Interactive Dialogue The Impact of The Arab Spring on Future of Palestine

Di penghujung bulan Januari lalu Indonesia kehadiran seorang tokoh Internasional, yang kerap tampil di baris terdepan dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina. Ia adalah George Galloway, mantan anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh yang menurut pengakuannya sendiri telah memperjuangkan nasib bangsa Palestina sejak 37 tahun. George memang tidak memiliki darah Arab apalagi Palestina, namun kesungguhannya dalam memperjuangkan Palestina seakan melebihi bangsa Arab sendiri.

Selama kunjungannya ke tanah air Indonesia, George yang merupakan pendiri sekaligus ketua Viva Palestina Internasional ini mengikuti berbagai seminar bertemakan Palestina. Beberapa acaranya disponsori langsung oleh organisasi AsPac (Asia Pasific) Community for Palestina yang merupakan payung dari berbagai NGO (Non Goverment Organization) Palestina yang berada di Indonesia.

Acara perdana yang ia hadiri adalah “International Dialogue for Palestine” yang mempertemukan George Galloway dengan para tokoh AsPac, bertempat di Restorant Pulau Dua, Jakarta, Rabu (25/1). Kemudian dilanjutkan dengan seminar di kampus Universitas Indonesia dengan tema “The Impact of the Arab Spring on Future of Palestine” bertempat Aula Apung UI, Jum’at, (27/1). Hadir pula sebagai narasumber dalam acara di UI tersebut Syaikh Syadi Ragheb Abu Uwaeimir, warga Gaza Palestina yang menjabat sebagai Direktur COMES (Committee of Middle East Studies) dan DR. Basuni Imadudin, MA (Kepala Pusat Studi Kajian Timur Tengah Univ Indonesia)

Misi Viva Palestina

Dalam seminar dialog pertamanya di Pulau Dua, dihadapan tokoh-tokoh AsPac yang merupakan representasi dari organisasi pendukung Palestina seperti KNRP, SoA, Mer-C, dsb, George yang memeluk Islam sejak tahun 1993 disaksikan Yaser Arafat ini menyampaikan empat agenda yang ia bawa dalam kunjungannya ke Indonesia. Pertama, terkait proyek Viva Palestina yang akan menyelenggarakan longmarch pada tanggal 31 Maret dengan nama “Day of The Land”, dimana seluruh elemen di dunia terutama negara-negara yang ada di sekeliling Al-Quds akan bergerak mengelilingi perbatasan-perbatasan yang berdekatan dengan Palestina. Ia juga meminta seluruh negara yang fokus terhadap isu Palestina untuk mengadakan even yang mendukung Palestina di negara mereka masing-masing.

Sedangkan untuk agenda kedua, George mengatakan bahwa pada tanggal 15 Mei adalah hari Nakhbah, Viva Palestina yang ia pimpin akan melangsungkan konvoynya yang ke-6, dimana dalam konvoy ini selain akan memberikan sumbangan berupa materi, juga akan menyampaikan pesan politik bahwa hak warga Palestina untuk kembali itu tidak bisa diganggu gugat.

Agenda lainnya adalah ajakan untuk turut serta dalam seminar musim panas bertemakan Palestina yang akan diselenggarakan di American University of Beirut. Di sana akan diadakan kuliah tentang Palestina dari berbagai negara, dan ia berharap Indonesia mengirimkan delegasinya untuk berpartisipasi dalam acara ini.

Palestina Pasca Revolusi Arab

Dalam seminar selanjutnya di Universitas Indonesia yang bertemakan Palestina pasca Revolusi Arab, George disanding dengan Syaikh Syadi, analis dan Direktur COMES (Committee of Middle East Studies) yang kemudian menyampaikan pandangannya terkait dampak Revolusi Arab terhadap permasalahan Palestina. Syadi menilai bahwa revolusi telah memberikan dampak positif bagi peta perpolitikan di Timur Tengah, terkhusus bagi bangsa Palestina. Runtuhnya rezim diktator Husni Mubarok di Mesir menurutnya telah memberikan angin segar bagi kemerdekaan bangsa Palestina. “Cepat atau lambat Palestina akan segera menggapai kemerdekaannya,” tutur Syadi penuh optimis.

Syadi kemudian mengatakan, bahwa perubahan pemerintahan yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya dan negara Arab lainnya, benar-benar telah mengancam strategi politik Zionis Israel. Terlebih paska jatuhnya Mubarok di Mesir, yang merupakan antek dari Zionis penjajah. Maka wajar apabila kita melihat bangsa Yahudi itu kini terlihat cemas menghadapi revolusi Arab. Karena kondisi terpojok seperti ini memang belum pernah dirasakan oleh Zionis di masa-masa sebelumnya.

Syadi lalu menjelaskan lebih lanjut, saat ini Zionis tengah berfikir keras, mencari cara agar negara Palestina gagal mencapai kemerdekaan. Strategi yang dilakukan oleh Zionis itu bisa kita lihat dari sikap Netanyahu selama ini. Media-media di Israel memberitakan, bahwa pemerintah Zionis berencana membangun lebih dari 7000 pemukiman ilegal Yahudi di kota Al-Quds dan mengusir sebanyak 7000 muslim Palestina dari Al-Quds dan Tepi Barat, dan Entitas Zionis sekarang juga menggalakkan proyek Yahudisasi di Al-Quds. Sedangkan dari sisi militer, Israel terus melancarkan agresinya ke Jalur Gaza terhitung sejak fajar di hari Idul Adha 1432 H kemarin.

Semua yang dilakukan oleh penjajah Israel saat ini memiliki target untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Palestina, terutama menggagalkan rekonsiliasi yang tengah digagas antara Fatah dan Hamas dengan mediasi Mesir di Kairo pada 2011 lalu.

Penjajah Israel pada hakekatnya tidak menginginkan warga Palestina yang terusir untuk bisa kembali ke tanah kelahirannya, yang jumlahnya mencapai 7 juta jiwa. Zionis juga melalui sekutunya Amerika Serikat menggagalkan upaya Abbas untuk mendapatkan pengakuan sebagai anggota di PBB.

Penjegalan yang dilakukan Zionis terhadap upaya Abbas kemudian membuatnya pesimis dan berupaya menempuh jalan lain melalui jalur rekonsiliasi Palestina. Gerakan perlawanan Hamas yang sukses dalam melakukan perlawanan, dan juga pertukaran tawanan yang berjumlah 1024 orang, dinilai sangat membahayakan bagi Zionis apabila berhasil pula dalam melakukan rekonsiliasi dengan Fatah. Pada faktanya, Hamas dan Fatah sepakat membuat pemerintahan bersatu pada bulan Februari nanti dan bersama dengan gerakan Jihad Islam, Hamas diizinkan bergabung dalam keanggotaan PLO yang mana pemilunya akan dilangsungkan pada bulan Mei tahun 2012 ini.

Melihat kondisi ini, Netanyahu membuat strategi baru dengan menghubungi sekutunya Raja Yordania yang dibantu oleh Uni Eropa, mereka mengontak Abbas untuk melakukan perundingan di Amman. Hal ini dilakukan tidak lain adalah untuk menggagalkan rekonsiliasi Palestina yang sedang digagas.

Di tengah kondisi ini kemudian Israel menangkap anggota dewan Palestina, Dr. Abdul Azis Duweik yang menjabat sebagai Ketua Parlemen Palestina. Hingga kini jumlah anggota dewan yang berada di penjara Israel sebanyak 20 orang. Maka omong kosong belaka apabila dengan cara ini Israel masih berkampanye mengingkan terwujudnya perdamaian di kawasan.

Oleh karena ini, bangsa Palestina sudah lelah dengan pilihan kesepakatan untuk berdamai, karena setiap perjanjian kerap dinodai. Hal ini seakan mengisyaratkan bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua ini adalah jalur perlawanan. Sebagai tahapan yang dilegalkan sesuai dengan hukum Allah dan juga kemanusiaan. Dan langkah perlawanan inilah yang sudah dipilih oleh Hamas sejak awal berdirinya hingga sekarang. Maka wajar apabila gerakan ini mendapat dukungan sebanyak 80% dari bangsa Palestina. (msy/va)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *