Kamis, 07 Desember 2017 18:28

Batas Merah dan Fathu Makkah

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Setiap peraturan ada batas-batasnya. Lampu lalu lintas di setiap perempatan, jika berwarna merah maka tak boleh ada kendaraan yang melaju. Setiap wilayah terdapat pagar-pagar yang tak bisa dilanggar dan dilalui. Demikian, senada dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir ra, “… sesungguhnya setiap raja memiliki pagar-pagar, dan pagar-pagar Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam potongan hadis tersebut terdapat kejelasan hal yang halal dan kejelasan yang haram, kemudian terdapat wilayah abu-abu yang menjadi syubhat. Orang-orang yang menjaga dirinya dari wilayah syubuhât, maka ia menjaga agama dan kehormatannya. Jika ia sanggup maka ia akan semakin menjauh dari wilayah merah, wilayah larangan.

Demikian halnya, saat Presiden Amerika, Trump tanggal 6 Desember 2017 di tengah hari, ia mendeklarasikan secara eksplisit pemindahan kedutaan AS untuk Israel ke Kota al-Quds ia telah menembus batas merah tersebut.

Coba lihat respon dunia. Meledak. Apalagi umat Islam, menjadi pihak yang paling tersakiti. Secara khusus lagi adalah Bangsa Palestina yang selama ini terampas kedaulatannya oleh Zionis Israel. Sebenarnya hal tersebut tidak mengherankan jika dilihat dari sejarah sikap Amerika secara politis terhadap Israel yang terus menjadi support dan pelindung bagi mereka. Berapa resolusi PBB yang terdowngrade? Berapa kesepakatan internasional yang diveto Amerika untuk melindungi kejahatan kemanusiaan Israel? Siapa lagi yang bisa menghentikan pembangunan pemukiman ilegal Israel di wilayah-wilayah Palestina? Sebagian terkaget-kaget, meski sebelumnya bisa diprediksi. Sebagian tersadar dan tak mampu berbuat apa-apa, selain mengecam. Setidaknya ini lebih baik dari pada tidak bersikap sama sekali. Padahal, penistaan dan penjajahan ini perlu respon keras terutama dalam percaturan negara-negara secara internasional.

Penjajahan, pencaplokan, perampasan, tindakan-tindakan tak manusiawi Zionis Israel terhadap Palestina selama ini sebenarnya juga tak bisa ditolelir. Namun, dunia internasional seolah tak berdaya dan tak mampu merespon keras terhadap ketidakadilan dan kezhaliman serta penjajahan Israel tersebut. Setidaknya, umat Islam masih bisa menahan diri dan lebih banyak mengalah serta masih menempuh jalan-jalan damai dalam menyikapi kejahatan-kejahatan tersebut. Respon-respon perlawanan fisik pun terjadi sesekali saja, ada letupan-letupan kecil atau setidaknya tak besar.

Namun, saat deklarasi pemindahan kedutaan AS ini ke Al-Quds, maka Amerika dan Israel sudah masuk batas-batas merah yang menjadi zona larangan keras. Pihak-pihak yang selama ini menyuarakan perdamaian, justru mereka lah yang menghancurkannya. Menariknya, pihak yang menjadi pendukung utama Trump adalah aktivis-aktivis Kristen Avangelis. Yahudi Ortodoks sendiri sebenarnya menentang kebijakan Trump. Hal ini menegaskan bahwa Zionisme tak lagi membasiskan kekuatan pada pemeluk agama Yahudi saja, tapi mereka akan mengerahkan semua ideologi untuk mencapai keinginan kembali ke bukit zion, ke tanah suci al-Quds di Palestina.

Secara historis, sirah Nabi Muhammad SAW menuturkan keajaiban. Pada saat Kuffar Quraisy membuat perjanjian yang merugikan umat Islam, yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Sekutu pihak Quraisy lah yang memulai melanggar perjanjian, mengkhianati kesepakatan. Inilah yang kemudian justru menjadi pembuka kemenangan umat Islam dengan peristiwa Fathu Makkah.

Dengan semangat tersebut, saat ini umat Islam perlu bangkit menyusun strategi kemenangan. Dukungan internasional yang bukan hanya berbasis ideologi ini sudah semestinya dikapitalisasi dan dioptimalkan. Jika ada persekutuan yang berbasis pengkhianatan, maka seharusnya persekutuan yang meneguhkan kemanusiaan, memuliakan martabat kedaulatan suatu bangsa harus diperkuat.

Jika lampu merah sudah menyala itu pertanda lampu hijau segera menggantikannya, saat semua kendaraan memacu gasnya.

Jika batas-batas merah sudah diterjang, bersiaplah akan ada konsekuensi berat dan resiko yang harus ditanggung pelanggarnya.

Islam tak pernah mengajarkan membenci agama dan pemeluknya, termasuk Yahudi atau Kristen sekalipun atau keyakinan manapun. Yang saat ini harus dijadikan musuh bersama adalah sebuah ideologi yang merusak keharmonisan bernama Zionisme. Lawan, sebagaimana rakyat Palestina pernah meletuskan kemarahannya melalui batu-batu di bulan ini tiga puluh tahun yang lalu. Intifadhah, saatnya meletus kembali dan menjemput kemenangannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 80

Jakarta, 07.12.2017

SAIFUL BAHRI

Read 92 times