Kamis, 28 September 2017 13:00

Ekspedisi Historis Kota Kudus

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Dalam sejarah dakwah Islam di nusantara, kita mengenal istilah walisongo. Walisongo adalah sembilan orang wali yang dikirim oleh Kesultanan Turki Utsmani ke tanah Jawa secara periodik. Dimulai pada tahun 1404 M hingga 1569 H (abad 15-16 Masehi), dalam enam periode.

Rujukan sumber sejarah dakwah Islam di Indonesia sulit dicari karena tidak berada di tanah air. Indonesia pernah dijajah oleh pihak asing selama berabad-abad, sehingga rakyat terbodohi hingga beberapa generasi. Beberapa sumber kisah tentang walisongo ada pada Babad Tanah Jawi. Konon, babad ini disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda pada tahun 1941.  Selain babad, kisah walisongo juga bisa didapat dari manuskrip kuno yang berada di Museum Istana Turki, Istanbul dan Koprah Ferrara, Italia yang kini tersimpan di Museum Nasional Leiden.

Secara historis, keberadaan walisongo menandakan Nusantara (Indonesia) memiliki hubungan erat dengan kesultanan Turki Utsmani. Salah seorang wali yang diutus bernama Syeikh Ja’far Shodiq yang berasal dari Palestina. Syeikh Ja’far Shodiq dikenal dengan nama Sunan Kudus. Dinamakan Sunan Kudus karena syeikh Ja’far Shodiq ditugaskan di salah satu daerah pada Kesultanan Demak. Daerah itu dinamakan dengan Kudus. Penamaan Kudus sama dengan nama kota al-Quds di Palestina. Masjid tempat beliau mengajarkan dan mengembangkan ajaran Islam yang berada di dalam kota juga bernama masjid al-Aqsha, sesuai dengan nama masjid yang ada di kota al-Quds, Palestina. Sisi Utara dari kota Kudus terdapat gunung, yang dinamakan dengan gunung Muria. Nama Muria juga merupakan nama gunung atau lembah tempat masjid al-Aqsha di Palestina berada.

Kesamaan tiga nama ini (kota, masjid dan gunung) menandakan adanya hubungan yang erat. Bisa jadi hubungan ini berdasarkan latar belakang pelaku sejarah, yaitu Sunan Kudus berasal dari Palestina. Atau juga ingin mengambil tabarruk (keberkahan) nama. Karena ketiga nama tersebut berada di dalam satu wilayah.

Rupanya hubungan tersebut tidak terputus dan terus berlanjut hingga kini. Tercatat, bahwa simbol kemenangan masjid al-Aqsha di Palestina berupa mimbar Nuruddin Zanky. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memenangi pertempuran melawan tentara salib dan dapat menguasai Al-Quds pada tahun 1187, ia menginstruksikan peletakkan mimbar yang telah dibangun sebelumnya di masjid al-aqsha.

Dengan sebab kelemahan umat Islam di dunia, mimbar kemenangan ini berhasil dibakar pada tahun 1969 oleh ekstremis zionis Australia. Sehingga antara tahun 1969 hingga 2007 terdapat mimbar sementara yang terbuat dari besi. Mimbar sementara yang terbuat dari besi kini sudah dihancurkan. Sejak 2007, mimbar baru yang mirip dengan mimbar aslinya, diletakkan pada posisinya. Arsitek mimbar baru ini salah satunya adalah orang Indonesia.

Informasi terkait arsitek mimbar masjid al-aqsha ini baru diketahui oleh para aktivis Palestina di Indonesia pada bulan Ramadhan lalu. Relawati dari Adara Relief International mencoba untuk menelusuri lebih lanjut hingga ke kota Jepara. Didapatkanlah orang tersebut. Namanya Abdullah Muthalib, biasa dipanggil Pak Thalib.

Setelah Adara melakukan ekspedisi, giliran Aspac for Palestine mengikuti langkah Adara. Akhir pekan lalu, tepatnya pada hari Ahad hingga Senin, 24 - 25 September 2017, tim ekspedisi historis dari Aspac for Palestine melakukan perjalanan bersejarah ke kota Kudus dan Jepara. Tujuannya adalah untuk menguatkan informasi dan kajian yang selama ini dipelajari dan dikaji. Semoga ekspedisi historis ini mendapatkan keberkahan dari Allah. (Salman Alfarisy)

Read 28 times