Bersatunya Hamas dan Fatah

Hasil rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas yang dilaksanakan Mesir pada hari Kamis 12 Oktober kemarin telah meningkatkan harapan dunia bahwa setelah satu dekade perselisihan sengit antara faksi-faksi Palestina yang bersaing, akhirnya bisa berakhir.

Tentunya dengan melihat selama ini setelah berkali-kali upaya penyatuan Hamas dan Fatah dilakukan dan gagal, rekonsiliasi ini harus sangat diapresiasi. Kita melihat bahwa begitu banyak tekanan yang terjadi kepada kedua belah pihak.

Hasil rekonsiliasi kedua belah pihak ini hanya mencapai kesepakatan parsial, menangani masalah sipil dan administratif. Masalah yang jauh lebih diperdebatkan seperti seperti pemilihan nasional, reformasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan status sayap bersenjata Hamas, disisihkan untuk dipertimbangkan pada pertemuan berikutnya pada akhir November 2017.

Adapun kesepakatan yang dihasilkan dalam rekonsiliasi ini adalah :

1.    Pengamanan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir.yang akan dilakukan oleh pemerintah bersama Palestina dengan berkoordinasi dengan EU Border Assistance Mission (EUBAM).

2.    Pengelolaan administrasi di Gaza yang saat ini dikelola oleh Hamas akan diserahkan kepada pemerintah bersama Palestina pada 1` Desember 2017,

3.    Pemerintah bersama Palestina akan melakukan pemilihan presiden dan legislative setahun sejak kesepakatan rekonsilisasi ditandatangani.

Yang paling penting, dengan kesepakatan yang dicapai adalah mengizinkan pasukan keamanan di bawah kendali Abbas untuk mengawasi penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir. Itu akan mendorong Mesir untuk mengakhiri penutupan perbatasan, yang memungkinkan barang dan orang melewati dan mengurangi krisis kemanusiaan di Gaza.

Pasukan kepolisian Gaza akan dibangun kembali untuk mencakup 3.000 petugas Ototritas Palestina, dan pejabat Hamas di Gaza harus diintegrasikan ke dalam kementerian Ototritas Palestina. Sanksi yang diberlakukan oleh Otoritas Palestina dengan membatasi ketat masuknya bahan bakar, memotong pasokan listrik Gaza sampai beberapa jam sehari, akan berakhir.

 

Masa Depan Politik Palestina

Hasil rekonsiliasi ini tentunya menjadi angin segar dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan dan lingkungan yang terjadi di Gaza. Bahkan Israel dan Mesir pun sudah menyatakan penerimaannya.

Rekonsiliasi adalah sesuatu yang setiap orang inginkan sekarang. Otoritas Palestina  ingin memperpanjang yurisdiksinya ke Gaza, Hamas ingin terbebas dari beban pemerintahan sehari-hari di Gaza. Donor internasional ingin dapat mengarahkan uang ke Gaza lagi.

Namun, isu rekonsiliasi yang lebih luas sepertinya akan lebih sulit dipecahkan.

Tapi jalan terjal akan menghadang ketika rekonsiliasi akan masuk dalam masalah politik dan keamanan. Israel berkepentingan agar salah satu agenda rekonsiliasi adalah pelucutan senjata yang dimiliki Hamas. Mesir pun berkepentingan dalam hal ini agar, tidak terjadi perang lagi antara Israel dan Hamas. Yang tentunya pasti akan ditolak oleh Hamas, melihat dari sejarah perjuangan Hamas selama ini dalam menghadapi Israel.

Ratusan pejabat Otoritas Palestina dari Tepi Barat telah tiba di Gaza pekan lalu untuk mulai membentuk sebuah pemerintahan konsensus nasional dalam rangka persiapan menuju pemilu nasional. Sulit rasanya untuk melihat bagaimana pemilihan nasional dapat dilakukan, melihat dari kemenangan Hamas 11 tahun yang lalu yang tidak diakui oleh Fatah dan menyebabkan perang dan tragedi kemanusiaan. (Iskandar Samaullah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *