Peringatan ke -70 Nakba

Oleh: Dr.  Amira Abo el-Fetouh

Bulan Mei membawa kenangan menyakitkan bagi bangsa Arab dan Umat Islam, yaitu peringatan Nakba. Kita mengingat hari kala hati bangsa Arab tercabik-cabik dan Palestina disita di depan mata seluruh dunia.

Negara-negara kolonial segera saja mengakui, “Israel”. Satu Entitas jahat yang ditanamkan di wilayah Arab kita. Yang pertama mengakui “Israel” adalah Uni Soviet, diikuti oleh AS. Timur dan Barat bekerja sama menikam bangsa Arab dari belakang.

Namun, negara “Israel” sebenarnya kembali ke satu abad lampau, pada tanggal 2 November 1917. Deklarasi Balfour yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris untuk mendirikan tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di tanah Palestina Arab. Itu adalah janji yang dibuat oleh mereka yang tidak memiliki tanah itu kepada mereka yang tidak pantas mendapatkannya. Janji ini dicapai, bersama dengan bantuan negara-negara kolonial lainnya pada 14 Mei 1948.

Sejak saat itu,  rakyat Palestina menjalani hidup dalam rangkaian penderitaan, kesulitan, dan penyitaan yang terus menerus atas tanah mereka oleh “Israel”. Rakyat Palestina tidak pernah berhenti bertempur selama 70 tahun hingga kini, sementara para pemimpin Arab tidak henti-hentinya bersekongkol melawan perjuangan rakyat Palestina. Sementara itu, negara adidaya, dimulai dengan AS, mendukung “Israel”, sementara para pemimpin Arab amat setia dan menjaga perbatasan negaranya. Al-Sisi secara eksplisit mengatakan, “Kami tidak akan mengizinkan Sinai menjadi halaman belakang bagi  operasi teroris manapun yang melawan tetangga kami.”

Sejak Gamal Abdel Nasser berkuasa, semua penguasa Arab tanpa kecuali, mengeksploitasi perjuangan Palestina dan menggunakannya untuk mendapatkan dukungan dari rakyat mereka. Selain itu, PLO telah menandatangani Perjanjian Oslo pada 13 September 1993 dengan “Israel”. Sesuai dengan perjanjian ini, PLO mengakui “Israel” tetapi menolak fasal tentang mengangkat senjata untuk memerdekakan Palestina dari laut ke sungai dari piagam nasionalnya.

Perjanjian Oslo telah mengarahkan kepada pembunuhan dan penangkapan lebih banyak lagi rakyat Palestina dengan dalih koordinasi keamanan dengan “Israel”. Intifada Al-Aqsa, (dimulai pada 28 September 2000) membangkitkan semangat perlawanan di kalangan rakyat Palestina, dipimpin oleh almarhum Yasser Arafat. Ini setelah Arafat frustrasi pulang dari Amerika pasca pertemuan Camp David dengan Perdana Menteri “Israel” Ehud Barak, di bawah dukungan Presiden AS Bill Clinton. Pertemuan itu membuatnya menyadari bahwa perjanjian damai dengan “Israel” tidak berguna dan bahwa semua perjanjian itu adalah ilusi yang dengan cepat menguap dan hilang ke lapisan tipis udara. Ini setelah sebelumnya ada harapan besar bagi berdirinya negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya dan pulangnya para pengungsi Palestina ke tanah mereka.

Rakyat Palestina telah bertahan di atas harapan ini selama tujuh tahun, sejak ditandatanganinya  Perjanjian Oslo. Tapi tatkala terbangun, mereka menyadari bahwa ini hanyalah mimpi dan kenyataan itu memaksa mereka kembali berjuang untuk membebaskan Palestina.

 

“Israel” melanjutkan Nakba

Arafat memimpin sendiri Intifada bersama Hamas, yang teguh menuntut kembalinya seluruh rakyat Palestina melalui jalan mengangkat senjata. Ini telah memulai fase baru dalam perjuangan Palestina yang tidak berakhir dengan kematian Arafat, kematiannya dengan cara diracuni pada 2004 dan penarikan “Israel” dari Jalur Gaza sebagai hasil dari  perlawanan gagah berani Hamas. “Israel” membalas dengan membunuh pemimpin senior Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, yang membangunkan bangsa, dan memunculkan tokoh-tokoh diantaranya Dr Abdel Aziz Rantisi.

Selain itu, “Israel” melancarkan empat perang sengit dan kejam di Jalur Gaza, serta memberlakukan blokade darat, laut, dan udara secara lengkap terhadap rakyat Palestina di Gaza setelah Hamas memenangkan pemilihan parlemen pada 2006. Namun, tidak satu pun dari itu yang meruntuhkan perlawanan juga tidak mempengaruhi tekadnya atau melemahkan rakyat Palestina, yang selalu bersedia berkorban besar demi memerdekakan tanah air mereka. Mereka telah menaggung beban yang tidak dapat dipikul oleh bangsa lain di dunia dan mereka menderita sangat berat demi kemerdekaan, martabat, dan harga diri bangsa mereka.

