Selasa, 03 Oktober 2017 16:17

Shalahuddin Sang Penakluk Al-Quds

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Penaklukkan Shalahuddin di Al-Quds terjadi pada 2 Oktober 1186 bertepatan dengan 27 Rajab 583 H. Dalam konteks ini, bulan Rajab menjadi simbol bulan penaklukan Al-Quds. Isyarat pembebasan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha terekam kuat lewat peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang terjadi pada tanggal yang sama, dan pembebasan Umar terhadap Al-Quds juga terjadi pada bulan yang sama. Penaklukan Shalahuddin merupakan diantara rangkaian perjuangan yang telah dilakukan para pendahulunya. Para pendahulu beliau berkontribusi besar dalam meretas jalan kemenangan. Membangun ikatan batin Umat terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha merupakan diantara kontribusi besar para pendahulu Shalahuddin.

Mimbar yang telah disiapkan oleh Nuruddin Zanki, pendahulu Shalahuddin menjadi simbol perjuangan untuk penaklukkan Masjid Al-Aqsha. Mimbar tersebut memberi pesan kuat dalam benak dan pikiran Umat Islam tentang persiapan dan amanah penaklukan Masjid Al-Aqsha. Persis seperti pesan yang dipahami para Sahabat saat Rasulullah singgah di Masjid Al-Aqsha yang saat itu berada dalam kekuasaan bangsa Yunani dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa itu mengikat kuat batin para Sahabat dengan Masjid Al-Aqsha. Walhasil upaya pembebasan Al-Aqsha dijalankan selanjutnya oleh Abu Bakar Ashiddiq, dan penaklukan baru terwujud pada masa Umar bin Khattab.

Penaklukkan Shalahuddin di Al-Quds diawali dengan langkah perbaikan dan pengokohan aqidah Umat. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam menegaskan fakta bahwa kokohnya iman dan akidah menjadi modal utama bagi kemenangan. Mendirikan sekolah-sekolah yang bermazhab ahlus sunnah wal jama’ah menjadi diantara prioritas yang dilakukan Shalahuddinpada tahapan ini. Pengaruh kekuasaan Daulah Fathimiyah yang berhaluan syi’ah di Mesir berefek besar terhadap rusaknya aqidah Umat. Fathimiyah diperangi Shalahuddin hingga ke akarnya. Hal itu merupakan langkah antisipatif dalam strategi penaklukan Al-Quds, karena rusaknya aqidah Fathimiyah membuka potensi terjadinya konspirasi antara tentara Salibis dan Fathimiyah dalam menghadapi kaum Muslimin.

Langkah selanjutnya yang dilakukan Shalahuddin adalah menyatukan wilayah dan kekuasaan Umat Islam di sekitar Al-Quds, dengan begitu barisan Kaum Muslimin menjadi kuat dan solid. Soliditas dan persatuan Umat Islam sangat dibutuhkan, melihat besarnya pasukan Salibis yang terhimpun dari seluruh Negara Eroapa saat itu. Langkah tersebut mutlak dilakukan meski banyak rintangan yang menghadang Shalahuddin. Dari kesulitan dengan sikap Gubernur Aleppo (Halb) yang tidak mau membukakan pintu wilayahnya, hingga adanya percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Betapa besar upaya yang beliau lakukan untuk menyatukan Umat Islam.

Di medan perang, terjadi banyak pertempuran antara tentara Salibis dan pasukan Muslimin. Pasukan Muslimin lebih banyak memenangkan pertempuran, diantara yang populer adalah pertempuran di Hittin yang kemudian diikuti dengan penaklukan Al-Quds.

Upaya pembebasan Al-Quds diselingi peristiwa gencatan senjata antara Shalahuddin dan Arnat, seorang pemimpin salib wilayah Karak. Salah satu poin dalam gencatan senjata tersebut adalah diperbolehkannya kafilah Islam untuk beraktivitas melakukan perjalanan antara negeri Mesir dan Syam tanpa hambatan. Tapi poin ini dikhianati oleh Arnat. Mereka menghadang kafilah kaum muslimin, menyita semua barang dan menangkap para pemudanya. Mereka menghina kaum muslimin dan Nabi Muhammad Saw.

Maka, Shalahuddin kembali menyiapkan pasukannya. Usai bermusyawarah dan mengambil kata sepakat, mereka menghadapi pasukan Salibis. Dengan izin Allah dan melalui rangkaian upaya para pejuang, kemenangan besar berpihak kepada Umat Islam.(Ahmad  Yani)

Read 44 times