Minggu, 12 November 2017 17:25

Membaca Geopolitik Dunia Arab (1)

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Sejak kesultanan Ottoman bubar pada 3 Maret 1924, dunia Islam terbagi menjadi wilayah-wilayah kecil. Pemegang kuasa dunia ketika itu adalah pemenang perang dunia pertama yang terjadi antara tahun 1914-1918, yaitu Inggris, Perancis dan Rusia (Blok Sekutu). Mereka menang perang berhadapan dengan Blok Sentral yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria dan Italia, ditambah kesultanan Ottoman. Jerman kehilangan banyak wilayah, sementara Austria-Hongaria dan Kesultanan Ottoman bubar. Italia balik badan dan berada di pihak sekutu.

Inggris mendapat ‘warisan’ sebagian besar wilayah di Timur Tengah, diantaranya Bahrain, Palestina, Qatar, Kuwait dan Emirat. Perancis dapat sebagian wilayah Afrika Utara, diantaranya Maroko, Tunisia dan Aljazair. Wilayah-wilayah kecil yang dijajah tersebut kemudian mendapatkan kemerdekaannya (selain Palestina) antara tahun 1953-1971. Sementara Palestina, penjajahan dilanjutkan oleh Israel hingga kini.

Setelah merdeka, wilayah tersebut membentuk sebuah negara (nation state). Ada yang berbentuk Republik Parlementer (Tunisia), Republik Presidensial (Yaman), Republik Semi Presidensial (Aljazair, Palestina, Mesir, Suriah), Monarki Semi Konstitusional (Maroko, Kuwait, Bahrain, Emirat), dan Monarki Absolut (Qatar, Arab Saudi). Walaupun berbeda latar belakang bentuk kenegaraan, tapi pemimpin negaranya tidak pernah diganti kecuali dengan jalan mengundurkan diri, kudeta atau wafat.

Oleh karena proses pergantian kepemimpinan tidak berjalan baik, maka sejak tahun 2011 hingga kini terjadi pergolakan di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Berikut beberapa fakta yang dapat penulis sampaikan dalam editorial kali ini:

Jum’at, 14 Januari 2011 Zine El Abidine Ben Ali diturunkan dari tahtanya sebagai Presiden Tunisia oleh gelombang demonstrasi rakyat, setelah beberapa pekan sebelumnya terjadi aksi bakar diri yang dilakukan oleh Boazizi, karena memprotes perlakuan kasar polisi. Ben Ali memerintah Tunisia sejak 7 November 1987 (24 tahun).

Jum’at, 11 Februari 2011 Husni Mubarak resmi mengundurkan diri dari presiden karena desakan rakyat Mesir yang melakukan aksi demonstrasi selama 18 hari. Mubarak memerintah Mesir sejak 14 Oktober 1981 (30 tahun). Mesir kemudian diperintah sementara oleh militer pimpinan Muhammad Hussein Thantawi hingga terselenggaranya pemilihan umum pada Mei-Juni 2012.

Kamis, 20 Oktober 2011 Moammar Qaddafi dilaporkan tewas dalam penyerbuan di Sirte, Libya. Sejak Februari 2011, rakyat Libya yang terinspirasi dengan Tunisia dan Mesir, melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut Qaddafi mundur. Demo ini dibalas dengan pengiriman pasukan militer dan bersenjata, yang mengakibatkan terjadinya kontak senjata antara loyalis Qaddafi dan para musuhnya. Qaddafi merupakan pemimpin kudeta militer dan memerintah Libya sejak 1 September 1969 (42 tahun).

Sejak Maret 2011 telah terjadi protes besar rakyat Suriah terhadap presiden Basyar Asad, yang mengakibatkan terjadinya perang antara milisi perlawanan rakyat dengan tentara pemerintah. Perang ini belum berakhir hingga kini dan membuat Suriah sebagai salah satu negara tidak aman di dunia. Basyar Asad menjadi presiden sejak 17 Juli 2000, menggantikan ayahnya Hafez Asad yang wafat pada 10 Juni 2000.

Sabtu, 25 Februari 2012 Ali Abdullah Saleh menyerahkan jabatan kepresidenan Yaman kepada wakilnya Abdo Robbu Mansur Hadi, setelah didesak oleh demonstrasi rakyat sejak 11 Februari 2011. Peletakan jabatan ini diikuti dengan dikeluarkannya undang-undang terkait kekebalan hukum terhadap Ali Abdullah Saleh atas apa yang telah dilakukannya ketika menjadi presiden selama 33 tahun (sejak 18 Juli 1978).

Sabtu, 30 Juni 2012 Muhammad Mursi naik tahta kepresidenan di Mesir, setelah memenangi pemilihan umum putaran kedua antara Mursi dan Syafiq. Walaupun satu tahun kemudian, Mursi dikudeta oleh Menteri Pertahanannya Abdul Fattah as-Sisi pada 3 Juli 2013 dan ditangkap dengan tuduhan spionase. Setelah itu, Mesir dipimpin sementara oleh Adli Mansur, Ketua Mahkamah Konstitusi Mesir kala itu hingga pemilihan umum kembali pada Mei 2014. (Bersambung)

Salman Alfarisy

Read 83 times