Artikel

Artikel (109)

Jumat, 13 Oktober 2017 12:41

Rekonsiliasi yang Menjadi Harapan

Dalam beberapa pekan terakhir, media Palestina diramaikan kembali dengan agenda perundingan antara dua faksi utama di Palestina yaitu Hamas dan Fatah. Kali ini kembali dimediasikan oleh pihak Mesir, yang berlangsung pada hari Selasa, (10/10/2017) kemarin dengan mempertemukan perwakilan keduanya di ibukota Kairo. Banyak pihak memandang pesimis upaya rekonsiliasi ini, mengingat bukan kali pertama hal itu dilakukan. Memang, paska perseteruan kedua faksi terbesar di Palestina tersebut terjadi, usai pemilu parlemen tahun 2006, secara tidak langsung Palestina tidak memiliki pemerintahan sentral. Wilayah Tepi Barat didominasi faksi Fatah dan Jalur Gaza didominasi Hamas. Sejak saat itu berbagai upaya rekonsiliasi terus dilakukan namun berakhir gagal. Perpecahan terjadi karena alasan klasik, yaitu penolakan Zionis Israel dan sekutunya atas kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina. Dengan klaim atas nama dunia Internasional, Israel dan sekutunya menyaratkan Hamas untuk mengakui kedaulatan negaranya dan menghormati kesepakatan antara Israel-Palestina. Syarat yang ditolak kelompok Hamas kala itu. Dari situ kemudian dimulai drama menekan Hamas di Tepi Barat, hingga harus bertahan di Jalur Gaza sejak tahun 2006 hingga sekarang. Hamas harus membayar konsekuensi pilihannya. Dikucilkan oleh faksi Fatah yang terbiasa berkoordinasi dengan penjajah…
Selasa, 03 Oktober 2017 16:17

Shalahuddin Sang Penakluk Al-Quds

Penaklukkan Shalahuddin di Al-Quds terjadi pada 2 Oktober 1186 bertepatan dengan 27 Rajab 583 H. Dalam konteks ini, bulan Rajab menjadi simbol bulan penaklukan Al-Quds. Isyarat pembebasan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha terekam kuat lewat peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang terjadi pada tanggal yang sama, dan pembebasan Umar terhadap Al-Quds juga terjadi pada bulan yang sama. Penaklukan Shalahuddin merupakan diantara rangkaian perjuangan yang telah dilakukan para pendahulunya. Para pendahulu beliau berkontribusi besar dalam meretas jalan kemenangan. Membangun ikatan batin Umat terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha merupakan diantara kontribusi besar para pendahulu Shalahuddin. Mimbar yang telah disiapkan oleh Nuruddin Zanki, pendahulu Shalahuddin menjadi simbol perjuangan untuk penaklukkan Masjid Al-Aqsha. Mimbar tersebut memberi pesan kuat dalam benak dan pikiran Umat Islam tentang persiapan dan amanah penaklukan Masjid Al-Aqsha. Persis seperti pesan yang dipahami para Sahabat saat Rasulullah singgah di Masjid Al-Aqsha yang saat itu berada dalam kekuasaan bangsa Yunani dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa itu mengikat kuat batin para Sahabat dengan Masjid Al-Aqsha. Walhasil upaya pembebasan Al-Aqsha dijalankan selanjutnya oleh Abu Bakar Ashiddiq, dan penaklukan baru terwujud pada masa Umar bin Khattab.…
Kamis, 28 September 2017 13:00

Ekspedisi Historis Kota Kudus

Dalam sejarah dakwah Islam di nusantara, kita mengenal istilah walisongo. Walisongo adalah sembilan orang wali yang dikirim oleh Kesultanan Turki Utsmani ke tanah Jawa secara periodik. Dimulai pada tahun 1404 M hingga 1569 H (abad 15-16 Masehi), dalam enam periode. Rujukan sumber sejarah dakwah Islam di Indonesia sulit dicari karena tidak berada di tanah air. Indonesia pernah dijajah oleh pihak asing selama berabad-abad, sehingga rakyat terbodohi hingga beberapa generasi. Beberapa sumber kisah tentang walisongo ada pada Babad Tanah Jawi. Konon, babad ini disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda pada tahun 1941.  Selain babad, kisah walisongo juga bisa didapat dari manuskrip kuno yang berada di Museum Istana Turki, Istanbul dan Koprah Ferrara, Italia yang kini tersimpan di Museum Nasional Leiden. Secara historis, keberadaan walisongo menandakan Nusantara (Indonesia) memiliki hubungan erat dengan kesultanan Turki Utsmani. Salah seorang wali yang diutus bernama Syeikh Ja’far Shodiq yang berasal dari Palestina. Syeikh Ja’far Shodiq dikenal dengan nama Sunan Kudus. Dinamakan Sunan Kudus karena syeikh Ja’far Shodiq ditugaskan di salah satu daerah pada Kesultanan Demak. Daerah itu dinamakan dengan Kudus. Penamaan Kudus sama dengan…
Sumber berita Zionis Israel, Haaretz menyebutkan, adanya pembatalan KTT negara di Benua Afrika dengan Israel, yang semula akan diadakan di Togo (23-27 Oktober 2017) berdasarkan permintaan presiden Togo, Faure Gnasingbe. Pembatalan konferensi ini tidak lepas dari adanya tekanan beberapa negara Afrika bagian timur dan juga negara Arab. Belum ada kepastian hingga kapan KTT ini akan diundur.   Semula, penjajah Israel akan memanfaatkan KTT itu untuk memberikan bantuan dana sebesar 1 trilyun dolar kepada negara-negara Afrika. Tentu tidak ada yang gratis, sebagai imbalannya mereka meminta pengakuan dan normalisasi hubungan Israel. Seperti diketahui sebelumnya, pada tanggal 4 Juni 2017 dalam acara ECOWAS Afrika-Israel Summit di Liberia, Netanyahu datang dan menjanjikan pemberian bantuan tersebut. Rencananya, dana itu untuk membangun "proyek - proyek hijau" yg dikembangkan oleh negara-negara Afrika Barat yang tergabung dalam ECOWAS (The Economic Community of West African States).   Yang menjadi pertanyaan, dari mana Zionis Israel memiliki dana sebesar itu? Disinyalir ini adalah dana dari Amerika dan Uni Eropa. Sudan, yang dikenal keras terhadap Barat kini menjadi target tawaran menarik ini, sehingga negara Arab yang dipimpin oleh Umar Bashir itu dibujuk…
Kamis, 14 September 2017 11:13

Jejak Zionis Israel dalam Konflik Rohingya

Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dikejutkan dengan gelombang ribuan pengungsi asal Myanmar. Mereka adalah muslim Rohingya yang menempati wilayah Arakan atau Rakheena State, yang terusir akibat konflik berkepanjangan di kawasan itu. Dewan Rohingya Eropa (ERC) pada tanggal 28 Agustus 2017 kemarin merilis laporan, sekitar 2.000 hingga 3.000 muslim Rohingya tewas dalam serangan ke Arakan yang terjadi selama tiga hari. Eksodus besar-besaran terjadi. Di Indonesia sendiri tercatat ada sekitar 12.000 orang pengungsi Rohingya yang kini masih bertahan di Aceh, Sumatra Utara dan propinsi lainnya. Konflik yang identik dengan isu SARA ini ternyata bukan saja melibatkan junta militer Myanmar, tapi juga ada campur tangan Zionis Israel. Hal ini berdasarkan pemberitaan surat kabar Israel sendiri, Haaretz yang menyebutkan Kementerian Pertahanan Israel tetap nekat menjual persenjataannya ke Myanmar, yang selama ini digunakan junta militer untuk melakukan pembersihan etnis muslim Rohingya. Diantara persenjataan dan alat berat yang dijual ke Myanmar yaitu 100 buah tank dan boat patroli untuk perbatasan, seperti yang dikutip laman middleeasteye.net Pada bulan September 2015 lalu diberitakan, satu petinggi junta militer, Jenderal Min Aung Hlaing mengunjungi Israel untuk belanja senjata. Ia melakukan…
Minggu, 03 September 2017 14:57

"Perang Diplomasi" Untuk Palestina

Untuk mencapai kemerdekaan sebuah bangsa, tentu harus melibatkan seluruh pihak, baik internal dalam negeri maupun masyarakat internasional. Perjuangan rakyat Indonesia melawan berbagai penjajahan dari Portugis, Inggris, Belanda hingga Jepang, merupakan contoh nyata sejarah kemerdekaan yang berhasil. Berapa banyak jatuh korban dari berbagai generasi, hingga akhirnya mendapatkan apa yang dicita-citakan. Pengakuan internasional sangat dibutuhkan ketika proklamasi dikumandangkan. Setelah kemerdekaan diraih, Indonesia masih harus berjuang mempertahankannya, dengan cara mencari dukungan dari negara-negara lain. KH. Agus Salim, Muhammad Hatta dan Muhammad Natsir tercatat sebagai salah satu negosiator internasional untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Mesir dan Palestina merupakan negara yang dikunjungi dan memiliki saham besar terhadap kemerdekaan bangsa. Palestina melakukan berbagai cara guna mencapai kemerdekaan. Rakyatnya dengan gagah berani melawan penjajah di dalam tanah air mereka, sementara pemerintah Palestina berusaha dengan jalur negosiasi dan diplomasi. Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Palestina saat ini membutuhkan dukungan politik internasional dalam meraih kemerdekaan. Setelah 69 tahun penjajahan (sejak Mei 1948), dukungan sudah sampai pada dikeluarkannya berbagai resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan, pada 29 Nopember 2012 lalu, Palestina sudah menjadi negara pengamat bukan anggota di PBB.…
Kamis, 24 Agustus 2017 14:20

Memori 48 Tahun Pembakaran Masjidil Aqsha

Masjidil Aqsha pernah melewati masa-masa kelam di awal tahun pendudukan. Tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1969, ketika kiblat pertama umat Islam itu dibakar oleh seorang turis asal Australia yang belakangan disebut sebagai Zionis Radikal, yaitu Denis Michael Rohan. Ia berhasil ditangkap, namun pengadilan Israel menjatuhkan vonis bebas dengan alasan Rohan melakukannya dalam kondisi hilang akal. Pembakaran ini sendiri tercatat sebagai penistaan paling berani dilakukan Israel terhadap masjidil Aqsha. Karena menjadi bagian dari realisasi agenda utama Zionis untuk merobohkan masjid mulia itu dan menggantinya dengan Kuil Ilusi Sulaiman. Apa yang dilakukan penjajah Israel ini semacam testing the water, mencoba mengetes sejauh mana reaksi umat Islam ketika masjidil Aqsha dibakar. Sikap ini bisa disimpulkan dari pernyataan Golda Meir, PM. Zionis Israel ke-4. Di hari pembakaran itu, Meir mengatakan, “Hari terberat dalam pemerintahanku adalah hari pembakaran Masjidil Aqsha, dan hari termudah dalam pemerintahanku adalah hari-hari yang kulalui pasca pembakaran masjidil Aqsha. Pada dini hari peristiwa pembakaran itu aku tidak bisa tidur, namun di pagi hari betapa aku merasa riang gembira. Karena saat ini kami sedang mengahadapi umat yang lelap tertidur.”  Seakan sudah direkayasa,…
Senin, 14 Agustus 2017 13:08

Kemerdekaan dan Makna Simpul Sejarah

Dalam momentum 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, memori sejarah bangsa kita merekam satu peristiwa penting tentang ikatan sejarah dan kemanusiaan Indonesia dan Palestina. Faktanya, Palestina merupakan entitas pertama yang mendorong dan mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia, di samping Mesir yang menjadi Negara pertama yang mengakuinya. Secara de jure, Indonesia yang telah memprolamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 membutuhkan dukungan dan pengakuan dari Negara lain agar menjadi Negara yang berdaulat. Lebih spesifik, dukungan tersebut diinisiasi dan diberikan oleh Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini. Beliau adalah seorang ulama dan aktivis perjuangan yang saat itu menjabat sebagai mufti Palestina. Dalam kapasitasinya sebagai mufti, Syaikh Amin Al-Husaini berkenan menyambut kedatangan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia. Dukungan penuh dan ucapan selamat dari beliau disiarkan oleh radio Berlin pada 6 September 1944, bertepatan dengan pengakuan Jepang atas kemerdekaan Indonesia. (Zein Hassan: Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, 1980, hal. 40). Support dan dukungan penuh itu disampaikan justru saat bangsa Palestina sedang serius menghadang upaya penguasaan Inggris dan Zionis terhadap buminya. Syaikh Amin Al-Husaini lahir di Al-Quds dan dikenal sebagai Ulama yang memiliki kepedulian tinggi. Perannya sangat terlihat dalam…
Sabtu, 05 Agustus 2017 07:39

Menanti Langkah Nyata OKI

“Apakah kita akan membiarkan kejadian di Al-Aqsha terus berulang? Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi”, suara lantang ditegaskan oleh Retno L.P. Marsudi, Menlu RI dalam Pembukaan Pertemuan Luar Biasa Komite Eksekutif OKI (Organisasi Kerjasama Islam) di Istanbul, 1 Agustus 2017. Retno hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap penyelesaian permasalahan di Palestina dan masjid al-Aqsha. Dr. Yousef A. Al-Othaimeen, Sekjend OKI menyampaikan apresiasi kepada pihak Indonesia karena komitmen seriusnya terhadap masalah ini. Hal tersebut disampaikan secara khusus dalam pembicaraan empat mata ketika pembukaan pertemuan di Istanbul. OKI yang beranggotakan 57 negara merupakan organisasi antar pemerintah kedua terbesar setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Terbentuknya OKI juga karena kejadian yang menimpa masjid al-Aqsha, yaitu peristiwa pembakaran masijd al-Aqsha oleh Denis Michael Rohan, seorang zionis yahudi asal Australia pada 21 Agustus 1969. Sebulan kemudian, tepatnya 25 September 1969 terbentuklah OKI pada konferensi negara-negara Islam di Rabad, Maroko. Menjadikan kota Jeddah sebagai kantor sekretariatnya, OKI diharapkan menjadi suara kolektif dalam melindungi kepentingan dunia Islam dalam berbagai isu-isu internasional, berupa perdamaian dan keharmonian antar negara di dunia. Melihat Program Aksi OKI hingga…
Kamis, 03 Agustus 2017 17:08

Makna Kemenangan Masjid Al-Aqsha

Setelah berlangsung selama 12 hari menghadapi beragam aksi ancaman dan penodaan Zionis Israel di Masjid Al-Aqsha, aksi dan keteguhan warga Palestina terkhusus yang tinggal di Al-Quds membuat Zionis Israel menyerah. Tanpa support riil dari sebagian besar Negara Arab yang menganut normalisasi dengan Israel, warga Palestina mampu membuat Zionis Israel mundur. Al-Aqsha kembali dibuka, metal detector dicabut, dan berbondong-bondong Kaum Muslimin Palestina memasuki Masjid Al-Aqsha saat kemenangan tiba. Zionis Israel berupaya agar normalisasi yang selama ini mereka lakukan dengan Negara-negara Arab dan instabilitas yang terjadi di kawasan, mampu memuluskan penguasaan terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Sehingga Zionis Israel hanya berhadapan dengan rakyat Palestina yang sangat terbatas sumber daya materi tanpa dukungan dari Negara-negara Arab. Sebagai diantara upaya lokasilasi perseteruan; hanya dengan rakyat Palestina, dan menjauhkan campur tangan Negara lain dalam menghadapi penjajah Israel. ‘Pengkondisian’ tersebut membuat Zionis Israel lebih percaya diri untuk menaklukkan Masjid Al-Aqsha. Namun kemudian, setelah berlangsung sekurangnya sepuluh hari dalam mengepung Masjid Al-Aqsha, Israel berpikir ulang untuk melanjutkan aksi, karena disinyalir adanya skenario terjadi intifadhah jika aksi penodaan terhadap Masjid Al-Aqsha terus berlanjut, seperti yang disampaikan oleh Badan…
Halaman 1 dari 6