Asia Pacific Forum for Jerusalem

Gerakan perlawanan sipil internasional dalam menentang penjajahan Israel di Palestina telah melahirkan berbagai organisasi dan aksi-aksi. Dalam skup Asia-Pasific, dibentuklah organisasi bernama Asia-Pasific Community (ASPAC) for Palestine, sebuah organisasi yang memayungi NGO (Non Goverment Organization) pro Kemerdekaan Palestina se-Asia-Pasific. Dalam sepak terjangnya, organisasi ini mengikut berbagai gerakan internasional. Yang baru-baru ini digulirkan adalah Global March to Jerusalem (GMJ); aksi internasional yang diikuti kurang lebih 2 juta warga sipil dunia asal 80 negara yang dilakukan pada tanggal 30 Maret 2012 kemarin.

GMJ yang cikal bakalnya digagas oleh NGO Arab dan Eropa sepakat untuk membuat aksi longmarch dari empat negara yang berbatasan dengan Palestina, yaitu Mesir, Yordania, Suriah dan Lebanon, untuk kemudian bergerak bersama menuju titik terdekat dari Jerusalem atau Al-Quds. Dimana di dalam kota Al-Quds sendiri terdapat masjid suci Al-Aqsha, kiblat pertama dan masjid suci ketiga bagi umat Islam.

ASPAC yang menjadi motor penggerak perjuangan untuk rakyat Palestina di Asia-Pasific dan sekaligus organisasi yang ambil bagian dalam aksi GMJ ini, mengadakan acara pendukung berupa Asia-Pasific Forum for Jerusalem pada hari Ahad (18/3) dengan mengangkat tema “Jerusalem After The Arab Spring”. Acara ini menghadirkan pembicara dari delegasi negara-negara anggota ASPAC, diantaranya adalah Malaysia, Thailand, Philipina, Sri Lanka dan Maladewa.

Disamping itu hadir pula Syaikh Saoud Abu Mahfudz, ketua Aliansi Internasional untuk Penyelamatan Palestina, yang juga menjadi panita pusat event Global March to Jerusalem. Beliau menjabarkan kondisi masjid suci Al-Aqsha dan proyek Yahudisasi di Al-Quds serta alasan mengapa kita sebagai masyarakat dunia terutama umat Islam harus segera bergerak bersama guna menyelamatkan Al-Aqsha, membebaskan Al-Quds dan Palestina secara keseluruhan.

Syaikh Saoud yang merupakan warga Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya dan mengungsi ke Jordania lahir di barak pengungsi, dan sudah 700 kali berusaha masuk ke Palestina dari 27 titik terdekat di perbatasan, namun semuanya itu berakhir gagal, dan beliau hingga saat ini belum pernah bisa menginjakkan kakikanya di tanah kelahiran nenek moyangnya itu.

“Masjid Aqsha dan kota suci Al-Quds diambang kehancuran dan terancam musnah karena aksi-aksi yang dilakukan rezim Zionis serta orang-orang Yahudi Israel yang ingin merampas dan menggantikan Masjid Al-Aqsa dengan sinagog mereka, mereka juga ingin menjadikan Al-Quds sebagai ibukota Zionis membersihkan umat Islam dari sana dan menghapuskan segala identitas di sana,” ujar Syaikh Saoud.

Ia mengatakan, salah satu cara yang bisa dilakukan kaum muslimin untuk menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds dari kehancuran yang dilakukan Zionis itu adalah dengan berduyun-duyun datang berkunjung ke Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds. “Jangan biarkan Al-Aqsa menangis, dan merasa ditinggalkan oleh kaum muslimin,” jelasnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel dengan menghadirkan berbagai NGO dari berbagai negara di Asia Pasific. Masing-masing mereka kemudian menyampaikan perkembangan dari perjuangan mereka dalam mengangkat issue Palestina sebagai issue bersama bagi warga masyarakat di negeri mereka.

Saleh Ahmad yang mewakili Muslim Patani, Thailand menceritakan bagaimana usaha mereka dalam mensosialisasikan permasalahan Palestina ke masyarakat Thailand. Ia menceritakan sulitnya merubah maind set masyarakat, terutama menggiring opini media agar bisa memberitakan kondisi real di Palestina.

Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun berkat kegigihan dari organisasi muslim yang ada di Thailand, negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha itu pun akhirnya bisa mengenal apa itu Palestina dan permasalahan apa sesungguhnya yang tengah terjadi di sana.

Wakil dari Kepulauan Maladewa, Ali Majid mengatakan bahwa masyarakat di negerinya di era 90-an hanya mendapatkan informasi tentang Palestina versi media saja, namun kondisi berubah setelah banyak dari NGO muslim di Maladewa yang turut dalam berbagai konferensi internasional terkait Palestina, dimana mereka kemudian melakukan sosialisasi ke tengah masyarakat mereka.

Ali kemudian mengatakan, mereka juga melakukan sosialisasi melalui mimbar-mimbar masjid, diantaranya melalui media khutbah Jum’at. “Bahkan kami pernah turun ke jalan dalam jumlah besar ketika terjadi serangan agresi Zionis ke Jalur Gaza pada tahun 2008 lalu, dan kami berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar kala itu.” jelas Ali.

Ali kemudian memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terlaksananya forum ASPAC ini dan hal ini akan ia sampaikan ke masyakarat Maladewa.

Sementara itu, wakil dari Srilanka, Muhammad Rasyid mengatakan, bahwa paska Konferensi ASPAC di Jakarta pada tanggal 30 Juni 2011 lalu, sosialisasi kondisi Palestina di tengah masyarakat Srilanka berjalan lebih optimal. Karena selama ini menurutnya masyarakat masih melihat permasalahan Palestina sebagai permasalahan politik belaka.

Rasyid yang menjadi ketua koalisi ormas-ormas Islam yang berjuang untuk Palestina menjelaskan, bahwa dirinya sudah mengadakan sebanyak 35 kali seminar Palestina di lebih dari 25 tempat dan hal ini menurutnya sudah hampir mengkover 90% dari masyarakat Srilanka. Dan seminar ini totalnya dihadiri oleh 1100 orang. Dalam mengangkat tema Palestina ini di tengah masyarakat Srilanka, Rasyid mengaku telah menulis 9 makalah tentang Al-Quds dan Palestina dan disebar di koran nasional di Srilanka.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Kementerian Wakaf Palestina sempat datang ke Srilanka, dan mengisi seminar yang dihadiri lebih dari seribu lebih peserta. Hal ini dinilai efektif oleh Rasyid, disamping juga didukung dengan sosialisasi melalui televisi, upaya ini telah berhasil mengubah sikap dari pemerintah Srilanka terhadap kebijakan mereka untuk Palestina. Sehingga pemerintah menutup kantor dubes Israel dari Srilanka dan membuka kedutaan Palestina.

Sedangkan perwakilan dari Malaysia Azmi Hatiman mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan dengan baik mensosialisasikan permasalahan di Palestina. Azmi kemudian mengatakan bahwa aliansi NGO pro-Palestina di Malaysia dikoordintori oleh NGO Al-Aqsha Asy-Syarief. Pihaknya kemudian menurut Azmi mensosialisasikan permasalahan Palestina ini melalui film-film dokumenter Al-Quds yang kemudian ditayangkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Dan juga kami membuat power point untuk dipresentasikan ke masjid-masjid. “Semua tema difokuskan kepada ancaman proyek Yahudisasi terhadap Al-Quds,” jelas Azmi.

Perwakilan dari Philipina Anshori Abdul Malik yang turut hadir dalam acara itu mengatakan, bahwa muslim Philipina atau dalam hal ini adalah muslim Moro, sudah lebih dari 3.5 abad memperjuangkan akidahnya dari penjajahan. “Secara tabiat kami sebagai bangsa Moro sama seperti halnya nasib bangsa Palestina yang berjuang melawan penjajahan,” jelas Anshori.

Pembelaan yang cukup kuat dari bangsa Moro terhadap Palestina menurut Anshori terlihat dari sikap mereka ketika Manila dikunjungi oleh PM. Zionis Israel. Saat itu masyarakat menyambut petinggi Zionis itu dengan lemparan batu dan tomat-tomat busuk. Kondisi itulah yang kemudian membuat PM. Zionis yang semula akan berada di Philipina selama 3 hari jadi terpaksa meringkas kunjungannya menjadi satu hari.

Anshori kemudian menegaskan, bahwa umat Islam di Philipina turut merasa gembira ketika bangsa Palestina tengah merasakan kegembiraan pula. Seperti halnya ketika masyarakat Palestina bangkit dalam aksi Intifadhoh pada 1989 dan juga ketika Hamas berhasil keluar sebagai pemenang dalam pemilu Palestina, “Semua hal itu turut membahagiakan kami,” jelas Anshari. Namun ketika Palestina dirundung duka, bangsa Moro juga merasakan hal serupa, seperti ketika masjid Al-Aqsha dibakar oleh Zionis terlaknat, pada saat itu lebih dari 1000 orang muslim Moro menyatakn diri siap diberangkatkan ke Palestina. “Kami juga sempat merasakan kekecewaan yang berat, ketika bangsa Mesir justru menandatangani perjanjian Camp David, kami juga kecewa ketika utusan bangsa Palestina justru menandatangani perjanjian Oslo. Dan kami sangat bersedih ketika Gaza diagresi oleh penjajah Israel pada tahun 2008 lalu,” jelas Anshori.

“Sampai saat ini, bahwa bangsa Muslim Moro siang dan malam mengikuti perkembangan Palestina. Karena masalah Palestina ini merupakan permasalahan bangsa Moro dan bangsa lainnya. Aktivitas sosialisasi Palestina di Philipina dilakukan melalui berbagai media. Termasuk memasukkannya ke beberapa kurikulum di sekolah-sekolah,” tambahnya. (msy)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *