Senin, 22 Mei 2017 11:21

69 Tahun Derita Nakbah Palestina

Written by 
Rate this item
(2 votes)

Setiap memasuki tanggal 15 Mei, rakyat Palestina selalu diingatkan dengan luka lama mereka yang kini masih menganga. Tepatnya 69 tahun silam, yaitu 15 Mei 1948, lebih dari 750.000 penduduk sebuah bangsa, harus terusir dari tanah kelahirannya. Mereka tak lagi menyandang nama penduduk Palestina tapi disebut sebagai pengungsi Palestina, dan status itu masih melekat hingga sekarang.

Nakbah mengingatkan akan kepedihan yang dialami orang-orang Palestina masa itu, mereka terdiam melihat rumahnya dirobohkan, hartanya dirampas, kebun dan ladang mereka hangus dibinasakan. Bahkan saudara mereka pun menjadi korban kekejian penjajah Israel. Mereka dipaksa hengkang dari tanah warisan nenek moyang mereka.

Dilihat dari sisi sejarah, Nakbah telah menyebabakan tiga persitiwa besar, pertama, dicabutnya nama Palestina secara geografis dan politik, kedua, berdirinya negara Israel, dan ketiga, mulai meletusnya perang pertama Arab-Israel.

Puncak dari tragedi Palestina sendiri bisa dikatakan berawal dari Nakbah. Karena pasukan Zionis Israel pada tahun itu mencaplok 80% tanah Palestina. Lalu dengan semena-mena mereka mendeklarasikan berdirinya negara etnis Yahudi bernama Israel. Melakukan pengosongan terhadap tanah Palestina, hingga memaksa warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza, Tepi Barat dan ke negara tetangga seperti Yordania, Irak, Suriah dan Lebanon.

Sebenarnya inilah yang disebut kejahatan kemanusiaan. Bahkan termasukan kejahatan perang. Karena ada ratusan ribu nyawa warga Palestina yang melayang di hari berdarah itu. Sebanyak 67% dari warga Palestina di tahun 1948 dipaksa menjadi pengungsi, mereka hidup secara tidak manusiawi di kamp-kamp pengungsian.

Bahkan, bukan saja mereka hidup sengsara selama puluhan tahun, hak mereka untuk kembali ke tanah kelahirannya pun dicabut, hidup mereka benar-benar dibuat tanpa harapan. Dunia seharusnya memperhatikan nasib para pengungsi Palestina, yang kini jumlahnya mencapai 5.900.000 jiwa, tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Tercatat ada 5.594.000 jiwa pengungsi Palestina yang bertahan hidup di negara-negara Arab, dan sisanya di negara non-Arab. Di negara-negara Arab, paling banyak mereka mengungsi ke Yordania, jumlahnya sekitar 3.000.000 jiwa. Sedangkan di luar jazirah Arab paling banyak mereka mengungsi ke Chili, atau sekitar 400.000 jiwa pengungsi.

Peristiwa Nakbah memang tidak bisa dilepaskan dari akar masalahnya yaitu deklarasi Bailfour. Mungkin benar yang dikatakan Kamel Hawwash, seorang ilmuwan Palestina yang bermukim di Inggris. Ia katakan, ini semua dosa Inggris, karena menjadi pendukung utama deklarasi Bailfour pada tahun 1917, yang menjadi awal misi pembersihan etnis Palestina dan cikal bakal berdirinya negara Zionis Israel.

Deklarasi Bailfour tertanggal 2 November 1917 itu merupakan surat dari Menlu Inggris, Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis. Inti dari surat tersebut adalah pemerintah Inggris mendukung penuh rencana Zionis yang akan membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina.

Pada tahun 2015 lalu, parlemen Inggris dikabarkan mengakui kedaulatan negara Palestina. Awalnya dunia mengira Inggris menyadari kesalahannya terhadap Palestina, dan menebus dosanya melalui pengakuan ini. Tapi belakangan, beberapa waktu lalu, Inggris justru memperingati 100 tahun perjanjian Bailfour. Lalu dengan tegas menolak meminta maaf atas peran utamanya di dalam perjanjain lalim tersebut.

Memperingati hari Nakbah seyogyanya bukan saja menangisi kepedihan para pengungsi Palestina, yang tahun ini genap 69 tahun terusir dari negerinya. Tapi bagaimana kita berpartisipasi memperjuangkan hak-hak mereka, agar dapat kembali hidup di tanah airnya, layaknya manusia merdeka. (Muhammad Syarief)

Read 72 times