Sabtu, 21 Oktober 2017 01:39

Perkuliahan dengan Para Pakar

Jumat, 20 Oktober 2017. Sesi sore Multaqa Ruwwad ke-9 menghadirkan dua pembicara, Yaitu Syeikh Abdul Fattah Moro dari Tunisia dan ulama muda dari India Syeikh Yusuf An-Nadwiy, putra Syeikh Salman al-Husainiy al-Nadwiy. Sesi yang dimoderatori oleh Dr. Abdul Hamid ben Salim ini bertajukFaktor Pendukung Pembebasan Masjid al-Aqsha. Syeikh Abdul Fattah memberi prolog bahwa lemahnya umat Islam secara internal menjadi pijakan penting bagi Zionis untuk mengukuhkan eksistensinya. Maka menjadi urgen dan tidak perlu ditunda adalah menguatkan kembali umat ini melalui peran-peran yang bisa menyatukan mereka dalam pengambilan keputusan strategis di tataran internasional juga pengerahan masif yang bertolak dari isu dan masalah-masalah kemanusiaan yang dihadapi oleh bangsa terjajah. Hal ini perlu pergerakan yang juga masif secara terkoordinir melalui media agar dunia menjadikan Palestina sebagai prioritas masalah kemanusiaan. Sementara itu Syeikh Yusuf an-Nadwiy melihat dari sudut pandang berbeda, yaitu kekukuhan bangsa Palestina hingga saat ini di saat menghadapi berbagai teror kemanusiaan, tekanan fisik, pendudukan ilegal, perampasan dan penindasan hal ini pertanda bahwa proyek zionisme menghadapi masalah besar. Keberhasilan yang didengungkan media adalah semu, kenyamanan dan kemakmuran serta kemegahan yang dibangun di atas tanah rampasan dan pendudukan ilegal adalah sebuah fatamorgana. Maka menjadi kewajiban umat Islam di luar Palestina adalah terus memberikan dukungan yang tiada henti untuk mengakhiri penjajahan ini serta mengembalikan hak-hak penduduk asli Palestina.

Di waktu yang sama, Hai’ah Ulama’ Filisthin (Ikatan Ulama Palestina) menggelar mukmatar yang dihadiri perwakilan ulama dari berbagai negara. Bahasan utama muktamar ini adalah Menentang Normalisasi Politik Terhadap Pemerintah Zionis. Menariknya, kajian ini dibahas dari sisi syariah dengan menghadirkan dua pakar di bidangnya. Dr. Washfy Asyur Abou Zeid, seorang pakar maqâshid syari’ah dan Dr. Muhammad Hammam, pakar hadis dan ushul fikih dari Yordania.

Dalam paparannya Dr. Washfy Asyur melihat dari sisi maqâshid syari’ah. Beliau memberikan prolog kondisi lapangan di saat terjadi pemutarbalikan realitas, teman menjadi lawan yang dimusuhi dan lawan menjadi teman yang diakrabi. Maka, normalisasi dengan penjajah terutama secara politik sangat bertentangan dengan maqashid syari’ah. Dalam teori utama maqashid yang menjaga agama, pada faktanya penjajah zionis melakukan penistaan terhadap masjid, simbol agama, membahayakan persatuan umat yang terus diadu domba dan menjadi sebab utama terpeliharanya agama secara baik.

Secara ideologis, normalisasi juga membahayakan akidah, karena mengubah arah loyalitas. Sebagai konsekuensinya, terjadi di lapangan beberapa ulama dan pemikir yang menentang normalisasi politik ditangkapi dan dikriminalisasi. Dr. Washfy menyitir pernyataan al-Izz bin Abdissalam yang mengemukakan sebuah kaidah tentang mafsadah yang ditimbulkan dari sebuah perbuatan akan berpengaruh terhadap hukum perbuatan tersebut. Bahkan, jika benar terjadi atau dimungkinkan secara kuat untuk terjadi tapi tetap dilakukan maka bisa memasukkan pelakunya ke dalam pelaku dosa besar. Misalnya, bisa menyebabkan hilangnya banyak jiwa, terjadinya kezhaliman yang besar. Normalisasi ini mengarah pada hal-hal yang lebih besar madharatnya. Pencegahan terhadap bahaya mafsadah ini menjadi sebuah kewajiban yang harus lakukan oleh umat ini.

Dr. Muhammad Yusri yang bertindak selaku moderator memberikan kesempatan kedua kepada Dr. Muhammad Hammam.  Tema khusus yang dikaji beliau adalah tentang perundingan damai dan perjanjian-perjanjian dengan pihak penjajah dari sudut fikih muwâzanah. Beliau menyampaikan tujuh kaidah fikih muwazanah. Di antaranya, kaidah pokok tentang maqashid syariah dan dharuriyat al-khamsah yaitu yang mencakup tangga-tangga kaidah kuliyat. Kemudian beliau meneruskan kaidah kedua yang berkenaan tentang penyusunan prioritas dan akibat hilangnya suatu hal penting. Contohnya, jika hal yang hilang (ditinggalkan) seperti rukun shalat, meski satu saja maka akan berakibat batalnya shalat, pengaruhnya besar. Hal ini berbeda dengan hal selain rukun, seperti wajib atau sunnah saja, maka takkan sampai berakibat batalnya shalat. Beliau juga menyampaikan beberapa kaidah tentang kemaslahatan, yaitu mendahulukan umum dari khusus. Juga kemaslahatan yang terjadi atau prediksi yang kuat yang didahulukan dari perkiraan atau yang masih meragukan.

Dalam sesi dialog para peserta yang terdiri dari ulama dari berbagai negara memberikan komentar dan tanggapannya. Bersamaan dengan adzan maghrib selesailah acara sesi sore.

Adapun sesi malam yang dilaksanakan setelah hidangan santap malam, membahas tentang Realitas dan Bahaya Normalisasi. Dimoderatori oleh Dr. Amal Khalifah, sesi ini menghadirkan Dr. Abdurrazaq al-Muqry, Ustadz Abdul Hayy Yusuf dan Syeikh Murad al-Ya’qubiy.

Read 83 times