Genosida Sabra Shatila

Dunia tidak akan pernah melupakan tragedipembantaian yang terjadi pada bulan September 1982 di Sabra dan kamp pengungsi di Shatila yang merenggut ribuan nyawa. Tragedi tersebut dikenal dengan sebutan pembantaian sabra shatila. Pembantaian ini bukanlah yang pertama dan terakhir dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Pembantaian yang tak kalah sengit juga mereka lakukan di Jalur Gaza, Deir Yasin, Qibya, Tantour, Jenin, Al-Quds, Hebron dan tempat lainnya di Palestina. Meski berbagai dalih dikemukakan sebagai skenario aksi kejam tersebut, seperti melawan pejuang Palestina, namun sebagain besar korban dari pembantaian tersebut adalah anak-anak, wanita, orang tua dan rakyat sipil. Dan saat ini, setelah fakta tersebut berulang terjadi, masyarakat Dunia tidak lagi bisa dibohongi dengan dalih dan skenario palsu tersebut.

 

Sabra adalah sebuah pemukiman pengungsidi pinggiran selatan Beirut Barat, Libanon, yang bersebelahan dengan kamp pengungsi UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina), danShatila merupakan wilayah yang dibangun untuk para pengungsi Palestina padatahun1949. Selama bertahun-tahun penduduk dari kedua wilayah tersebutsaling membaur, sehingga tempat pengungsian mereka selanjutnya dikenal dengan kamp Sabra-Shatila.

 

Duka 32 tahun yang lalu pada bulan September masih membekas dan selalu membawa memori rakyat Palestina serta Dunia kepada tragedi pembantaian saudara-saudara mereka di pengungsian Sabra dan Shatila, perbatasan Palestina dan Libanon. Pembantaianrakyat Palestina yang terjadi dalam rentang waktu tiga hari,16 hingga 18 september 1982 dilakukan dengan sangat rapi dan terencana. Walupun hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, korban yang terbunuh dalam peristiwa itu diperkirakan mencapai sekitar 3500 jiwa, bahkan menurut sumber lain korban mencapai 8000 orang.

 

Dalam rentan sejarah penjajahan Zionis Yahudi di Palestina pembantaian tersebut merupakan pembantaian yang sangat keji yang terjadi di Palestina, dan bisa dikategorikan sebagai genosida terhadap rakyat palestina. Data korban semakin menegaskan kekejaman genosida ini. Hampir 99% korban pembantaian terdiri dari anak kecil, kaum wanita, orang-orang lanjut usia dan masyarakat sipil yang berada dalam pengungsian. Mereka tidak terindikasi melakukan kejahatan dan terlibat dalam perseteruan.

 

Sejak Juni 1982, sebenarnya invasi Israel terhadap Libanon memiliki target utama untuk menyerang para pejuang Palestina dan sekutunya. Pemerintah Israel hanya mengizinkan pasukan Israel masuk hingga 40 km ke wilayah Lebanon dari zona aman (dekat perbatasan), tapi Ariel Sharon melanggar instruksi tersebut dan memerintahkan pasukannya maju hingga ke Beirut.

Kondisi pertempuran yang begitu sengit antara para pejuang Palestina dan Israel mendorong pemerintah Lebanon untuk mengarahkan Yasser Arafat dan para pejuang Palestina keluar dari Negara tersebut. Sekitar 20 ribu pejuang palestina selanjutnya berlayar ke Tunisia dengan diawasi diawasi tentara Amerika dan PBB.

Pada tanggal 14 September 1982 Bashir Gemayel yang baru tiga pekan dilantik sebagai Presiden Lebanon, mengadakan pertemuan di markas besar partai Phalangist. Bashir Gemayel adalah putra pendiri Partai Phalangist, Piere Gemayel. Ketika sedang berpidato, bom meledak di markas itu hingga menewaskan Bashir Gemayel dan 25 orang pengikutnya. Elie Hobeika (pemimpin Phalangist) pada saat itu, begitu yakin bahwa pelaku pembunuhan Bashir adalah bagian dari sisa-sisa pejuang Palestina. Menurut Elie, sebagian pejuang Palestina masih bersembunyi di kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Tuduhan tersebut bertemu dengan kepentingan israel untuk melumpuhkan pejuang dan melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina. Terbukti tuduhan tersebut salah total, setelah diketahui kemudian bahwa pembunuh Presiden Bashir Gamayel adalah seorang Kristen Libanon Falangis, bernama Habib Al-Shartouni yang direkrut oleh Syiria.

Berdasarkan tuduhan salah tersebut, dendam Phalangist dan misi kejam Israel bertemu. Pada tanggal 16-18 September 1982 pasukan Phalangist bekerja sama dengan zionis israel memburu pejuang palestina yang diyakini masih tersisa di kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Mereka menteror dan membantai para pengungsi Palestina.

Kekejaman yang terjadi di Sabra dan Shatila mengguncang dunia dan menjadi berita utama di berbagai media massa secara Internasional dalam kurun waktu lama. Sekitar 300 ribu warga Israel melakukan demonstrasi menekan Pemerintah untuk menyelidiki keterlibatan Ariel Sharon dan tentara Israel dalam peristiwa itu. Komite khusus yang dibentuk oleh Israel (Kahan) akhirnya menyatakan Ariel Sharon bersalah, karena mengizinkan Phalangist masuk ke dalam kamp hingga terjadilah peristiwa pembantaian tersebut. Namun, tidak hanya itu, karena julukan Sharon sebagai penjagal Sabra Shatila karena Ariel Sharon sebagai penjahat perang, ia adalah diantara sosok yang mendesain skenario pembantaian Sabra Shatila, membuka jalan aksi dengan mengepung kamp pengungsi serta menutupi pemberitaan peristiwa berdarah tersebut. (mhmmd).

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *