Artikel

Artikel (102)

Senin, 14 Agustus 2017 13:08

Kemerdekaan dan Makna Simpul Sejarah

Dalam momentum 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, memori sejarah bangsa kita merekam satu peristiwa penting tentang ikatan sejarah dan kemanusiaan Indonesia dan Palestina. Faktanya, Palestina merupakan entitas pertama yang mendorong dan mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia, di samping Mesir yang menjadi Negara pertama yang mengakuinya. Secara de jure, Indonesia yang telah memprolamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 membutuhkan dukungan dan pengakuan dari Negara lain agar menjadi Negara yang berdaulat. Lebih spesifik, dukungan tersebut diinisiasi dan diberikan oleh Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini. Beliau adalah seorang ulama dan aktivis perjuangan yang saat itu menjabat sebagai mufti Palestina. Dalam kapasitasinya sebagai mufti, Syaikh Amin Al-Husaini berkenan menyambut kedatangan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia. Dukungan penuh dan ucapan selamat dari beliau disiarkan oleh radio Berlin pada 6 September 1944, bertepatan dengan pengakuan Jepang atas kemerdekaan Indonesia. (Zein Hassan: Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, 1980, hal. 40). Support dan dukungan penuh itu disampaikan justru saat bangsa Palestina sedang serius menghadang upaya penguasaan Inggris dan Zionis terhadap buminya. Syaikh Amin Al-Husaini lahir di Al-Quds dan dikenal sebagai Ulama yang memiliki kepedulian tinggi. Perannya sangat terlihat dalam…
Sabtu, 05 Agustus 2017 07:39

Menanti Langkah Nyata OKI

“Apakah kita akan membiarkan kejadian di Al-Aqsha terus berulang? Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi”, suara lantang ditegaskan oleh Retno L.P. Marsudi, Menlu RI dalam Pembukaan Pertemuan Luar Biasa Komite Eksekutif OKI (Organisasi Kerjasama Islam) di Istanbul, 1 Agustus 2017. Retno hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap penyelesaian permasalahan di Palestina dan masjid al-Aqsha. Dr. Yousef A. Al-Othaimeen, Sekjend OKI menyampaikan apresiasi kepada pihak Indonesia karena komitmen seriusnya terhadap masalah ini. Hal tersebut disampaikan secara khusus dalam pembicaraan empat mata ketika pembukaan pertemuan di Istanbul. OKI yang beranggotakan 57 negara merupakan organisasi antar pemerintah kedua terbesar setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Terbentuknya OKI juga karena kejadian yang menimpa masjid al-Aqsha, yaitu peristiwa pembakaran masijd al-Aqsha oleh Denis Michael Rohan, seorang zionis yahudi asal Australia pada 21 Agustus 1969. Sebulan kemudian, tepatnya 25 September 1969 terbentuklah OKI pada konferensi negara-negara Islam di Rabad, Maroko. Menjadikan kota Jeddah sebagai kantor sekretariatnya, OKI diharapkan menjadi suara kolektif dalam melindungi kepentingan dunia Islam dalam berbagai isu-isu internasional, berupa perdamaian dan keharmonian antar negara di dunia. Melihat Program Aksi OKI hingga…
Kamis, 03 Agustus 2017 17:08

Makna Kemenangan Masjid Al-Aqsha

Setelah berlangsung selama 12 hari menghadapi beragam aksi ancaman dan penodaan Zionis Israel di Masjid Al-Aqsha, aksi dan keteguhan warga Palestina terkhusus yang tinggal di Al-Quds membuat Zionis Israel menyerah. Tanpa support riil dari sebagian besar Negara Arab yang menganut normalisasi dengan Israel, warga Palestina mampu membuat Zionis Israel mundur. Al-Aqsha kembali dibuka, metal detector dicabut, dan berbondong-bondong Kaum Muslimin Palestina memasuki Masjid Al-Aqsha saat kemenangan tiba. Zionis Israel berupaya agar normalisasi yang selama ini mereka lakukan dengan Negara-negara Arab dan instabilitas yang terjadi di kawasan, mampu memuluskan penguasaan terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Sehingga Zionis Israel hanya berhadapan dengan rakyat Palestina yang sangat terbatas sumber daya materi tanpa dukungan dari Negara-negara Arab. Sebagai diantara upaya lokasilasi perseteruan; hanya dengan rakyat Palestina, dan menjauhkan campur tangan Negara lain dalam menghadapi penjajah Israel. ‘Pengkondisian’ tersebut membuat Zionis Israel lebih percaya diri untuk menaklukkan Masjid Al-Aqsha. Namun kemudian, setelah berlangsung sekurangnya sepuluh hari dalam mengepung Masjid Al-Aqsha, Israel berpikir ulang untuk melanjutkan aksi, karena disinyalir adanya skenario terjadi intifadhah jika aksi penodaan terhadap Masjid Al-Aqsha terus berlanjut, seperti yang disampaikan oleh Badan…
Senin, 31 Juli 2017 10:47

Kiblat Pertama yang Dizalimi

Terhitung sejak pekan kedua bulan Juli, sudah dua kali waktu Jumat Masjidil Aqsha dikosongkan dari jama’ah. Tentara Zionis Israel memasang electronic gates sebagai syarat masuk bagi umat Islam yang ingin sholat di masjidil Aqsha. Tindakan ini bukan saja sebagai bentuk penghinaan, tetapi juga sebuah kezaliman terbesar dengan menghalangi umat beribadah di dalam masjid. Sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 114 yang artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” Di saat bersamaan, para pemukim ilegal Yahudi diberikan keleluasaan untuk menistai Al-Aqsha. Mereka mendapatkan pengawalan aparat Israel untuk melakukan ritual Yahudi di dalam masjid. Zionis benar-benar memanfaatkan momen perseteruan ini untuk menguasai kiblat pertama umat Islam, dan melakukan tindakan apapun di dalamnya sesuka hati mereka. Sikap jama’ah Al-Aqsha menolak melewati electronic gate merupakan sebuah bentuk perlawanan, menolak permintaan penjajah yang ingin menghinakan umat Islam. Mereka lebih memilih sholat di…
Pada Jum’at pagi, 13/7/2017, tiga pemuda Palestina dan dua polisi Israel tewas sebab bentrokan senjata di komplek masjid Al-Aqsha, tepatnya di wilayah Asbat Gate. Bentrokan terjadi diawali dengan penyerangan yang dilakukan ketiga pemuda Palestina tersebut. Usai aksi, tentara Israel segera menutup pintu-pintu Masjid, melakukan pengamanan ketat dan pelarangan memasuki Masjid. Aksi penyerangan ketiga pemuda tersebut dilakukan saat semakin meningkatnya eskalasi penistaan Israel terhadap Al-Aqsha. Israel memanfaatkan momentum di tengah sibuknya Negara-negara Arab dan Islam dalam menghadapi krisis internal masing-masing, tak terkecuali konstelasi politik Qatar sebagai Negara support utama bagi Palestina yang belakangan sempat goncang karena embargo dari beberapa Negara Teluk dan Mesir. Ancaman dan penistaan Israel terhadap Masjid Al-Aqsha telah dijalankan sejak tanggal 6 Juni 1967, tepat sehari setelah penjajahan Israel terhadap Al-Quds Timur. Penistaan dalam beragam bentuknya masih berlanjut hingga saat ini, baik yang menargetkan bangunan fisik Masjid maupun para jama’ah yang memakmurkannya.   Berlangsung selama 50 tahun, Israel melakukan penyerbuan terhadap Masjid Al-Aqsha, penggalian terowongan di bawah dan sekitar lokasi Masjid, pembakaran sebagian lokasi Masjid, proyek pembagian otoritas kekuasaan atas Masjid (dari sisi waktu maupun lokasi teritori), penganiayaan…
Senin, 22 Mei 2017 11:21

69 Tahun Derita Nakbah Palestina

Setiap memasuki tanggal 15 Mei, rakyat Palestina selalu diingatkan dengan luka lama mereka yang kini masih menganga. Tepatnya 69 tahun silam, yaitu 15 Mei 1948, lebih dari 750.000 penduduk sebuah bangsa, harus terusir dari tanah kelahirannya. Mereka tak lagi menyandang nama penduduk Palestina tapi disebut sebagai pengungsi Palestina, dan status itu masih melekat hingga sekarang. Nakbah mengingatkan akan kepedihan yang dialami orang-orang Palestina masa itu, mereka terdiam melihat rumahnya dirobohkan, hartanya dirampas, kebun dan ladang mereka hangus dibinasakan. Bahkan saudara mereka pun menjadi korban kekejian penjajah Israel. Mereka dipaksa hengkang dari tanah warisan nenek moyang mereka. Dilihat dari sisi sejarah, Nakbah telah menyebabakan tiga persitiwa besar, pertama, dicabutnya nama Palestina secara geografis dan politik, kedua, berdirinya negara Israel, dan ketiga, mulai meletusnya perang pertama Arab-Israel. Puncak dari tragedi Palestina sendiri bisa dikatakan berawal dari Nakbah. Karena pasukan Zionis Israel pada tahun itu mencaplok 80% tanah Palestina. Lalu dengan semena-mena mereka mendeklarasikan berdirinya negara etnis Yahudi bernama Israel. Melakukan pengosongan terhadap tanah Palestina, hingga memaksa warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza, Tepi Barat dan ke negara tetangga seperti Yordania, Irak, Suriah…
Rabu, 10 Mei 2017 16:43

Perlawanan dari Balik Jeruji Besi

Bisa jadi tidak terlintas di benak masyarakat umumnya, tentang apa lagi upaya perlawanan riil yang bisa dilakukan langsung oleh seseorang yang sedang mendekam dalam penjara. Barangkali itu karena jeruji besi dipahami sebagai simbol penghalang, termasuk terhadap upaya memperjuangkan hak dan kebenaran. Maka muncul persepsi: ketidakberdayaan sudah terlanjur melanda para tawanan di penjara. Namun, persepsi di atas ternyata tidak berlaku umum, terutama terhadap para tawanan Palestina. Di tengah kesulitan yang melanda, mereka tidak kehabisan cara untuk melakukan perlawanan, meski beragam serangan fisik dan psikis tentara Israel yang saat ini menyebabkan 210 tawanan gugur serta 1200 orang dalam kondisi sakit. Bahkan, di tengah lumpuhnya sejumlah organisasi internasional untuk menghentikan kekejaman Israel, para tawanan tetap tegar melawan kezaliman kolektif itu. Mereka menghadapi semua itu, dengan melakukan aksi massif mogok makan. Aksi mogok makan yang cukup efektif menggelorakan solidaritas dan perlawanan rakyat, saat ini hampir genap berlangsung dua pekan, dimulai sejak tanggal 17 April yang bertepatan dengan hari tawanan Palestina. Spirit perlawanan dari aksi mogok makan menggelorakan solidaritas warga Palestina. Warga Palestina melakukan beragam aksi. Aksi hari marah digelar di hampir seluruh wilayah Tepi…
Rabu, 10 Mei 2017 16:37

Tawanan yang Terlupakan

Perjuangan bangsa Palestina meliputi berbagai lini kehidupan, mulai dari diplomasi di jalur politik hingga perlawanan fisik yang mengorbankan jiwa dan raga. Sebagian besar mereka memilih jalur terakhir ini demi mendapatkan kemerdekaan yang sejati. Mereka ditangkap, ditawan, disiksa sebagai konsekuensi dari perjuang yang selama ini dilakukan. Sumber situs aljazeera.net melansir, sedikitnya ada 1.000.000 kali operasi penangkapan yang dilakukan Israel, terhitung sejak tahun 1967. Sebuah lembaga milik Palestina yang konsen dalam urusan tawanan merilis, hingga tahun 2017 ini tercatat ada 7.000 orang Palestina yang ditawan di 23 penjara Israel. Angka ini tentu membuat kita tercengang, karena tawanan sebanyak itu kerap luput dari perhatian masyarakat dunia. Warga Palestina memandang ini sebuah permasalahan besar. Keluarga mereka satu persatu ditawan, bahkan termasuk anak-anak dan perempuan. Sumber situs Palestina, alresalah.ps menyebutkan, saat ini ada 58 perempuan dan 32 anak-anak di bawah umur yang ditawan. Sedangkan untuk tawanan laki-laki sebanyak 4.430 orang. 500 orang diantaranya dijatuhi vonis hukuman seumur hidup dan 600 orang lainnya menjadi tawanan administratif. Khusus tawanan administratif ini lebih mengenaskan lagi. Mereka adalah orang-orang yang ditangkap tanpa didasari tuduhan. Sesampainya di penjara pun, mereka…
Kamis, 27 April 2017 07:33

Tembok Rasial Mengisolasi Tepi Barat

Penjajah Israel memang tidak pernah puas dengan wilayah yang mereka duduki di tahun 1948. Karena hingga sekarang, perluasan tanah jajahan terus mereka lakukan. Padahal, tindakan tersebut terbukti melanggar perjanjian internasional yang disepakati bersama. Tapi itulah karakter Israel, setiap perjanjian yang disepakati selalu dilanggar, bukti mereka bukanlah entitas yang taat aturan. Bukan hanya itu, penjajah Israel seakan memiliki keyakinan, tidak ada pihak yang sanggup menghentikan apapun keinginan mereka. Bahkan organisasi internasional seperti PBB juga tidak sanggup bersikap tegas terhadap Israel, selain hanya mampu memberikan kecaman. Kita bisa dapati dari setiap agresi militer yang dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza, PBB tidak bisa menyetop serangan itu, apalagi sampai mengirimkan pasukan perdamaian di sana guna menyudahi perang, sesuatu yang nampaknya mustahil terjadi. Pembangunan tembok rasial di Tepi Barat merupakan salah satu contoh, bagaimana rasisnya penjajah Israel yang juga mengabaikan ketetapan internasional melalui resolusi PBB no. 242. Tembok rasial adalah sebutan terhadap tembok yang memisahkan Tepi Barat dengan wilayah pendudukan Israel. Pembangunannya dimulai sejak tahun 2002 pada masa PM. Zionis Israel, Ariel Sharon hingga sekarang. Saat itu Israel masih dibayangi ketakutan akibat gejolak Intifadhah Al-Aqsha…
Khutbah Jumat' Memperingati Isra Mi'raj Oleh: Dr. Saiful Bahri, MA.   الخطبة الأولى:الحمد لله الذي أسرى بعبده ليلاً من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحدَه لا شريك له، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: ﴿ سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾(الإسراء: 1). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً . Kaum Muslimin, jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT, Marilah kita mensyukuri nikmat Allah SWT yang sangat melimpah. Nikmat yang diberikan kepada kita baik diminta maupun tidak, disadari maupun tidak, bahkan disyukuri maupun tidak. Dalam berbagai kondisi makhluk-Nya, Allah senantiasa menganugerahkan nikmat-Nya tanpa memilah-milih. Hanya rasa syukur yang membedakan posisi seorang hamba di sisi Allah SWT. Namun, hanya sedikit yang melakukannya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Hamba…
Halaman 1 dari 6