Papan Jalan “Kedutaan Amerika” Terpasang di Yerusalem – Yordania Perbaharui Penolakannya

Otoritas Israel, Senin (07/05), memprakarsai pemasangan papan penunjuk jalan di kota Yerusalem yang terjajah, Papan itu bertuliskan “Kedubes AS,” dalam rangka persiapan untuk pembukaannya  pekan depan yang bersamaan dengan hari peringatan Nakba.

Menurut saksi mata, sudah terlihat tiga papan yang dipasang di salah satu jalan Yerusalem dengan tulisan di atasnya: “Kedubes AS”. Para saksi mata menjelaskan bahwa papan-papan itu sudah selesai dipasang oleh pekerja, di atasnya terdapat tulisan dalam dalam bahasa Inggris, Ibrani dan Arab.

Papan penunjuk jalan tersebut dipasang di dekat gedung konsulat AS di selatan Yerusalem, yang tampaknya akan  menjadi kantor kedutaan, setelah resmi dipindahkan pada tanggal 14 Mei ini.

Presiden AS Donald Trump, telah memutuskan untuk memindahkan kedutaan negaranya dari Tel Aviv ke Yerusalem, dan dia mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Negara Penjajah Israel, di tengah berbagai kecaman internasional dan gelombang berbagai aksi protes rakyat Palestina.

Sementara itu, Yuval Rotem, Dirjen Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, kemungkinan presiden AS Donald Trump, tidak akan hadir dalam upacara pembukaan Kedutaan Besar AS setelah dipindahkan ke Yerusalem, yang dijadwalkan pekan depan. Dan pejabat tinggi yang akan hadir dalam upacara pembukaan kedubes AS itu juga masih belum diketahui.

Sampai di sini, Ayman Safadi, Menteri Luar Negeri Yordania memperbaharui penolakan Yordania atas keputusan pemindahan kedutaan besar AS ke Yerusalem yang terjajah, sebagai peringatan atas konsekuensi keputusan ini.

Safadi mengatakan di dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim Al-Jaafari di Amman, Ahad (06/05), mengatakan: “Sikap kami terhadap Yerusalem sudah kami nyatakan dengan sangat jelas, terus terang, dan langsung dan di dalam kerangka Liga Arab juga.”

Dia menunjukkan upaya yang telah diupayakan Kerajaan untuk mengurangi konsekuensi negatif atas keputusan itu melalui kontak bilateral Kerajaan, dan melalui Delegasi Kementerian negara Arab yang dipimpin oleh Yordania.

.Dia menekankan bahwa upaya ini masih terus berlangsung melalui berkoordinasi dengan Liga Arab dan dengan Kerajaan Arab Saudi, yang telah mengambil alih puncak pimpinan. Dia mengatakan bahwa dia masih berhubungan langsung dengan Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir untuk mengkoordinasikan berbagai upaya. Dan bahwa aksi negara Arab terus berlanjut bersama dengan masyarakat internasional untuk mengurangi konsekuensi negatif dari keputusan tersebut.

Dia menekankan bahwa tanpa berdirinya negara Palestina merdeka yang beribukota “Yerusalem Timur”, maka perdamaian yang komprehensif tidak akan tercapai, karena Yerusalem adalah sebagaimana selalu diungkapkan oleh Raja merupakan “Kunci Perdamaian”. Ini merupakan pilihan strategis bangsa Arab untuk membentuk negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya berlandaskan definisi keempat Juni 1967 sebagai syarat untuk mencapainya.

Safadi menambahkan bahwa tidak ada alternatif selain solusi dua-negara. Dia memperingatkan akan bahaya berlangsungnya ketiadaan prospek kemajuan menuju solusi ini. Dia menjelaskan bahwa dia bersama Al-Jafari telah meneliti masalah Palestina dan urgensi memperoleh prospek politik untuk memecahkan kebekuan dan menerapkan solusi dua negara (i7).

———————.

Sumber: www.arab48.com, terbit: 07/05/2018,   jam: 11:10

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *