Awaiting Third Intifada: The Clock is Ticking

Muhammad Iqbal, SH.

 

Pada 7 Novemberlalu, bentrok kembali terjadi di sepanjang wilayah Jerusalem timur yang diokupasi oleh Israel, mengakibatkan puluhan warga Palestina menjadi korban. Peristiwa itu bukan lagi hal baru, terutama melihat dari tensi yang tak kunjung mereda sejak invasi Israel ke Gaza Juli lalu. Proses perbincangan perundingan perdamaian yang selalu dielu-elukan oleh Amerika Serikat – yang mendeklarasikan dirinya sebagai mediator perdamaian dunia – justru tidak akan berjalan lancar. Sebabnya jelas, sekutu loyal mereka –Netanyahu – semakin gencar menggerus wilayah Jerussalem Timur – dengan mendirikan kantong-kantong pemukiman penduduk Yahudi, seperti biasanya, tidak pernah menunjukkan iktikad baik mengakhiri konflik.

Tercatat dalam jangka waktu 2 bulan terakhir saja, Israel telah mengumumkan untuk mendirikan 3600 unit pemukiman di sekitar Jerusalem, semakin menggerus tanah warga Palestina. Belum lagi aksi provokasi yang dilancarkan faksi politik sayap kanan Israel yang menyerukan kegiatan beribadah di area Al-Aqsha membuat berang warga Palestina. Israel selama ini juga memberlakukan pembatasan umur kepada warga Palestina untuk memasuki wilayah Al-Aqsha. Israel melarang warga Palestina, terutama muslim, yang berumur di bawah 50 tahun untuk memasuki wilayah Al-Aqsha. Untuk pertama kalinya, sejak Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan tanah Jerusalem, Israel kembali menutup akses dan melarang umat muslim beribadah di wilayah Al-Aqsha.

Perlakuan diskriminasi tersebut tidak hanya pada wilayah suci Al-Aqsha, namun secara sekaligus mengokupasi wilayah Jerusalem dengan mendirikan dinding pemisah (Apartheid Wall) untuk membangun pemukiman-pemukiman Yahudi, yang membentang dari Jerusalem sampai tepian Laut Mati, mengusir pemukiman warga “Bedouin” (Badui Palestina) sekaligus perlahan-lahan mengobrak-abrik tanah warga Palestina.

Mari lihat ‘keseriusan’ Israel menyelesaikan proses perdamaian: seorang remaja Palestina bernama Mohammed Abu Khdair yang diculik dan dibunuh oleh kelompok garis keras Israel –  yang kemudian di-“justifikasi” sebagai tindakan balasan atas penyerangan terhadap wilayah Israel, mengawali konflik berdarah yang menimpa Gaza atas invasi yang intens dilancarkan Israel. 2000 lebih warga sipil meninggal dunia, dengan kerugian lain yang sangat tinggi, setelah menyaksikan konflik berdarah pada Juli lalu. Kemudian, sambil mengatakan “dialog”, “diplomasi” dengan Palestina untuk “menyelesaikan” konflik keduanya, Netanyahu melanjutkan pendirian pembangunan pemukiman warga Yahudi di wilayah Jerusalem.

Jawaban paling strategis untuk dilakukan terhadap warga Palestina hari ini muncul dari jalanan, bukan dari meja-meja perundingan – meski tidak dimungkiri legitimasi internasional sangat tidak bisa dilepaskan – seperti yang telah berlangsung selama ini: mendukung gerakan perlawanan, dalam bentuk apapun, terutama mengedepankan hak-hak warga Palestina (di Jerusalem), memberlakukan Statuta Roma untuk menyeret Israel atas kejahatan perang sekaligus mengakhiri kerjasama keamanan (Security Cooperation) yang selama ini dilakukan Otoritas Palestina dan Israel.

Barangkali untuk kesekian kalinya, setelah terakhir pada 9 November 1989, Dinding Berlin – yang membentang, memisahkan kota Berlin dengan seluruh atribut-atribut yang melekat: liberal dan komunis, dihancurkan untuk menandai akhir dari konfrontasi perang Dingin dan akhir dari simbol Aparteid. Dan kali ini, diawali tahun 2002 silam, dinding aparteid itu kembali berdiri tegak kokoh membentang memisahkan Israel dari Palestina, yang selayaknya dikatakan: memisahkan warga palestina dari tanah mereka, keluarga dari kerabat mereka, petani-petani dari ladang-ladang mereka, anak-anak dari sekolah-sekolah mereka dan paling penting, memisahkan warga Palestina dari tanah mereka sendiri. Dan, dinding itu kini muncul dalam “topeng” baru: demi keamanan dan perlindungan.

Hanya tinggal masalah waktu menunggu gerakan Intifada ketiga.It’s time for all of us, in Palestine and across the globe, to assert “We are all Jerusalemites.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *