Kamis, 03 Agustus 2017 17:08

Makna Kemenangan Masjid Al-Aqsha

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Setelah berlangsung selama 12 hari menghadapi beragam aksi ancaman dan penodaan Zionis Israel di Masjid Al-Aqsha, aksi dan keteguhan warga Palestina terkhusus yang tinggal di Al-Quds membuat Zionis Israel menyerah. Tanpa support riil dari sebagian besar Negara Arab yang menganut normalisasi dengan Israel, warga Palestina mampu membuat Zionis Israel mundur. Al-Aqsha kembali dibuka, metal detector dicabut, dan berbondong-bondong Kaum Muslimin Palestina memasuki Masjid Al-Aqsha saat kemenangan tiba.

Zionis Israel berupaya agar normalisasi yang selama ini mereka lakukan dengan Negara-negara Arab dan instabilitas yang terjadi di kawasan, mampu memuluskan penguasaan terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Sehingga Zionis Israel hanya berhadapan dengan rakyat Palestina yang sangat terbatas sumber daya materi tanpa dukungan dari Negara-negara Arab. Sebagai diantara upaya lokasilasi perseteruan; hanya dengan rakyat Palestina, dan menjauhkan campur tangan Negara lain dalam menghadapi penjajah Israel.

‘Pengkondisian’ tersebut membuat Zionis Israel lebih percaya diri untuk menaklukkan Masjid Al-Aqsha. Namun kemudian, setelah berlangsung sekurangnya sepuluh hari dalam mengepung Masjid Al-Aqsha, Israel berpikir ulang untuk melanjutkan aksi, karena disinyalir adanya skenario terjadi intifadhah jika aksi penodaan terhadap Masjid Al-Aqsha terus berlanjut, seperti yang disampaikan oleh Badan Intelejen Domestik Israel, Shabak.

Di tengah berlangsungnya penodaan Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha, letupan-letupan intifadhah berupa aksi-aksi heroik terjadi, seperti penikaman terhadap 4 orang Yahudi di pemukiman Israel Helmets pada Jum’at malam, 21/7, yang menyebabkan 3 orang tewas dan 1 orang dibiarkan dalam kondisi terluka parah. Israel bahkan menyebut aksi tersebut unik dalam memilih metode dan target. Tanpa mengecilkan peran Kaum Muslimin di berbagai Negara, keteguhan dan aksi perlawanan warga Palestina membuat Israel menyerah.

Meski proyek Zionis untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsha masih berlanjut dan menanti respon besar Umat Islam, setidaknya di akhir penggalan tragedi terkini, kemenangan berpihak kepada rakyat Palestina. Kemenangan tersebut semakin bermakna, karena ia menyimpan isyarat-isyarat kemenangan selanjutnya:

Pertama, generasi muda menjadi asset utama sekaligus darah segar yang mengalir deras membawa inspirasi dan semangat perjuangan warga Palestina. Seperti beragam bentuk aksi di wilayah Palestina maupun di Negara lain yang memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan Israel untuk menghentikan aksi terkini mereka terhadap Masjid Al-Aqsha. Zionis Israel memahami betapa pemuda menjadi elan vital perjuangan Palestina. Maka, dijalankan kebijakan pelarangan masuk ke Masjid Al-Aqsha terhadap pemuda Palestina di bawah usia 50 tahun, agar mereka ‘terputus’ dengan spirit Al-Aqsha.

Kedua, masalah Palestina kembali muncul ke permukaan dan mampu memobilisasi potensi Umat. Tragedi terhadap Masjid Al-Aqsha mampu melahirkan persatuan dan menepis fanatisme yang memecah belah Umat. Maka, Kaum Muslimin Palestina bersatu padu melawan penodaan Masjid Al-Aqsha, lintas faksi, partai dan organisasi. Permasalahan Masjid Al-Aqsha adalah motif ideologis bagi Umat Islam yang mampu menghadirkan persatuan, sinergitas potensi dan soliditas Umat menuju kemenangan Al-Aqsha dan Palestina.

Ketiga, Pasca kemenangan Al-Aqsha, ke depan adalah masa-masa sulit bagi Israel. Pertahanan dan keamanan Israel semakin rapuh menghadapi beragam aksi warga Palestina.

Maka, kemenangan demi kemenangan akan berpihak kepada Palestina. Kemenangan Al-Aqsha saat ini merupakan titik tolak kemenangan dalam skala yang lebih besar, diawali dengan kemenangan di Al-Quds, berlanjut dengan kemenangan besar lainnya, sebagaimana diungkap ‘Abidat, seorang analis masalah Palestina dalam laman safa.ps. (Ahmad Yani)

Read 35 times