopotan juga dilakukan terhadap komandan pasukan Kefir bernama Escher Ben Lulu, yang pasukannya tidak pernah masuk Gaza selama perang namun dia memimpin aksi menemukan jasad 3 orang Zionis yang diculik di Halhul utara Hebron menjelang perang ke Gaza. Dia akan diganti oleh komandan pasukan wiayah Hebron Gay Hazot.
 
Muta juga mencakup pencopotan komandan pasukan Brigade 7 dan 188 di pasukan lapis baja. Untuk kedua pasukan ini ditunjuk sebagai komandan Dan Neuman sebagai komandan Brigade 188 menggantikan Nadav Lotan dan Neir Ben David sebagai komandan Brigade 7 menggantikan Tomer Afrah. Kedua pasukan ini turut dalam perang dara di Gaza, termasuk yang melancarkan serangan ribuan meriam dan menggempur kampung Syujaeyah di awal perang. 
 
——-
 
Sejak 2007 Penjajah Zionis Batalkan Hak Tinggal 6 Ribu Warga al Quds
 
Alquds – Otoritas penjajah Zionis melakukan pembatalan hak tinggal lebih dari 6 ribu warga Palestina di perkampungan kota al Quds timur sejak tahun 2007 hingga tahun 2014. Hal tersebut dinyatakan oleh Badan Islam-Kristen untuk al Quds dan Tempat-tempat suci.
 
Dalam laporannya Badan Islam-Kristen dalam laporannya menilai, penarikan kartu identitas dan hak tinggal warga al Quds mengungkap adanya kebijakan tersembunyi yang sistematis bertujuan jelas untuk menancapkan kontrol “Israel” atas kota al Quds serta melakukan yahudisasi kota dan mengusir penduduk aslinya, dalam rangka kebijakan pembersihan etnis.
 
Menurut laporan ini, otoritas penjajah Zionis telah membatalkan hak tinggal ratusan ribu warga Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza dan al Quds sejak tahun 1967. Di saat yang sama ‘Israel” mengizinkan orang Yahudi tinggal di tanah palestina dan memberi mereka kebebasan pergi ke luar negeri dan kembali tanpa harus kehilangan hak tinggal mereka. Berbeda dengan orang Palestina yang dicabut kartu identitas mereka dan dideportasi di saat mereka meninggalkan tanah Palestina.
 
Menurut data, jumlah KTP al Quds yang dicabut selama antara tahun 1947 hingga 2008 mencapai 12134 KTP.
 
Melalui berbagai tindakan pasukan penjajah Zionis berusaha mengosongkan kota al Quds dari warga Palestina. Yaitu dengan menggunakan sejumlah sarana, baik melalui pencabutan hak tinggal atau penerapan pajak yang tinggi atau pendeportasian melalui keputusan pengadilan Zionis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *