Selasa, 13 Februari 2018 14:42

Washington Dibohongi Netanyahu Dalam Konspirasi Untuk Caplok Permukiman

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Washington, 13-02-2018. Pemerintah AS telah menafikan hubungannya  dengan Israel terkait pencaplokan permukiman di Tepi Barat, sebagai tanggapan atas pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang ditolak oleh Otoritas Palestina, yang menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan membiarkan Israel memberlakukan kedaulatannya di atas tanah-tanah milik negara Palestina.


Juru bicara Gedung Putih Josh Ravell mengatakan tidak ada kebenaran atas laporan tersebut. "Amerika Serikat dan Israel tidak pernah membahas proposal semacam itu, dan fokus presiden tetap pada inisiatif perdamaiannya antara Israel dan Palestina," katanya.


Benjamin Netanyahu telah menyatakan dalam sebuah pertemuan Partai Likud yang dipimpinnya bahwa dia berhubungan dengan pemerintah AS mengenai kemungkinan untuk mencaplok permukiman Israel yang ada di Tepi Barat masuk dalam kedaulatan Israel, sambil memberikan gambaran hubungan dengan Washington sebagai "harta karun yang strategis".


Awal tahun ini, Partai Likud yang berkuasa di Israel telah menyetujui sebuah undang-undang untuk diberlakukannya undang-undang Israel di daerah pemukiman dan perluasannya di Tepi Barat, termasuk di dalamnya Yerusalem jajahan, dan mencaploknya jadi bagian Israel.


Di sisi lain, pimpinan Palestina mengancam  setiap langkah yang diambil Israel untuk mencaplok permukiman Tepi Barat dan menduduki Yerusalem, mengatakan bahwa itu "akan menghilangkan upaya untuk menyelamatkan proses perdamaian, dan akan menyebabkan semakin bertambahnya ketegangan."


Dikte lain


Juru bicara Kepresidenan, Nabil Abu Rudeina, mengulangi pengumuman Netanyahu, khususnya, bahwa tidak ada pihak yang memiliki hak untuk berbicara mengenai status wilayah Palestina, yang bertentangan dengan semua resolusi yang sah secara internasional.


Sekjen PLO Saeb Erekat mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihak Palestina tidak meminta pemerintah AS atau pihak lain untuk bernegosiasi atas namanya. "Kami tidak akan membiarkan upaya semacam itu bisa berhasil."


Dia menambahkan bahwa pernyataan yang dikaitkan dengan Benjamin Netanyahu mengenai aneksasi permukiman "merupakan pendiktean terakhir Israel, dan menegaskan adanya kolusi Amerika dengan proyek pemukiman Israel."


Erekat menuduh pemerintah AS terlibat dengan Israel. "Dalam waktu kurang dari tiga bulan, tiga usaha telah dilakukan untuk melegitimasi pelanggaran hukum internasional oleh Israel melalui perintah Amerika," katanya.


Dia menjelaskan bahwa "upaya pertama adalah untuk menyingkirkan Yerusalem dari meja perundingan, dan yang kedua mengakhiri masalah pengungsi Palestina, dan sekarang mendorong pencurian tanah dengan menerima aneksasi Israel ke wilayah Palestina" (Aljazeera/i7).

Read 54 times Last modified on Selasa, 13 Februari 2018 14:49