Indonesia Tak Pernah Biarkan Palestina Sendirian

aspacpalestine.com – Jakarta. Sepanjang 73 tahun usianya, Muhammad Quraish Shihab tak pernah sekalipun membacakan puisi di depan khalayak. Hanya sesekali dia memperdengarkan sajak-sajak kepada sang kekasih.

Tapi malam itu, Kamis 24 Agustus 2017, Quraish membacakan puisi dalam acara doa bersama untuk Palestina di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ada dua alasan utama sehingga meski bukan seorang penyair, cendekiawan muslim itu mau membaca puisi di depan umum.

“Pertama, saya cinta Palestina. Kedua, saya tidak bisa menolak permintaan sudara saya, sahabat saya Gus Mus (KH Ahmad Mustofa Bisri). Jadi kalau ada kurang-kurangnya jangan salahkan saya, salahkan Gus Mus,” kata Quraish sesaat sebelum membacakan puisi.

Itulah dua bait pertama puisi yang dibacakan Quraish dalam acara bertajuk: “Doa untuk Palestina: Malam Pembacaan Puisi-Puisi Palestina”. Selain dia, tampil juga dalam acara malam itu Gus Mus, Renny Djajoesman, Joko Pinurbo, Abdul Hadi WM, Mahfud Md, dan Taufik Ismail.

“Hubungan kita dengan Palestina itu sangat dekat. Bahkan sebelum proklamasi dicetuskan Bung Karno, sudah ada pernyataan dari imam Masjidil Aqsa yang mendukung kemerdekaan Indonesia,” kata Gus Mus kepada wartawan malam itu.

Dalam buku berjudul, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya M. Zein Hassan, dukungan rakyat Palestina untuk kemerdekaan Indonesia itu bahkan terjadi sejak tahun 1944.

Melalui siaran radio pada 6 September 1944 Muft besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dan seorang saudagar kaya Palestina, Muhammad Ali Taher mewartakan dukungan tersebut.

“Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia,” kata Ali Taher. Sejak itu masyarakat Palestina turun ke jalan melakukan aksi dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.

Pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Di bawah Presiden Sukarno, Indonesia juga mendukung rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan Israel.

Indonesia tak pernah mau mengakui negara Israel yang diproklamasikan oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948. Itulah sebabnya sejak zaman Bung Karno Indonesia tak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Bahkan pada 1957, Indonesia menolak bermain sepak sola melawan Israel jika pertandingan digelar di Tel Aviv maupun Jakarta. Indonesia hanya mau bermain di tempat netral tanpa lagu kebangsaan.

Sayang persatuan sepak bola dunia (FIFA) menolak usul RI. Padahal saat itu hanya tinggal satu langkah saja tim Indonesia lolos ke Piala Dunia. Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat.

Eks Wakil Komandan Pasukan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan menceritakan bahwa Presiden Sukarno tetap melarang jika pertandingan itu digelar dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan Israel. “Itu sama saja mengakui Israel,” kata Maulwi menirukan Bung Karno yang dikutip Historia.id.

Saelan yang saat itu juga sebagai penjawa gawang tim nasional yang pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet dalam Olimpiade di Melbourne, 1956 terpaksa nurut titah Bung Karno. “Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat,” kata dia.

Dari zaman Bung Karno hingga kini di era Presiden Jokowi, Indonesia selalu berjuang untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Akhir Juli lalu, Presiden Jokowi secara keras memprotes pendudukan Israel di kompleks Masjid Al Aqsa. Indonesia meminta pendudukan Israel di Al aqsa dihentikan.

Sikap itu juga disampaikan Indonesia melalui delegasinya untuk Dewan Keamanan PBB. Indonesia tegas meminta agar pendudukan Israel terhadap Palestina segera diakhiri.

“Lima puluh tahun pendudukan Israel terhadap Palestina sudah terlalu lama! Dengan tegas Indonesia sampaikan ‘Enough is enough!’ Masyarakat Internasional tidak bisa menunggu 50 tahun lagi untuk kebebasan Palestina!” kata Wakil Tetap RI untuk PBB, Dubes Dian Triansyah Djani, dalam Pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB di New York, Selasa, 25 Juli 2017.

Di forum Pertemuan Terbuka Luar Biasa Komite Eksekutif OKI, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi juga menyampaikan sikap keras Indonesia atas kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina di Al Aqsa.

Pertemuan Terbuka Luar Biasa Komite Eksekutif OKI itu digelar di Istanbul, Turki, (1/8/2017). Pertemuan ini digelar antara lain atas usulan Indonesia dan beberapa negara, terutama negara anggota Executive Committee. Forum dilakukan untuk merespons kekerasan dan pembatasan Israel terhadap jemaah yang beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa.

“Indonesia mengutuk keras pembatasan beribadah di Masjid Al-Aqsa dan kekerasan yg telah memakan korban,” ungkap Retno.

Rakyat Indonesia terus berjuang untuk kemerdekaan Palestina, baik melalui forum diplomasi seperti yang dilakukan Presiden Jokowi dan para menterinya, mau pun lewat puisi seperti Gus Mus, Quraish Shihab juga yang lainnya. Kalian tak sendirian Palestina!

 

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *