KANG ABIK: FILM, NURANI KITA DAN REALITAS PALESTINA

Jika ada sejarawan yang mengatakan bahwa Indonesia berhutang budi pada Palestina, maka itu adalah benar.

Ketika Ir, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945, dunia belum mengakuinya. H. Agus Salim pun menggalang dukungan ke negara-negara di Timur Tengah.  Seketika dukungan pun datang dari  dua negara yaitu Mesir dan Palestina.

Mendengar penjelasan mengenai kemerdekaan Indonesia, pemerintah Mesir langsung mengirim utusannya yang bernama Mohamad Abdul Mun’im, yang berada di Bombay untuk pergi ke Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota RI sementara. Utusan dari Mesir itu mempertaruhkan nyawanya menerobos blokade Belanda untuk menyampaikan dokumen resmi pemerintah Mesir dalam mengakui kemerdekaan RI. Inilah pertama kalinya dalam sejarah, utusan resmi suatu negara mempertaruhkan nyawanya untuk menyampaikan dukungan kemerdekaan. Dan inilah utusan pertama negara lain yang mendukung kemerdekaan RI.

Jadi, bukan negara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, China, Vatikan, ataupun Italia yang pertama-tama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia.

Setelah Mesir, disusul Palestina. Bahkan ketika dukungan dari negara-negara Timur Tengah dan yang lainnya atas proklamasi kemerdekaan Indonesia masih sepi, tokoh ternama Palestina, Al Mufti Syekh Mohammad Amin Al Husain membantu diplomasi dengan berkampanye di Jazirah Arab agar mendukung kemerdekaan Indonesia. Tokoh lain, Muhammad Ali Tohir, saudagar asal Palestina, memberikan sumbangan materiil kepada pemerintah Indonesia yang baru berdiri.

Sejarawan ada yang berpendapat, justru Palestina lebih dahulu mengakui kemerdekaan RI daripada Mesir. Saat itu, ketika tak ada satu negara di dunia pun yang secara berani dan tegas mengakui Kemerdekaan RI, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Palestina, adalah tokoh dunia yang pertama memberikan pengakuan atas Kemerdekaan RI. Tak hanya itu, beliau juga mendesak negara-negara Timur Tengah untuk mengekui Kemerdekaan Indonesia sehingga berhasil meyakinkan Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yaman, Arab Saudi dan Afghanistan.

Intinya, Palestina dan Mesir atau Mesir dan Palestina adalah dua negara yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia, ketika dunia belum mengakuinya.

Maka wajar, karena hutang budi inilah, Ir. Soekarno merasa harus tiada putus mendukung kemerdekaan Palestina yang dijajah Penjajah Zionis Israel sejak tahun 1948. Apalagi UUD 1945 mengamanatkan, bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Indonesia sudah merdeka, sementara Palestina masih terjajah dan kini mengalami masa-masa yang sangat sulit sama seperti saat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Bahkan Palestina jauh lebih sulit dan menderita.

Ketika Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya menghadapi kolonialis Belanda yang datang lagi membonceng sekutu, Belanda mengerahkan segala upaya untuk menggilas para pejuang Indonesia. Termasuk pembusukan melalui media saat itu. Ke mana-mana Belanda menyebut para pejuang Indonesia – termasuk Ir Soekarno, Hatta, dan Jenderal Soedirman- sebagai ektremis, perampok, penjahat dan teroris. Yang paling terkenal adalah penyebutan ektremis dan teroris. Belanda ingin mengimage-kan kepada dunia bahwa Belanda-lah orang-orang baik dan penguasa yang sah atas Hindia Belanda – sebutan Belanda untuk Indonesia saat itu-, sedangkan Soekarno dan para pejuang Indonesia adalah para pengacau, pemberontak, ektremis dan penyebar teror.

Pejuang dan rakyat Palestina, saat ini mengalami hal yang sama, bahkan lebih memilukan.

Israel dengan didukung negara-negara sekutunya dengan sangat massif dan teratur rapi mencitrakan kepada dunia setiap detik dan menit bahwa rakyat Palestina dan pejuang Palestina adalah para teroris yang berbahaya. Seorang anak kecil Palestina yang membawa batu di tangan dan berhadapan dengan pasukan panser dan tank Israel, dianggap Palestina. Anak kecil itu ancaman sangat berbahaya bagi negara Israel. Anak kecil itulah teroris, sementara tentara Israel yang bersenjata lengkap adalah yang tertindas, maka sah jika anak kecil itu diberondong ratusan peluru. Dunia dipaksa untuk mengamini segala tindakan Israel.

Dengan dukungan kekuatan media raksasa dunia, rakyat Palestina yang tertindas berpuluh tahun dicitrakan sebagai ‘penyakit’ yang sah untuk dienyahkan dengan pelbagai macam cara. Segala macam senjata kimia dan fosfor digunakan untuk melumat penduduk Palestina, termasuk anak-anak. Dan itu diopinikan sebagai tindakan sah dan legal , sebab penduduk Palestina, termasuk anak-anak dan orang-orang lanjut usia, dianggap teroris yang berbahaya.

 Tidak sedikit film Hollywood yang mendukung skenario Zionis Israel itu. Puluhan bahkan ratusan film produk Hollywood yang secara terang-terangan, alur cerita dan temanya diarahkan untuk mengopinikan pejuang Palestina, atau orang Arab yang mendukung penjuang Palestina adalah teroris dan penjahat berbahaya. Tidak sedikit pesan itu yang diselipkan secara halus. Sehingga dunia dipaksa, dan sebagian terpaksa mengamini, bahwa apapun yang terjadi terkait konflik Palestina-Israel, maka Palestina harus disalahkan dan Israel harus dibenarkan. Palestina-lah yang teroris, dan sebaliknya Israel yang benar. Israel-lah yang dianggap pemilik sah ‘tanah itu’ sehingga apapun tindakannya legal dan sah.

Maka, bulldozer Israel boleh meruntuhkan rumah-rumah penduduk Palestina, kapan saja semaunya. Peluru Israel boleh menerjang tubuh orang-orang Palestina semau Israel. Dan sekutu terdekat Israel, yaitu Amerika, akan segera menciptakan bahasa-bahasa diplomatis untuk membuat pengesahan tindakan brutal itu. Misalnya sebagai tindakan menjaga keamanan, mempertahankan diri dan lain sebagainya. Lalu jaringan media yang dikuasai zionis Israel akan melakukan ‘brain washing’ secara halus atau pun terang-terangan. Dan hasilnya, kini, tidak sedikit masyarakat dunia,bahkan di kalangan umat Islam juga, yang sinis pada perjuangan Palestina, dan mulai condong pada kelaliman Israel. Terbukti, sidang PBB tidak pernah berhasil mengegolkan pengakuan tegas: Palestina boleh merdeka. Sebab dunai telah berada dalam kendali ‘brain washing’ Zionis Israel. Dan ‘brain washing’ yang ditata Zionis Israel itu paling dahsyat adalah melalui media elektronik dan film. Dengan film Zionis Israel hendak mengkontruksi realitas yang terjadi di Palestina sesuai keinginan mereka.

Namun, kejahatan apakah selamanya bisa ditutupi? Pepatah Melayu mengatakan, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pepatah Jawa mengatakan, becik ketitik olo kethoro. Yang jahat akan tampak dan yang baik akhirnya akan ketahuan.

Nurani terdalam manusia, siapapun dia, dari mana pun dia berasal dan apapun agamanya, selalu berpihak kepada kebaikan dan kebenaran. Itulah yang terjadi, ketika Zionis Israel dengan seluruh kekuatannya berusaha melakukan ‘brain washing’ masyarakat, tetapi tetap saja gagal mencuci nurani. Nurani tetap bicara apa adanya. Nurani tetap berpihak pada kebenaran. Maka muncullah orang-orang yang tersengat nuraninya melihat apa yang terjadi di Palestina, dan menyuarakan pada dunia. Gelombang dukungan untuk Palestina yang tiada hentinya ditindas Zionis Israel terus mengalir. Di antara mereka ada yang mendukung melalui film.

Film memiliki kekuatan sebagai alat penerangan, sekaligus sebagai alat kebudayaan, bahkan film bisa menjadi alat untuk advokasi. Tragedi memilukan yang menimpa rakyat Palestina telah mengundang banyak sineas bergerak melakukan advokasi dengan film. Terutama melalui film documenter atau semi documenter yang memotret dengan jujur apa yang terjadi di Palestina, termasuk membongkar segala yang ditutup-tutupi dan disembunyikan secara jahat oleh Zionis Israel.

Rakyat Indonesia yang berhutang budi pada bangsa Palestina sudah semestinya mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina saat ini. Sebab masih banyak rakyat Indonesia yang abai atas apa yang terjadi pada bangsa Palestina.

Maka sangat tepat sekali yang dilakukan oleh Asia Pasific Community for Palestine, yang bekerjasama dengan Viva Palestine Malaysia menggelar Jakarta Palestine Film Festival, yang direncanakan akan diadakan 16 Desember 2012 di Jakarta.

Dengan materi film-film berkualitas dan berkelas dunia, Jakarta Palestine Film Festival , akan mampu memberikan andil mengedukasi masyarakat Indonesia untuk peduli pada penderitaan bangsa lain yang masih dalam penjajahan, Palestina khususnya.

Ketua Asia Pasific Community for Palestine, Dr. Saiful Bahri, M.A. menjelaskan setidaknya akan diputar 5 film tentang Palestina dalam Jakarta Palestine Film Festival, yaitu Tears of Gaza, Home Front, Budrus, Betlehem, dan Valley of The Wolves: Palestine.

Saya sangat bahagia jika film semisal Tears of Gaza bisa ditonton oleh sebanyak-banyaknya masyarakat dunia, dan tentu masyarakat Indonesia khususnya. Film yang dibesut oleh Sutradara Norwegia ini berbicara dengan sangat jujur dan apa adanya tentang apa yang terjadi di Palestina selama Gaza digempur Israel 2008-2009.

Tears of Gaza berkisah dari sudut pandang seorang anak Palestina. Sutradara Norwegia Vibeke Løkkeberg langsung bekerjasama dengan Penduduk Gaza mendokumentasikan keputusasaan dan ketidakmampuan penduduk palestina selama pengeboman Israel ke gaza pada musim dingin 2008-2009.

Film ini berdasar pada kesan yang diambil oleh orang-orang Gaza sendiri selama perang dilanjutkan, dengan tambahan dari beberapa wartawan asing yang mengambil dokumen langsung selama perang berlangsung. Løkkeberg tidak berada di Gaza selama perang, karena tidak diijinkan masuk kesana.

Film ini mendapatkan reaksi keras dari Israel dan sekutunya, karena film ini dianggap seperti film propaganda untuk Palestina. Alasannya bahwa film ini dibuat untuk menyerang Israel dengan film ini dibuat maka memperlihatkan bahwa Israel adalah negara dengan militer paling brutal se-dunia.

Namun fakta dan kesaksian nyata tidak bisa disangkal bahwa selama menggempur Gaza itu Israel menggunakan fosfor putih untuk menyerang wilayah penduduk Palestina, termasuk sekolah PBB yang digunakan warga sebagai rumah pengungsian. Dokumentari film Tears of Gaza menggunakan gambar-gambar asli yang terjadi di Gaza menunjukkan realitas yang terjadi di sana, termasuk kumpulan anak dibawah 3 tahun dengan bekas tembakan di dahi , ini dapat dilihat pada 1:03:57.

Dengan, Sutradara Norwegia Vibeke Løkkeberg, telah melakukan advokasi dan penjelasan penting atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Meskipun dia bukan orang Palestina dan bukan orang Muslim, tapi nuraninya tetap berbicara.

Tears of Gaza dan film berkelas lainnya bisa disaksikan dalam Jakarta Palestine Film Festival.  Secara pribadi, saya berharap festival film Palestina ini tidak hanya diadakan di Jakarta, sudah semestinya di adakan di semua kota di Indonesia.

Selamat menggugah nurani.

                                                                             Kampus UNIMAS, Kuching, 25 Nopember 2012

*Ditulis sebagai pengantar singkat untuk Jakarta Palestine Film Festival oleh Habiburrahman El Shirazy, Sastrawan, Sutradara Film, Peraih Penghargaan SASTRA NUSANTARA, Wakil Ketua Komisi Budaya MUI Pusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *