Kasus Suriah, Pengungsi Palestina Masih Diperlakukan Diskriminatif

Sejak meletus revolusi Suriah, kamp-kamp pengungsi Palestina di sana menjadi target seperti halnya kota dan desa lainnya di negeri ini. Rezim Suriah dalam hal ini menempuh “solusi keamanan” dalam menghadapi rakyatnya. Kamp pengungsi di Dar’a dan Ladziqiah adalah kamp paling banyak mengalami imbas kerugian akibat serangan, penembakan dan penyiksaan. Kondisi semakin parah ketika ketika konflik semakin memanas dan penggunaan senjata rudal dan bom dalam kualitas dan kuantitas tinggi. Sudah jelas, rezim Suriah tak memberikan keamanan kepada kamp pengungsi Palestina dan tak menghormati kekhususannya. Rezim tak lagi mempedulikan nyawa warga Palestina sebagai pengungsi.

Fakta hari ini bicara, sebagian besar kamp pengungsi Palestina sekarang di bawah blokade dan ancaman serangan. Kamp Khandarat di Aleppo, Dara, Khan Syekh, Sabinah, Siti Zainab, Husainiah, Yarmuk di Damaskus dan pinggirannya sejak Juli tahun lalu dibombardir oleh rudal pasukan rezim. Ini yang memaksa warganya sejak Desember lalu meninggalkan tempat tinggal mereka khawatir terkena sasaran serangan. Sejak pasukan oposisi menguasai wilayah itu, pasukan rezim semakin brutal menyerang. Kamp Yarmuk yang dianggap sebagai ibukota kamp pengungsi Palestina di negeri orang mengalami blokade ketat sejak empat bulan terakhir. Untuk masuk ke sana, akan mengalami risikio berbahaya. Ada perlintasan keamanan bagi yang masuk dan keluar. Logistic dan obat-obatan yang masuk diatur sedemikian rupa. 25% warga yang masih tersisa di sana masuk dalam ancaman berbahaya.

Perlu diketahui bahwa warga Suriah di berbagai wilayah juga mengalami kondisi yang sama. Nasib mereka sama, namun nasib warga pengungsi Palestina tergantung dari nasib warga Suriah secara keseluruhan. Situasi menjadi lama karena rezim masih menggunakan pendekatan keamanan. Dan konflik yang terjadi dalam rangka memperebutkan setiap jengkal tanah di Suriah.

Lebih butuk lagi, pengungsi Palestina di Suriah meski sama nasibnya di lapangan, penyikapan terhadap mereka dari pihak Arab, regional dan internasional berbeda dan lebih cenderung mereka mengalami diskriminasi. Padahal faktor mereka mengungsi sama.

Sebagai contoh, di Jordania, pengungsi Palestina yang berasal dari Suriah ditampung di tempat yang lebih buruk dibanding pengungsi Suriah. Di Mesir dan Turki, posisi pengungsi Palestina di mata undang-undang di negeri tersebut berbeda. Pengungsi Suriah bisa masuk ke Mesir dan Turki tanpa passport dan bebas. Namun pengungsi Palestina tidak memiliki semua itu. Pengungsi Palestina dari Suriah harus menggunakan passport untuk masuk Mesir dan Turki. Bahkan di Mesir, pengungsi Palestina tak diberikan hak keluar masuk, jika sudah keluar, mereka tidak diberikan hak kembali.

Di Libanon juga demikian karena faktor kondisi politik dan sosial. Hanya saja, krisis agak ringan karena keluarga pengungsi Palestina di Libanon bisa menampung saudara mereka di kamp-kamp pengungsi Palestina di Libanon.

Diskriminasi juga dilakukan Badan Pengungsi PBB (UNHCR) kepada pengungsi Palestina baik dalam kondisi perang atau damai. Badan Pengungsi PBB ini tidak menganggap pengungsi Palestina di bawah tanggungjawab mereka berbeda dengan pengungsi Suriah. Bahkan UNHCR tidak memiliki wewenang di Mesir dan Turki.

PLO yang mengaku sebagai representasi dari semua warga Palestina di manapun berada ternyata tidak bisa berbuat apapun.

Majed Kayali

Kolumnis Palestina, Elhayat

 

Sumber: Infopalestina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *