Jumat, 10 November 2017 13:53

Pahlawan dan Pejuang

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Suatu ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khattab berkumpul dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka diminta untuk mengungkapkan khayalan dan angan masing-masing. Di antara mereka, ada yang memimpikan seandainya ruangan yang mereka tempati dipenuhi emas dan perak, agar bisa disumbangkan untuk perjuangan di jalan Allah. Yang lain membayangkan jika ruangan tersebut penuh berlian yang digunakan untuk menyantuni fakir miskin. Yang lainnya memiliki harapan jika ruangan tersebut dipenuhi bla bla bla. Tibalah saatnya para sahabat menunggu-nunggu, apakah kiranya yang diangankan oleh Umar bin Khattab?

“Sedangkan aku,” kata Umar, “Kubayangkan ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah, Hudzaifah ibnu al-Yaman, Bilal bin Rabah…”

Itulah sebuah mimpi dan khayalan yang dahsyat. Beliau memimpikan kehadiran tokoh. Karena manusia adalah pelaku peradaban. Aktor penting yang diperlukan dalam berperan membangun. Sumber daya alam yang melimpah, sarana kehidupan yang serba modern takkan berpengaruh tanpa kehadiran tokoh yang tepat.

Karena itulah al-Quran selalu menghadirkan muttaqîn setiap membahas konsep taqwa, selalu menyertakan muhsinin ketika membicarakan tentang ihsan. Demikian halnya saat mengurai tentang kezhaliman, al-Quran juga menyebutkan ending kaum zhâlimîn, atau saat membicarakan kefasikan pasti akan ada fâsiqîn. Konsep dan tokoh menjadi dua unsur yang selalu beriringan di dalam al-Quran. Kemudian, biasanya Allah akan mengetengahkan profil nyata tentang keduanya. Kisah tentang taqwa dan muttaqîn, kesalihandanshâlihîn misalnya dijelaskan lebih detil melalui beberapa profil nabi atau orang-orang shalih. Cerita tentang kezhaliman dan kaum zhâlimîn, atau kekufuran dan kaum kâfirîn, dideskripsikan lebih rinci melalui cerita tentang musuh-musuh para nabi, yaitu setan baik dari kalangan manusia ataupun jin yang akan terus berestafet dan bermetamorfosa sepanjang masa. Namrud, Firaun, Jalut adalah di antara profil yang disebut mewakili sisi kegelapan sebuah peradaban di saat pandangan materi menyebut mereka sampai pada puncak kejayaan.

Dengan demikian kehadiran tokoh sangat penting pada saat perjuangan melawan penjajah. Maka, hari ini kemudian secara simbolik di negara kita dikenal sebagai hari pahlawan. Para pahlawan itu hanya mengenal perjuangan membebaskan negerinya dari cengkraman para penjajah. Mereka ingin persembahkan yang terbaik untuk negerinya yang terbelenggu keserakahan dan kezhaliman.

Akan segera muncul nama-nama tak terhitung yang dianggap berjasa terhadap negeri ini. Tahukah kita, bahwa sebagian mereka dulunya adalah profil yang dibenci penjajah, dianggap pecundang dan penjahat yang mengancam eksistensi kekuasaan dan kezhaliman? Sebagian memang dikenal sebagai orang baik-baik saja, sebagian lainnya bahkan baru dikenal ketika mereka sudah tiada. Dan penulis yakin, sebagian besarnya adalah nama-nama yang tidak dikenal dan tak disebut oleh banyak orang yang hidup setelah mereka. Para pahlawan itu adalah manusia biasa yang tak ingin menyerah dengan keadaan yang dihadapinya. Mereka adalah orang biasa yang tak menerima kondisi yang sedang tidak ideal. Mereka adalah orang-orang biasa yang ingin menyukuri nikmat kemerdekaan. Karenanya, mereka melakukan hal yang sebenarnya biasa, untuk cita-cita luar biasa, karena tak sedikit manusia di zamannya yang menyerah dengan keadaan yang timpang. (Baca Catatan Keberkahan 47: Superhero)

Maka, sebagaimana jalan terjal kemerdekaan Indonesia, Bangsa Palestina pun tentu mengharapkan kemerdekaan yang berdaulat. Pahlawan mereka pun melakukan apa saja untuk meraihnya dengan penuh kehormatan. Membebaskan harga diri dan martabat kedaulatan yang terenggut oleh penjajahan dan kezhaliman.

Pahlawan itu orang biasa yang punya mimpi berjuang, tak menyerah terhadap realita. Kita, harus menjadi pahlawan yang menjaga negeri dan membangun peradaban. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 77

Leeds, 10.11.2017

SAIFUL BAHRI

Read 111 times