“Israel” telah gagal menundukkan rakyat Palestina di Gaza. Mereka juga gagal mengalahkan Hamas. Oleh karena itu, mereka menggunakan agen mereka di Tepi Barat dan koordinator keamanan mereka, Mahmoud Abbas, untuk melaksanakan misi ini. Dia meluncurkan kampanye kejam terhadap Hamas, menuduhnhya sebagai  gerakan terorisme dan mengancamnya dan bersikeras agar Hamas menyerahkan senjata kepada Otoritas imaginer Palestina. Otoritas Palestina memotong gaji para pegawainya di Jalur Gaza agar warga Gaza berbalik melawan Hamas.

Peringatan Nakba tahun ini terjadi di tengah tantangan global yang serius dan perubahan strategis penting di arena global dan regional, perang yang menjulang antara Amerika dan Iran, dan munculnya aksis atau sumbu Negara Arab yang dipimpin oleh Pangeran arogan Mohammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi dan Mohammed bin Zayed, Putra Mahkota Uni Emirat Arab, yang bersekongkol melawan Palestina dan bersekutu dengan “Israel” melawan Iran dan Hamas, yang menganggap keduanya sebagai musuh utama.

 

Paraguay Pndahkan kedutaannya di “Israel” ke Yerusalem

Ulang tahun ke-70 Nakba terjadi setelah Presiden Amerika Donald Trump membuat keputusan untuk mengakui semua bagian Yerusalem sebagai ibu kota “Israel” dan niatnya untuk memindahkan kedutaan Amerika ke Yerusalem pada hari peringatan 70 tahun. Ini bertujuan untuk mempermalukan bangsa Arab dan Umat Islam. Dia diperkirakan akan mengumumkan “Kesepakatan Abad Ini” pada hari ini; kesepakatan yang dibuat di Gedung Putih dan disetujui oleh para pemimpin negara Arab yang berkhianat.

Kesepakatan ini bertujuan untuk sepenuhnya melenyapkan perjuangan Palestina dan mengakhiri hak para pengungsi Palestina untuk pulang kembali ke tanah air mereka. Sebagai pilihannya mereka diberikan tanah air alternatif yang terdiri dari beberapa bagian Sinai dan Yordania, yang akan digabungkan ke Gaza supaya terbentuk negara Palestina yang tidak memiliki kedaulatan dan persenjataan. Ibu kotanya adalah Abou Redis, sehingga akan menyingkiran Yerusalem dari persaingan.

Namun, harapan tetap ada bagi bangsa yang hebat ini, rakyat Palestina yang secara konstan mengubah keseimbangan dengan kecerdikan dan inovasi mereka dalam cara perlawanan dan perjuangan mereka. Mereka mengejutkan seluruh dunia dengan Pawai Kepulangan Akbar, yang telah meneror dan menakut-nakuti “Israel” saat mereka menyaksikan masyarakat Palestina tanpa senjata berbondong-bondong mendekati perbatasan antara Gaza dan wilayah-wilayah Palestina yang dijajah dan berhasil melepaskan kawat berdurinya.

Rakyat Palestina tidak membawa senjata, tetapi mereka membawa hak mereka atas tanah air, keimanan mereka, dan kemauan mereka. Dengan pesawat kertas, mereka telah berhasil mencapai apa yang pesawat Apache – yang telah membunuh ribuan rakyat Palestina – tidak bisa lakukan. “Israel” ketakutan setengah mati, meskipun masih tetap hidup, saat  rakyat Palestina dibunuh oleh Apache “Israel” ketika mereka bertempur dengan gagah berani dan pantang menyerah, tanpa sedikitpun rasa takut menyelinap kedalam hati mereka. Keyakinan mereka adalah untuk terus bertarung dan menang atau mereka mati syahid.

 

Generasi ini adalah keturunan dari kakek moyang orang-orang Palestina yang diusir dari tanah mereka dan terusir jauh dari Palestina. Mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat Palestina dan hidup di dalamnya, di antara dataran tingginya, lembahnya, dan gunung-gunungnya. Namun jauh di dalam lubuk hati, mereka hidup di Palestina dan Palestina hidup di dalam diri mereka, di dalam hati sanubari mereka, dan di dalam pikiran mereka. Mereka tidak akan menyerahkan tanah mereka, dan karena itu mereka telah menyangkal kata-kata para pemimpin Zionis terdahulu, seperti Golda Meir, yang berkata, “Yang tua akan mati dan yang muda akan lupa.”  Yang tua memang mati, tapi itu setelah mereka mewariskan kunci kepulangan mereka kepada yang muda dan menyerahkan obor kepada mereka. Rakyat Palestina adalah bangsa yang tidak mati dan tidak bisa dikalahkan.

Peringatan ke-70 Nakbah tidak akan dihabiskan untuk menangisi tanah yang hilang, tetapi akan dirayakan dengan Pawai Kepulangan Akbar yang akan mengguncang tanah di bawah kaki-kaki “Israel” (i7).

Pandangan-pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor.

——–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 08/05/2018 – pukul: 17:43.

 

, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *