Jerusalem, Satu Kota Tiga Iman

Judul Buku: Jerusalem, Satu Kota Tiga Iman

Penulis: Karen Amstrong

Penerbit: Risalah Gusti

Cetakan ke-: 3

Tahun terbit: 2009

Jumlah Halaman : xxii + 555 Halaman

 

 

Dipuja sepanjang millenium oleh tiga sistem keimanan, tercabik-cabik oleh konflik yang tidak berkesudahan, ditaklukan, dibangun kembali, dan diratapi sekali lagi dan sekali lagi.  Jerussalem adalah kota yang sakral, yang kekudusannya melahirkan tragedi yang mengerikan.  Dalam buku ini, Karen Amstrong melacak sejarah bagaimana umat yahudi, kristen, dan kaum muslimin melandasi klaim atas Jerussalem sebagai kota suci mereka, dan bagaimana ketiga konsep yang berbeda secara radikal tentang yang kudus telah membentuk dan memberi trauma ke kota itu selama ribuan tahun.

 

Buku ini merupakan kajian sejarah yang mendalam mengenai sejarah peradaban yang terjadi di Jerussalem.  Selama ini Jerussalem ditulis penuh dengan muatan kontaminasi kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik dan bias kepentingan keagamaan.  Konflik keimanan yang berlangsung di Jerussalem terjadi tidak dapat diingkari sebagai sokongan dari tulisan yang ditulis untuk memenangkan pihak yang berkepentingan.

 

Berdasarkan realitas tersebut, Karen Amstrong menghadirkan tulisan tentang Jerussalem dari sisi perdamaian. Dengan penggalian sisi sejarah yang dalam dan cermat. Ketiga agama yang dibumikan Tuhan di Jerussalem ditampilkan Karen Amstrong dengan perspektif sejarah yang jernih dan objektif. Semuanya dibentangan sesuai dengan fakta dan data sejarah. Inilah yang patut dipahami dalam buku Jerusalem, satu kota tiga iman.

 

Kejernihan dan kejujuran tulisan Karen Amstrong dalam buku ini membuat The Washington Post mengakui karya Karen Amstrong tersebut sebagai karya yang berperan penting dalam memberikan kebenaran sejarah Jerussalem. Tidak kalah pentingnya, buku Jerussalem: satu kota tiga iman juga mematahkan kearoganan Yahudi yang mengklaim Jerussalem sebagai kota keimanannya.  Klaim yahudi tersebut diluruskan oleh Karen Amstrong melalui eksplorasi sejarah dan fakta-fakta yang akurat.

Karen Amstrong membongar sejarah Jerussalem dalam dua periode waktu. Pertama sebelum berada di lembah pergolakan politik, kedua stelah berada dalam arus pergolakan atau kekacauan politik. Pada kurun waktu pertama, berhubungan dengan masalah sejarah keimanan di Jerussalem sehingga tiga iman tersebut membangun peradaban manusia.  Bagi orang Yahudi, Jerussalem sebagai tempat suci yang ditandai dengan tempat peribadatan Haekal (bukit suci), tempat memanjatan do’a dan melaukan ritual keagamaan.  Sedangkan bagi kelompok penganut nasrani, Jerussalem adalah sebagai tempat kelahiran Isa almasih dan menjadi pusat monumental dalam sejarah keagamaan orang-orang Nasrani. Oleh umat islam, Jerussalem, tempat masjid Al Aqsha berada sebagai tempat terpenting dalam peribadatan dan ritual islam, yaitu sebagai tempat peristiwa isra mi’raj Rasulullah saw.

 

Pada penggalan sejarah pertama, Karen Amstrong telah berhasil memaparkan sejarah eksistensi Jerusalem sebagai sebuah “tempat pilihan Tuhan”, tempat terpancarnya keimanan.  Permaknaan ini yang dijelaskan oleh Karen Amstrong dalam bukunya tersebut. Permaknaan bahwa Jerussalem adalah kota pilihan Tuhan semestinya membuat Jerussalem berada dalam pancaran kesucian, bukan peperangan. Peperangan muncul sebagai akibat terbawanya ranah agama ke dalam egoisme etnis.

 

Pada penggalan sejarah yang Jerussalem kedua, yaitu era ketika Jerussalem mengalami pergolakan politik. Era tersebut ditandai dengan kembalinya etnis Yahudi dari pendiasporaan, atau disebut juga dengan era keruntuhan Jerussalem.  Pada era tersebut Jerussalem dalam peperangan dan tarik-menarik politik antara kelompok iman yang ada. Pertama, ditandai dengan meletusnya perang salib. Kedua, Jerussalem di tengah-tengah tarikan politik Zionisme-Hamas.

 

Jejak keimanan mulai dihilangkan dari Jerussalem, digantikan dengan kepentingan-kepentingan Zionis. Umat muslim pun dilarang untuk menyebut Jerussalem sebagai kota Al Quds. Zionis telah memetakan sendiri Jerussalem sebagai wilayah kekuasaannya. Tindakan kekerasan Zionis pun terlihat ke arah genocide. Inilah sebuah kekacauan yang terjadi di Jerussalem, sehingga suasananya telah berubah dari kota kesucian menjadi kota angkara murka.

 

Kekacauan dan peperangan yang terjadi di Jerussalem juga dibentangkan Karen Amstrong dengan jernih, sesuai dengan data yang akurat dan lengkap, sehingga tidak terlihat adanya keberpihakan Karen Amstrong terhadap salah satu pihak yang bertikai.  Tulisan Karen Amstrong betul-betul menampilkan misi penjernih dalam merangkum makna perdamaian.

 

Sampai hari ini belum ada tanda-tanda akan bermuaranya kedamaian di negeri tiga iman tersebut, yang terjadi justru semakin menakutkan. Kematian terus terjadi, peperangan semakin menjadi tradisi, pembunuhan semakin tidak mengenal hati nurani. Kebencian telah melampaui esensi daripada iman. Itulah yang tampak dari fenomena Jerussalem belakangan ini. 

 

Pengeksplorasian sejarah dan fenomena yang dikedepankan dalam buku ini sangat jelas, yaitu supaya iman yang terbumikan di Jerussalem dapat menjadi simbol solidaritas kembali, simbol kesucian dan simbol spiritual yang tidak mencerca satu sama lain.  Apalagi di tengah kondisi Jerussalem yang belum stabil, tentu buku ini bisa sangat membantu untuk menjernihkan image yang berlaku selama ini, terutama yang berkaitan dengan image agama dan perang.  Fakta sejarah menunjukkan peperangan yang terjadi adalah akibat pembelokkan dari keimanan itu sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *