Ide Menukar Palestina dengan Semenanjung Sinai Mesir, Solusikah?

Beberapa waktu lalu, penulis sempat membaca berita menarik dari surat kabar Felesteen Al-Youm edisi 7 April 2016, terbitan Pusat Kajian Al-Zaytouna, Lebanon.  Isinya terkait sikap faksi Palestina bernama Hamas yang menolak rencana apa pun yang ingin menukar tanah Palestina dengan Semenanjung Sinai di Mesir.

Penulis melihat isi berita itu ditujukan kepada Ismail Haneyah, mantan PM.Palestina yang kini sebagai Wakil Biro Politik Hamas. Diberitakan, bahwa Haneyah melakukan pertemuan dengan para elit dari faksi-faksi nasionalis dan Islamis di Jalur Gaza, termasuk 2 orang delegasi Hamas yang diutus ke Kairo beberapa waktu lalu.

Haneyah dalam kesempatan itu  menyampaikan, Hamas akan terus menjaga hubungan baik dengan otoritas Mesir saat ini. Ia juga menegaskan, akan konsisten untuk tidak menyampuri urusan dalam negeri Mesir, termasuk juga mencegah munculnya ancaman dari Jalur Gaza yang membahayakan keamanan negara tetangganya itu.

Dalam berita tersebut juga disebutkan, Hamas tidak membuka ruang pembicaraan terhadap rencana menukar tanah Palestina yang diduduki Israel dengan tanah Semenanjung Sinai milik Mesir. Isu ini nampaknya menjadi hangat dibicarakan dan mendapat penolakan yang keras dari faksi-faksi Palestina yang ada di Jalur Gaza.

Penulis sendiri belum mendapatkan informasi detail tentang permasalahan ini dan masih menjadi misteri. Sehingga wajar, kabar ini mendapatkan penafsiran yang bermacam-macam, karena pembahasannya yang minim diangkat media sehingga menjadi berita lalu saja. Namun penulis sempat mendapatkan berita versi lain terkait hal ini, diantaranya yang terdapat di laman situs Al-Khalij Online pertanggal 6 April 2014 lalu.

Dalam situs itu kabar ide pertukaran tanah ini dibahas oleh para elit dari faksi Fatah dan bukan Hamas. Disebutkan bahwa pihak Otoritas Palestina telah mengusulkan pendirian negara Palestina di atas Semenanjung Sinai Mesir. Menurut sumber dari Fatah yang menolak menyebutkan namanya ini dikatakan, usulan tersebut adalah solusi terakhir yang dapat menyudahi perseteruan Palestina dengan pihak Israel, ia mengklaim telah mendapatkan dukungan dari negara-negara Arab.

Menurutnya usulan tersebut telah disampaikan pada tahun 2014 lalu, dan pihak Palestina khususnya Otoritas Palestina telah mengetahui hal ini begitu pula dengan pemerintah Amerika Serikat. As-Sisi selaku pimpinan rezim Mesir saat ini juga telah mengetahui, namun pembicaraannya dibekukan, karena bersamaan dengan berjalannya perundingan rahasia dengan Israel.

Sumber yang merupakan anggota pusat faksi Fatah ini mengatakan, usai usulan ini dikaji oleh Otoritas Palestina, mereka membawa usulan tersebut ke beberapa pemimpin negara Arab dan melobi mereka menolak. Namun pembicaraan itu menurutnya juga menemui jalan buntu dan kini dihentikan.

Disamping kedua berita di atas, penulis juga mendapatkan laporan lainnya dari artikel yang dibuat oleh seorang Perwira mantan Intelijen Israel yang bernama Mate David. Ia mengatakan bahwa presiden As-Sisi di Mesir telah mendiskusikan usulan tersebut dengan presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

Dalam beritanya disebutkan, bahwa solusi 2 negara berdampingan secara perlahan akan dicabut, diganti dengan ide pertukaran tanah Palestina dengan Semenanjung Sinai. Hal itu bahkan menjadi opsi pertama yang informasinya sudah sampai ke tingkat kepresidenan Amerika, Barack Obama serta komite Negara Kwartet.

Dalam artikel yang diterbitkan laman situs News One ini juga disebutkan, ada ide lain yang disampaikan oleh Jenderal Israel, Giora Eiland, mantan dari Ketua Majelis Keamanan Nasional Israel dan Ketua bagian Strategi di Militer Israel. Ia merupakan salah satu otak inisiator berdirinya negara Ibrani dan menolak usulan adanya solusi 2 negara berdampingan.

Langkah Eiland yang dipublish oleh Pusat Studi Strategis di Universitas Bar Ilan ini menyebutkan, bahwa pertukaran tanah itu akan menambah luas Jalur Gaza menjadi tiga kali lipat. Dimana pihak Mesir akan menyerahkan 720 KM persegi tanah Sinai kepada Palestina termasuk di dalamnya pesisir pantai dari laut Mediterania sepanjang 24 KM persegi. Wilayah ini serupa dengan 12% dari luas tanah di Tepi Barat.

Penulis berharap isu terkait usulan ini hanyalah rumor politik belaka dan hanyalah ide-ide usang yang dulu tersampaikan karena membawa agenda dari misi tertentu. Yang justru menjadi perhatian penulis terhadap kabar ini adalah adanya keterlibatan dari As-Sisi di pihak Mesir, dimana informasi yang ia dapat sama sekali tidak didasari oleh sumber yang jelas dan berdasarkan kesimpulan dari pihak yang tidak memahami kondisi sebenarnya.

Penulis sendiri ragu pihak Mesir akan menyetujui usulan tersebut, karena apabila disepakati, keputusan itu akan memberikan dampak yang signifikan bagi Mesir. Namun selama hal itu belum terjadi, kita hendaknya berbaik sangka dengan tidak bersandar kepada opini yang tidak jelas, sehingga membuat kita bingung sampai saatnya nanti mendapatkan penjelasan yang valid. Namun paling tidak ini sebagai suara, khawatir jangan-jangan diamnya terhadap permasalahan ini seakan menjadi isyarat akan sikap setuju terhadap usulan pertukaran tanah tersebut.

Penulis: Fahmy Huwaedi

Diterjemahkan dari Surat Kabar berbahasa Arab, As-Syarq, terbitan Doha, Qatar edisi Ahad (10/4/2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *